Kematian Bukti Abadi Kehidupan: Sarkofagus Cara Leluhur Memaknai Kematian Sejak 25.000 Tahun Lalu
Museum Sarkofagus di Desa Bedulu, Gianyar, menyimpan jejak kehidupan 25.000 tahun lalu melalui 33 peti mayat prasejarah yang pertama kali dikumpulkan oleh arkeolog R.P. Soejono. Sarkofagus terbuat dari batu padas, tidak hanya menjadi makam tetapi juga simbol status sosial dan penghormatan terhadap tokoh masyarakat. Bekal kubur seperti perhiasan, senjata, dan manik-manik yang memperlihatkan seni dan kepercayaan masyarakat Bali kuno tentang kehidupan setelah mati.
Museum Sarkofagus Bali
Museum Sarkofagus terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Museum ini diresmikan pada 27 Februari 2025 oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Fadli Zon, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah peradaban Nusantara. Museum Sarkofagus menampilkan 33 koleksi sarkofagus yang berasal dari berbagai daerah di Bali. Koleksi ini pertama kali dikumpulkan pada tahun 1958 oleh arkeolog senior Indonesia, R.P. Soejono, yang memiliki peran penting dalam penelitian arkeologi prasejarah di Indonesia. Kehadiran museum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai sarana edukasi untuk memahami sistem penguburan masyarakat Bali kuno yang berkembang sejak sekitar 25.000 tahun lalu.
Museum Sarkofagus Gianyar (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sarkofagus berasal dari kata "sarx" (daging) dan "phagein" (memakan), yang berarti memakan daging. Pengertian ini dimaksudkan karena mayat atau jasad yang diletakkan di dalamnya akan membusuk dan kemudian hilang. Sarkofagus merupakan peti mayat peninggalan budaya zaman Prasejarah. Pada masa tersebut berkembang kelompok-kelompok undagi dalam bidangnya masing-masing. Sarkofagus di Bali terbuat dari bahan batu padas dan sering disebut dengan nama "palungan" (wadah makanan ternak dari zaman purba), sedangkan di Jawa sering disebut "pendeman buda" atau "pendeman wong kalang". Kata buda atau kalang dimaksudkan untuk menyebut kuburan kuno.
Budaya penguburan dengan sarkofagus merupakan salah satu bentuk penghormatan manusia terhadap seseorang yang dikuburkan di dalamnya. Pada umumnya, yang dikuburkan dalam sarkofagus adalah seorang tokoh masyarakat (kepala suku) yang dihormati oleh masyarakat pada masa itu. Sistem penguburan dengan sarkofagus diperkirakan berasal dari Zaman Protohistori (menjelang masa Sejarah atau fase terakhir masa Prasejarah), yaitu masa Perundagian.
Penempatan mayat dalam sarkofagus yang umum di Bali ialah dalam sikap terlipat. Beberapa ahli menghubungkan sikap ini dengan posisi bayi di dalam rahim. Penempatan mayat dalam sikap lateral dilakukan dengan posisi lutut ditarik ke atas sampai ke pinggang, lengan bawah disejajarkan dengan paha, dan kepala agak merunduk. Sementara itu, pada sikap dorsal, tungkai dilipat hingga ke dagu, kedua tangan menyilang di dada, dan kepala agak tertunduk.
Sarkofagus terdiri atas wadah dan tutup yang sama dan sebangun, yang masing-masing memiliki rongga. Secara fungsi religius, pada umumnya motif hias yang ada pada sarkofagus digambarkan dalam bentuk topeng (kedok muka) dengan mulut terbuka dan lidah terjulur keluar. Motif ini mengandung makna simbolis sebagai pelindung orang yang dikuburkan di dalam sarkofagus dari gangguan roh-roh jahat, sehingga perjalanan menuju alam arwah dapat berlangsung dengan lancar.
Bentuk-Bentuk Sarkofagus dan Persebarannya
Sarkofagus di Bali dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe utama berdasarkan ukuran dan bentuknya: tipe A, tipe B, dan tipe C. Tipe A berukuran kecil dengan tonjolan di bagian depan dan belakang wadah serta tutup, tipe B berukuran sedang tanpa tonjolan, sementara tipe C berukuran besar dengan tonjolan di bagian samping wadah dan tutup.
Berdasarkan persebaran dan jumlah temuan di suatu wilayah, tipe-tipe ini dibagi lebih lanjut. Tipe A (80-148 cm) disebut tipe Bali karena tersebar luas di pulau ini. Tipe B (150-170 cm) dikenal sebagai tipe Cacang, ditemukan terutama di daerah pegunungan Bali Tengah, khususnya sekitar Desa Cacang. Tipe C (200-268 cm) disebut tipe Manuaba karena banyak ditemukan di wilayah Manuaba dan sekitarnya.
