Tari Leko dan Bumbung Gebyog: Tari Sakral Desa Adat Pinge
Dalam mengeksplorasi keindahan Bali, tak dapat dipungkiri bahwa tarian tradisional menjadi salah satu kekayaan budaya yang mencolok di Pulau Dewata. Setiap gerakan tarian menggambarkan warisan budaya yang kaya, mencerminkan kehidupan sehari-hari, dan memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan yang merindukan pesona tradisi Bali yang memikat. Di tengah keberagaman seni tari ini, salah satu yang mencuri perhatian adalah Tari Leko dan Bumbung Gebyog, tarian tradisional yang menghiasi kehidupan masyarakat di Desa Adat Pinge.
Desa Adat Pinge yang terletak di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan memiliki panorama alam yang khas, seperti banyaknya hamparan lahan pesawahan berundak. Selain memiliki potensi panorama alam yang indah, Desa Adat Pinge juga memiliki potensi budaya yang kaya sehingga Desa Adat Pinge dicanangkan sebagai desa wisata berbasis kemasyarakatan pada tahun 2004.
Daya tarik Desa Adat Pinge tidak hanya terletak pada pesona alamnya, melainkan juga pada keunikan tarian tradisionalnya. Tari tradisional pada desa adat merujuk pada bentuk seni tari yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dalam suatu masyarakat desa yang memiliki adat istiadat dan tradisi tertentu.
Tari tradisional di Desa Adat Pinge, seperti tari Leko dan Tari Bumbung Gebyog, membawa daya tarik tersendiri. Tarian-tarian ini menjadi cerminan dari kekayaan budaya dan sejarah masyarakat desa tersebut. Tari Leko dan Bumbung Gebyog ini masih dijaga keaslian dan dilestarikan dengan penuh semangat oleh masyarakat setempat. Keindahan tarian tersebut tidak hanya terletak pada aspek visual, tetapi juga pada keunikan dan makna yang tersemat di dalamnya.
Tari Leko Desa Adat Pinge (Sumber Photo: Kanal BuletinDewataTV)
Tari Leko dan Tari Bumbung Gebyog merupakan tarian yang disakralkan oleh penduduk setempat. Tari tersebut hanya dipertunjukkan pada hari-hari suci tertentu serta hanya boleh ditampilkan di Pura setempat saja. Namun khusus wisatawan, tarian ini memiliki satu versi yang merupakan gubahan dari versi asli, sehingga dapat ditampilkan sebagai pertunjukkan hiburan. Sehingga, tarian yang asli masih terjaga kesuciannya.
Kedua tradisional tersebut tidak hanya menonjolkan gerakan dengan keunikannya sendiri melainkan juga diiringi oleh instrumen dibuat dengan menggunakan bambu serta kostum yang digunakan cukup unik dan tradisional. Tari Leko sejenis tarian legong keraton. Sedangkan tari Bumbung Gebyog, tarian yang memiliki pakem yang berbeda.
Tari Bumbung Gebyog pakemnya tidak ada nyeledet atau gerakan mata di dalamnya. Tari Bumbung Gebyog ini adalah tarian kuno. Tarian Bumbung Gebyog ini ditarikan oleh wanita secara berkelompok yang dimana hanya boleh ditarikan oleh gadis yang belum datang bulan.
Pelestarian dari kedua tarian tradisional ini dilakukan melalui Seka Demen. Seka Demen adalah sekumpulan orang atau dapat disebut juga dengan komunitas yang dimana senang dengan seni yang berasal dari Desa Adat Pinge.
Komunitas Seka Demen tersebut yang melestarikan tarian-tarian yang ada di Desa Adat Pinge atas dasar kesadaran dan kesukaan mereka sendiri. Mereka sangat menyadari pentingnya warisan budaya tersebut. Serta mereka juga menghormati tradisi dan seni dengan penuh kesukaan dan kecintaan. Dengan penuh kesadaram, kesukaan, dan kecintaan, mereka telah menunjukkan penghargaan yang mendalam terhadap tradisi dan seni.
Melalui perpaduan keindahan Tari Leko dan Bumbung Gebyog, Desa Adat Pinge tidak hanya mengajak para wisatawan untuk menyaksikan pertunjukan yang mengagumkan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menyelami berbagai kekayaan budaya dan sejarah yang melekat erat pada masyarakat Bali. Dengan begitu, setiap langkah di Desa Adat Pinge menjadi petualangan yang tak terlupakan dalam merasakan pesona keindahan dan kearifan lokal di Pulau Dewata.