<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
    <title>Bali Padma Bhuwana &amp; Neny Irmasari</title>
    <link>https://budayabali.com/id/rss/author/neny-irmasari</link>
    <description>Bali Padma Bhuwana &amp; Neny Irmasari</description>
    <dc:language>id</dc:language>
    <dc:creator></dc:creator>
    <dc:rights>Copyright @2023 budayabali.com &amp; All Rights Reserved</dc:rights>
    <item>
        <title>Babad Bhuwana Winasa: Pergolakan dan Runtuhnya Kerajaan&amp;Kerajaan di Bali</title>
        <link>https://budayabali.com/id/babad-bhuwana-winasa-pergolakan-dan-runtuhnya-kerajaan-kerajaan-di-bali</link>
        <guid>https://budayabali.com/id/babad-bhuwana-winasa-pergolakan-dan-runtuhnya-kerajaan-kerajaan-di-bali</guid>
        <description><![CDATA[ Babad Bhuwana Winasa merupakan naskah babad bernomor Va. 1565/4 yang berasal dari desa Munggu, Denpasar, ditulis dalam bahasa Jawa Kuna Tengahan dengan aksara Bali, dan terdiri atas 16 lembar lontar. Naskah ini menggubah peristiwa sejarah dalam bentuk kidung berbahasa Jawa Kuna Tengahan dengan tembang Sekar Alit, yang menceritakan mulai runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pada tahun Saka 1840. Kisah diawali dengan Raja Gianyar Anak Agung Manggis dan pembantunya yang terkenal, I Made Pasek, kemudian berlanjut pada pertemuan Raja Gianyar, Menguwi, dan Badung dengan Dalem di Klungkung untuk membicarakan permusuhan dengan Apuan di bawah I Gede Gejen hingga Apuan dikalahkan. Riwayat ini kemudian menggambarkan berbagai huru-hara di Bali, seperti di Jembrana, Bongkasa, Badung, Menguwi, Karangasem, Singaraja, Payangan, Sayan, dan Buduk, serta peristiwa Tawan Karang di Sanur yang menjadi dalih Belanda menggempur Badung. Kisah berlanjut pada Puputan Badung dan keterlibatan Sanur, Intaran, Tanjung Bungkak, Kesiman, serta rakyat Badung secara keseluruhan. Pada akhirnya, huru-hara yang meluas menyebabkan kekuasaan kerajaan-kerajaan Bali diambil alih oleh Belanda, sementara para raja tetap berdaulat secara tradisional tetapi secara yuridis berada di bawah kekuasaan Belanda. Riwayat ditutup dengan kekalahan Buleleng dalam perlawanan di Jagaraga pada 1849, kekalahan Badung pada 1906, dan penguasaan Kerajaan Klungkung pada 1908. ]]></description>
        <enclosure url="http://budayabali.com/uploads/images/202609/image_870x580_6aa0e420e11f5.jpg" length="192551" type="image/jpeg"/>
        <pubDate>Sun, 25 Oct 2026 16:00:00 +0800</pubDate>
        <dc:creator>Neny Irmasari</dc:creator>
        <media:keywords></media:keywords>
    </item>
    </channel>
</rss>