Legenda Watugunung: Runtuhnya Penguasa dengan Kekuatan Tak Tertandingi

Alkisah seorang anak dari Raja Kulagiri dan Dewi Sintakasih yang bernama Watugunung. Karena ibunya kewalahan dengannya, ibunya memukul Watugunung dengan sendok nasi kemudian Watugunung memilih untuk pergi dari kerajaan. Ia tumbuh menjadi sosok yang angkuh dan sombong, namun akhirnya ia meninggal karena ingin memenuhi permintaan perempuan yang ingin dinikahinya.

May 2, 2026 - 19:45
Nov 25, 2024 - 03:16
Legenda Watugunung: Runtuhnya Penguasa dengan Kekuatan Tak Tertandingi
Legenda Runtuhnya Watugunung (Sumber : Koleksi Pribadi)

Dalam lontar Medang Kemulan dikisahkan hiduplah seorang raja yang bijaksana dan perkasa bernama Raja Kulagiri, yang memerintah di sebuah kerajaan besar dan makmur bernama Kundadwipa. Raja Kulagiri diberkahi dengan dua orang istri yang sangat cantik dan penuh kasih saying yaitu Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia.

Kehidupan di kerajaan ini berjalan dengan damai dan tenteram, hingga pada suatu hari, Raja Kulagiri memutuskan untuk pergi bertapa ke Gunung Semeru. Ia meninggalkan kerajaan dan kedua istrinya, termasuk Dewi Sintakasih yang saat itu sedang mengandung.

Waktu berlalu, dan Dewi Sintakasih merasakan kerinduan yang mendalam terhadap suaminya. Ketika kehamilannya semakin besar, ia memutuskan untuk menyusul Raja Kulagiri ke puncak Gunung Semeru. Dengan segala keberanian dan keteguhan hati, Dewi Sintakasih menempuh perjalanan yang penuh dengan tantangan.

Namun, di tengah perjalanan, ia merasakan tanda-tanda bahwa saatnya melahirkan telah tiba. Dewi Sintakasih melahirkan di atas batu besar yang datar dan anak yang dilahirkannya jatuh tepat di atas batu besar tersebut. Yang mengejutkan, bayi yang baru lahir itu tidak mengalami luka sedikit pun, namun batu besar tempat ia terjatuh terbelah menjadi dua. Bayi itu di beri nama I Watugunung.

Dewi Sintakasih setelah melahirkan I Watugunung di atas batu besar (Sumber : Koleksi Pribadi)

Atas anugerah dari Dewa Brahma, bayi ini diberkati dengan kekuatan yang luar biasa dan tak tertandingi. Dewa Brahma juga meramalkan bahwa I Watugunung akan menjadi seseorang yang sakti mandraguna, terkenal di seluruh penjuru dunia, dan tidak akan mati di tangan Dewa, Detya, Denawa, Asura, ataupun manusia. Namun, Brahma memperingatkan bahwa satu-satunya yang mampu mengalahkan dan membunuh Watugunung adalah Dewa Wisnu yang menjelma sebagai kura-kura (Kurma).

Sejak kecil, Watugunung menunjukkan tanda-tanda kekuatan dan kemauan yang melebihi manusia biasa. Salah satu ciri yang menonjol adalah napsu makannya yang sangat besar, bahkan sering kali tak terkendali. Ibunya, Dewi Sintakasih, sering kewalahan melayani permintaan makanan putranya.

Suatu hari, karena kelelahan dan tak mampu lagi menahan kesabarannya, Dewi Sintakasih memukul kepala Watugunung dengan sendok nasi. Akibatnya, kepala Watugunung terluka dan berdarah. Rasa sakit fisik dan emosional ini membuat Watugunung memutuskan untuk meninggalkan istana.

Dewi Sintakasih memukul kepala Watugunung dengan sendok nasi (Sumber : Koleksi Pribadi)

Dalam pengembaraannya, Watugunung memutuskan untuk bertapa, memohon kekuatan yang lebih besar. Doanya terkabul. Ia mendapatkan kekuatan yang luar biasa, bahkan tak tertandingi oleh siapapun di muka bumi. Namun, dengan kekuatan yang begitu besar, Watugunung justru menjadi sosok yang angkuh dan semena-mena. Ia mulai merampok makanan rakyat, menghancurkan siapa saja yang berani menentangnya. Tak ada satu pun orang yang mampu melukai atau mengalahkan Watugunung. Kerajaan demi kerajaan jatuh di bawah kekuasaannya, termasuk Kerajaan Kundadwipa, tempat asalnya.

Watugunung menjadi sosok yang angkuh dan suka merampok (Sumber : Koleksi Pribadi)

Setelah berhasil menaklukkan Kundadwipa yang merupakan tempat asal kerajaannya, Watugunung masuk ke dalam Keraajaan Kundadwipa. Watugunung melihat Dewi Sintakasih yang merupakan permaisuri Kerajaan. Watugunung sangat terpana saat melihat Dewi Sintakasih karena kecantikannya dan tidak menyadari bahwa Dewi Sintakasih merupakan ibu kandungnya. Karena sama-sama tidak mengetahui diantara ibu dan anak, melihat kecantikan yang luar biasa dari Dewi Sintakasih, menjadikan Watugunung sangat ingin sekali untuk memperistrinya.

Namun, pada suatu ketika, Dewi Sintakasih sedang mencari kutu di kepala Watugunung. Di saat Dewi Sintakasih sedang mencari kutu di kepala Watugunung, dilihatlah luka bekas pukulan sendok nasi di kepala Watugunung. Dewi Sintakasih mulai sadar bahwa laki-laki yang ingin menikahinya merupakan anak kandungnya.

Dewi Sintakasih mencari kutu di kepala Watugunung (Sumber : Koleksi Pribadi)

Dewi Sintakasih yang ingat dengan anugrah Dewa Brahma, kalau Watugunung akan bisa dikalahkan oleh kura-kura titisan Dewa Wisnu menyusun strategi agar bisa lepas dari Watugunung. Dewi Sintakasih memohon kepada Watugunung agar menjadikan Dewi Sri Laksmi yang tak lain adalah istri Dewa Wisnu untuk dijadikan madu.

Keinginan itu membuat Dewa Wisnu menjadi marah besar. Namun, kemarahan Dewa Wisnu tidak membuat Watugunung takut, tetapi malah menantang Dewa Wisnu untuk berperang. Peperangan pun tidak dapat dihindari, Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor Kurma atau kura-kura bersenjatakan cakra. Dan, sejurus kemudian Watugunung mampu dikalahkan oleh Dewa Wisnu. Dan, hari itu bertepatan dengan kekalahan Watugunung disebut sebagai Hari Watugunung Runtuh atau Kajeng Kliwon Pemelastali.

Files