Peta Persebaran Sarkofagus di Bali (Sumber: Koleksi Pribadi)
Persebaran lokasi sarkofagus yang ditampilkan pada peta di atas didasarkan pada data titik koordinat yang telah tercatat dalam basis data cagar budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) serta data yang direkam dalam kegiatan pendataan pada tahun 2025. Namun demikian, sesuai dengan catatan hasil penelitian R. P. Soejono dan kajian lanjutan yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jumlah sarkofagus di Bali diperkirakan jauh lebih banyak daripada yang saat ini tercantum pada peta. Data yang ditampilkan masih bersifat parsial dan sangat bergantung pada hasil penelitian serta perekaman yang telah dilakukan hingga saat ini.
Bahan dan Teknik Pengerjaan
Sarkofagus umumnya terbuat dari batu padas (tufa), namun ada juga yang dibuat dari batu berbiji kerikil, breksi, batu karang, dan batu pasir. Sarkofagus tipe A (kecil) dan tipe B (sedang) biasanya menggunakan batu padas, kecuali jika bahan tersebut tidak tersedia di lokasi. Bahan ini kemungkinan diambil dari tempat penambangan lain dan diangkut ke lokasi penguburan untuk diselesaikan. Proses pembuatannya mungkin mirip dengan teknik pemahatan batu padas di Bali saat ini.
Tempat Kubur Sarkofagus (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sarkofagus dari bahan organik, seperti kayu, merupakan temuan unik di Bali. Satu-satunya sarkofagus kayu ditemukan di Situs Temukus, Desa Temukus, Buleleng. Informasi awal menyebutkan bahwa kayu sarkofagus ini memiliki aroma harum, tetapi belum ada laporan resmi atau publikasi terkait temuan ini. Saat ini, sarkofagus kayu tersebut berada dalam pengelolaan BRIN di Jakarta. Penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk menyempurnakan data sarkofagus di Bali, terutama yang berbahan organik.
Bekal Kubur
Sarkofagus di Bali umumnya berisi bekal kubur berupa benda perunggu, manik-manik kornalin, dan fragmen besi. Benda perunggu khas seperti kalung pilin, sulur, dan tajak sering ditemukan di sarkofagus kecil (tipe A) dan kadang di sarkofagus sedang (tipe B), terutama di Bali Tengah dan Bali Barat. Fragmen tembikar juga sering ditemukan di sekitar sarkofagus, kemungkinan merupakan bagian dari bekal kubur.
Jenis bekal kubur perunggu meliputi gelang tangan dan gelang kaki, anting, kapak upacara, rantai spiral, sulur, mata kalung, pelindung jari, serta sarung pergelangan. Beberapa benda ditemukan di dalam periuk di dalam sarkofagus. Manik-manik dari kelereng kaca jarang ditemukan. Penelitian menunjukkan bahwa penyertaan bekal kubur, termasuk perhiasan dan senjata, merupakan fenomena universal yang telah ada sejak zaman berburu dan meramu, berkaitan dengan kepercayaan akan kehidupan setelah mati.
Fragmen Kerangka Manusia dalam Sarkofagus (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dalam beberapa kasus, mayat dikuburkan dengan pakaian kebesaran dan mempertahankan status sosialnya di alam baka. Di Bali, sarkofagus sering ditemukan dengan bekal kubur yang sesuai dengan kemampuan pemiliknya, mulai dari gelang perunggu hingga periuk dan manik-manik kornalin. Ekskavasi di Cacang menemukan rangka manusia yang masih mengenakan gelang tangan, gelang kaki, tajak perunggu, dan fragmen benda spiral. Beberapa benda bekal perunggu dan fragmen spiral ditemukan dalam kondisi rusak atau tidak lengkap, kemungkinan karena terbuat dari bahan imitasi seperti kayu atau akibat pertukaran dengan benda sederhana.
Beberapa sarkofagus ditemukan telah terbongkar, yang diduga terjadi sejak zaman dahulu. Penduduk setempat tidak mengetahui pembongkaran tersebut, dan ada dugaan perselisihan antarsuku yang menyebabkan penjarahan isi kubur, seperti yang terjadi di Sumba. Banyak sarkofagus di Bali ditemukan dalam kondisi rusak dan hanya berisi tanah bercampur fragmen penutupnya.