Ajeran: Tanaman Liar yang Dimanfaatkan sebagai Ramuan Tradisional untuk Demam dalam Usadha Bali

Ajeran merupakan salah satu tanaman yang dikenal dalam pengetahuan pengobatan tradisional Bali atau Usadha Bali. Tanaman yang memiliki nama ilmiah Bidens pilosa L. ini sering tumbuh liar di sekitar halaman, kebun, maupun lahan terbuka dan kerap dianggap sebagai gulma. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, Ajeran ternyata dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan ramuan untuk membantu mengatasi demam.

Oct 7, 2026 - 05:09
Oct 6, 2026 - 23:27
Ajeran: Tanaman Liar yang Dimanfaatkan sebagai Ramuan Tradisional untuk Demam dalam Usadha Bali
Ajeran yang tumbuh liar di lingkungan sekitar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ajeran memiliki bagian tengah berwarna kuning serta daun berwarna hijau dengan tepi bergerigi. Karena dapat tumbuh dengan mudah, tanaman ini sering kali tidak mendapatkan perhatian khusus. Padahal, dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020, Ajeran (Bidens pilosa) tercatat dalam kelompok tanaman Usadha. Bagian tanaman yang dimanfaatkan secara tradisional antara lain daun serta akar dan daun, dengan salah satu penggunaannya untuk demam.

Daun dan bunga Ajeran (Bidens pilosa L.) (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pemanfaatan Ajeran menunjukkan bagaimana masyarakat Bali sejak dahulu memiliki pengetahuan mengenai tumbuhan yang berada di lingkungan sekitar. Tanaman yang terlihat sederhana dapat dikenali, kemudian dimanfaatkan menjadi bagian dari ramuan tradisional. Pengetahuan tersebut menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain tercatat sebagai tanaman Usadha, Ajeran juga terdapat dalam sumber ramuan tradisional yang digunakan untuk demam dan selesma. Dalam ramuan tersebut, Ajeran tidak digunakan sendirian, tetapi dipadukan dengan beberapa tanaman lain seperti babakan Pule, daun Sembung, dan daun Poko. Perpaduan berbagai bahan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan tumbuhan di sekitarnya sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

Bahan-bahan untuk membuat ramuan tradisional Ajeran (Sumber: Koleksi Pribadi)

 

  • Herba Ajeran (Bidens pilosa L.) sebanyak 3 gram
  • Babakan Pule sebanyak 200 mg
  • Daun Sembung sebanyak 3 gram
  • Daun Poko sebanyak 2 gram
  • Air sebanyak 130 ml

Tahap Pembuatan Ramuan Ajeran

1. Menyiapkan Ajeran

Pertama, siapkan herba Ajeran sebanyak 3 gram. Pilih bahan yang kondisinya baik dan bersihkan dari kotoran yang menempel.

Menyiapkan dan menimbang herba Ajeran (Sumber: Koleksi Pribadi)

2. Menyiapkan Bahan Pendamping

Selanjutnya, siapkan babakan Pule sebanyak 200 mg, daun Sembung sebanyak 3 gram, dan daun Poko sebanyak 2 gram. Semua bahan tersebut digunakan sebagai campuran dalam ramuan.

Babakan Pule Sebanyak 200 mg (Sumber: Koleksi Pribadi)

Daun Sembung Sebanyak 3 Gram (Sumber: Koleksi Pribadi)

Daun Poko Sebanyak 2 Gram (Sumber: Koleksi Pribadi)

3. Membersihkan Bahan

Setelah seluruh bahan tersedia, bersihkan bahan-bahan tanaman dengan hati-hati untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel.

Membersihkan bahan tanaman sebelum diolah (Sumber: Koleksi Pribadi)

4. Menyiapkan Air

Setelah bahan dibersihkan, siapkan air sebanyak 130 ml. Air tersebut digunakan dalam proses pembuatan ramuan dengan metode infus atau seduhan.

Menyiapkan air untuk proses pembuatan ramuan (Sumber: Koleksi Pribadi)

5. Melakukan Proses Infus atau Seduhan

Selanjutnya, bahan-bahan yang telah disiapkan diolah bersama air yang direbus menggunakan metode infus atau seduhan. Proses ini dilakukan untuk menghasilkan cairan ramuan dari bahan-bahan tanaman yang digunakan.

Proses pengolahan bahan Ajeran menggunakan metode infus atau seduhan (Sumber: Koleksi Pribadi)

6. Menyaring Ramuan

Setelah proses infus atau seduhan selesai, saring cairan ramuan untuk memisahkan cairan dari sisa bahan tanaman.

Menyaring ramuan Ajeran untuk memisahkan cairan dan ampas (Sumber: Koleksi Pribadi)

7. Ramuan Ajeran Siap Digunakan

Setelah disaring, ramuan Ajeran siap digunakan secara tradisional.

Ramuan tradisional Ajeran setelah selesai dibuat (Sumber: Koleksi Pribadi)

 

Sumber resep yang digunakan mencantumkan penggunaan ramuan sebanyak dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, masing-masing 100 ml. Penggunaan tersebut merupakan pemanfaatan secara tradisional, sehingga tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan medis.

Ajeran mungkin hanya terlihat sebagai tanaman liar yang tumbuh di sekitar kita, tetapi keberadaannya memiliki cerita yang lebih panjang. Tanaman ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Bali mengenali tumbuhan di lingkungan mereka dan memanfaatkannya sebagai bagian dari pengetahuan Usadha Bali.

Di tengah perkembangan pengobatan modern, pengetahuan mengenai tanaman tradisional seperti Ajeran dapat semakin jarang dikenal, khususnya oleh generasi muda. Padahal, mengenal Ajeran bukan berarti harus meninggalkan pengobatan modern. Mengenal tanaman ini berarti mengenal salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur Bali.

Dari tanaman liar menjadi ramuan, dari ramuan menjadi pengetahuan, dan dari pengetahuan menjadi warisan budaya. Inilah alasan mengapa Ajeran layak untuk kembali dikenal, terutama oleh generasi muda, agar pengetahuan mengenai Usadha Bali tidak hilang ditelan perkembangan zaman.