Pura Luhur Pucak Tedung: Tedung Suci di Dataran Tinggi

Tempat ibadah umat Hindu di Bali, yang dikenal sebagai Pura, dapat dikategorikan berdasarkan tujuan dan signifikansinya. Salah satu jenisnya adalah Dang Kahyangan Jagat, sebuah pura suci yang dibangun untuk menghormati para resi agung yang melakukan tapa yoga dan meditasi di lokasi tertentu. Salah satu Dang Kahyangan Jagat yang terkenal dan berkaitan erat dengan perjalanan spiritual Danghyang Nirartha di Desa Adat Sulangai adalah Pura Luhur Pucak Tedung. Pura ini ditampilkan dalam video virtual yang memberikan pengalaman visual menakjubkan tentang arsitektur, elemen sejarah, dan suasana spiritualnya, menghadirkan hubungan mendalam dengan warisan budaya Bali.

Feb 25, 2026 - 06:31
Feb 9, 2026 - 20:33
Pura Luhur Pucak Tedung: Tedung Suci di Dataran Tinggi
Pura Luhur Pucak Tedung (Sumber: koleksi obyekwisataterlengkap.blogspot.com)

Pura Luhur Pucak Tedung terletak di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Pura ini dikenal sebagai salah satu tempat peristirahatan Danghyang Nirartha selama perjalanan sucinya. Dari kompleks pura, pengunjung dapat menikmati pemandangan indah ke arah Bali Timur, Bali Selatan, dan Bali Barat, serta melihat jalur utama yang menghubungkan Baturiti dan Denpasar.

Pura Luhur Pucak Tedung memiliki tiga halaman utama: Jeroan seluas 730,77 m², Jaba Tengah, dan Jaba. Pada area Jeroan, terdapat palinggih-palinggih utama, seperti Meru Tumpang Tiga untuk Danghyang Nirartha, Meru Tumpang Tujuh yang melambangkan Puncak Beratan, serta Padmasana sebagai tahta Tuhan. Di area Jaba Tengah, terdapat Bale Kulkul dan Bale Panggungan, sementara di bagian Barat Laut pura, terdapat Pura Sekartaji yang memiliki hubungan erat dengan Pura Puncak Tedung.

Pesamuan Agung (Sumber: Koleksi Pribadi)

Salah satu ciri khas dari Pura Luhur Pucak Tedung adalah adanya hutan suci yang mengelilingi pura. Hutan ini dipercaya sebagai tempat tinggal roh penjaga yang melindungi pura dan sekitarnya. Masyarakat setempat menjaga kelestarian keanekaragaman hayati hutan ini, karena selain memiliki nilai spiritual, hutan ini juga penting untuk menjaga keseimbangan ekologi di wilayah tersebut. Pengunjung diingatkan untuk menunjukkan rasa hormat dengan mematuhi aturan adat saat memasuki hutan.

Di dalam kompleks Pura Luhur Pucak Tedung, terdapat Areal Pesamuan Agung, yang merupakan ruang khusus untuk musyawarah adat dan upacara besar. Areal ini biasanya digunakan saat piodalan besar, di mana masyarakat desa adat dan pemangku pura berkumpul untuk melaksanakan ritual bersama. Pesamuan Agung memiliki Bale Pesamuan yang besar dan mampu menampung banyak orang, dilengkapi dengan struktur arsitektur tradisional Bali yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya. Di tempat ini, keputusan penting terkait dengan upacara dan pengelolaan pura sering kali dibahas, menjadikannya pusat kegiatan spiritual dan sosial di Pura Luhur Pucak Tedung.

Patung Dang Hyang Nirartha (Sumber: Koleksi Pribadi)

Nama pura ini berasal dari kisah Danghyang Nirartha yang meninggalkan tedung (payung) sucinya di dataran tinggi sebelum melanjutkan perjalanannya. Di Pura ini terdapat Meru Tumpang Tiga sebagai penghormatan kepada beliau, serta Meru Tumpang Tujuh yang menjadi simbol Pura Puncak Beratan, yang berfungsi untuk memudahkan masyarakat memohon kemakmuran. Selain itu, Pura ini juga menjadi tempat penting untuk memohon tirtha pengentas bagi masyarakat desa adat setempat.

Pada masa kejayaan Kerajaan Mengwi di abad ke-17, Pura ini diawasi oleh Puri Carangsari sebelum tanggung jawab tersebut beralih ke Puri Petang. Kini, delapan desa adat yang terdiri dari Sulangai, Munduk Damping, Lipah, Sandakan, Angantiga, Batulantang, Kerta, dan Petang secara bergotong-royong menjaga kelestarian Pura ini. Tidak hanya masyarakat sekitar, umat dari berbagai wilayah di Bali juga datang untuk bersembahyang di sini.

Utama Mandala (Sumber: Koleksi Pribadi)

Upacara piodalan di pura ini digelar setiap enam bulan sekali pada hari Tumpek Krulut. Upacara ini diawali dengan prosesi mekiyis atau melasti ke Pura Beji. Sesajen yang dipersembahkan meliputi Banten Catur, Bebangkit, dan Peras Daksina. Pada piodalan besar, setiap palinggih diberikan sesajen khusus sesuai dengan tradisi.

Pura Luhur Pucak Tedung merupakan tempat yang kaya akan nilai spiritual, budaya, dan sejarah, menjadikannya pusat pemujaan yang sangat penting bagi masyarakat sekitar maupun umat Hindu di Bali secara umum.