Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui

Di banyak tempat di Bali, Pagerwesi berlalu dengan tenang dan sederhana. Tapi di Buleleng, ceritanya jauh berbeda. Hari suci ini justru terasa besar dan hidup sampai-sampai sering disebut sebagai “Galungan”-nya orang Buleleng. Ada sesuatu yang membuat Pagerwesi di Bali Utara tidak pernah terasa biasa. Bukan sekadar soal upacara, tapi tentang ikatan dengan leluhur, peneguhan jati diri, dan warisan keyakinan yang dijaga turun-temurun. Perayaan ini menyimpan jejak sejarah, spiritualitas, dan cara pandang hidup yang hanya bisa dipahami ketika melihatnya dari dekat. Mengapa satu hari suci yang sama bisa dirayakan dengan rasa yang begitu berbeda? Apa yang membuat orang Buleleng memperlakukannya dengan penuh kesungguhan? Di situlah letak pesona Pagerwesi yang menyimpan makna yang dalam dan membuat siapa pun ingin tahu lebih jauh.

Jan 1, 2026 - 05:52
Dec 30, 2025 - 21:38
Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui
Pura Keluarga
Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui
Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui
Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui
Munjung ke Setra: Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng yang Jarang Diketahui

Kalau mendengar kata Pagerwesi, mungkin sebagian orang langsung mengingatnya sebagai salah satu hari suci umat Hindu di Bali. Ya, benar sekali. Pagerwesi datang setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Rabu Kliwon Wuku Sinta. Nama Pagerwesi sendiri berasal dari kata pager yang artinya pagar, dan wesi yang artinya besi. Jadi maknanya, semacam pagar besi yang kuat sebagai simbol perlindungan agar manusia tetap kokoh secara batin dan tidak gampang goyah oleh pengaruh buruk.

Yang menarik, Pagerwesi ini jatuh empat hari setelah Hari Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Jadi bisa dibilang, kalau Saraswati itu waktunya menerima ilmu, maka Pagerwesi adalah momen untuk menjaga ilmu itu supaya tidak salah arah. Perayaan ini dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujudnya sebagai Sanghyang Pramesti Guru sosok guru semesta yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran.

Tapi di balik makna universal itu, ada sesuatu yang bikin Pagerwesi di Buleleng terasa berbeda. Banyak orang bilang, di daerah utara Bali ini Pagerwesi dirayakan dengan cara yang lebih meriah, bahkan sampai disamakan dengan Hari Raya Galungan.

 

Pura Keluarga (Sumber: koleksi pribadi)

“Galungan”-nya Orang Buleleng

Masyarakat Buleleng sering menyebut Pagerwesi sebagai “Galungan-nya orang Buleleng.” Bahkan ada juga istilah lokal “Pegorsi” yang khas dilafalkan oleh warga setempat. Suasananya memang mirip sekali dengan menjelang Galungan, seperti warga sibuk menyiapkan perlengkapan upacara, membuat jejaaitan, sampai ngelawar. Bedanya, di Hari Pagerwesi tidak ada kewajiban memasang penjor di depan rumah.

Tradisi ini bukanlah sesuatu yang baru dibuat-buat. Menurut cerita para tetua, kemeriahan Pagerwesi di Buleleng sudah jadi warisan turun-temurun. Bahkan, ada semacam “amanat leluhur” yang berpesan agar masyarakat Buleleng merayakan Pagerwesi dengan sungguh-sungguh sebagai simbol peneguhan diri, lahir dan batin. Tidak heran, meskipun di daerah lain Pagerwesi lebih sederhana, di Buleleng ia tampil megah dan penuh makna.

Sejarah juga ikut berperan. Buleleng pernah menjadi pusat pemerintahan di masa kolonial Hindia Belanda, yang waktu itu disebut wilayah Sunda Kecil. Dari status itu, terbentuklah identitas budaya yang kuat. Dan identitas itulah yang salah satunya tercermin lewat cara warga Buleleng merayakan Pagerwesi.

 

Natab Banten (Sumber: koleksi pribadi)

Tradisi Unik Pagerwesi di Buleleng

Kalau kita melihat lebih dekat, ada beberapa tradisi khas di Buleleng saat Pagerwesi yang jarang ditemui di daerah lain.

Penampahan Pagerwesi

Sehari sebelum Pagerwesi, warga melaksanakan Penampahan. Istilah ini biasanya identik dengan Galungan, tapi di Buleleng juga berlaku untuk Pagerwesi. Pada hari ini, masyarakat melakukan mepatung, yaitu memotong babi secara gotong royong bersama keluarga besar atau warga banjar. Dagingnya lalu diolah jadi lawar atau hidangan khas lain. Tradisi ini jelas menambah kesan hangat kebersamaan antarwarga.

Makanan Tradisonal Bali (Sumber: koleksi pribadi)

Munjung ke Setra (Ziarah Kubur)

Ini tradisi paling ikonik. Saat Pagerwesi, banyak warga Buleleng melakukan Munjung ke Setra alias ziarah ke kuburan. Mereka membawa banten khusus berisi nasi, tipat blayag, daging ayam, sayur, hingga pisang, lalu dipersembahkan untuk leluhur yang belum dikremasi. Setelah upacara, keluarga biasanya makan bersama di area kuburan. Suasananya jadi mirip piknik kecil di setra. Bagi masyarakat, hal ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk penghormatan dan doa agar leluhur tetap memberi perlindungan bagi keturunan mereka.

Munjung ke Setra (Sumber: koleksi pribadi)

Kenapa di Buleleng Begitu Spesial?

Keistimewaan Pagerwesi di Buleleng ternyata lahir dari perpaduan ajaran lama yang berkembang di wilayah ini. Di Buleleng Timur dulu sempat berkembang ajaran Siwa Pasupata, yang menekankan pengendalian diri dan keseimbangan hidup. Sementara di Buleleng Barat berkembang ajaran Buddha Mahayana, yang lebih menekankan kasih sayang. Bukannya saling bertentangan, kedua ajaran ini justru berpadu dan menciptakan “local genius” yang khas.Kombinasi itulah yang membuat perayaan Pagerwesi di Buleleng tampil berbeda, penuh kebersamaan, tapi juga sarat makna spiritual.

 

Pagerwesi Buleleng vs Daerah Lain

Kalau dibandingkan dengan wilayah Bali Selatan, misalnya Denpasar atau Gianyar, memang terlihat perbedaannya. Di sana, Pagerwesi biasanya dirayakan lebih sederhana, hanya fokus pada sembahyang di pura keluarga, tanpa tradisi penampahan ataupun ziarah. Suasananya lebih khusyuk, tidak seramai di Buleleng.