Desa Adat Taro: Jejak Sejarah Desa Adat yang Kaya Warisan Budaya

Desa Taro merupakan desa kuno di Bali yang masih banyak menyimpan warisan budaya. Desa Taro awalnya dikenal dengan nama Bhumi Sarwar Adda yang artinya segalanya. Desa Taro terletak di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, antara Kintamani di utara dan Ubud di selatan.

Aug 7, 2026 - 05:49
Aug 5, 2026 - 21:16
Desa Adat Taro: Jejak Sejarah Desa Adat yang Kaya Warisan Budaya
Desa Adat Taro ( Sumber Photo: Koleksi Redaksi)

Nama desa Taro sendiri muncul pada masa Markandya Purana. Kalimat pembukanya diambil dari Markandya Purana. Markandya lahir di India pada abad ke-4 atas restu Dewa Siwa. Ia melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, Kalimantan Timur, dan Pulau Jawa. Markandya mendapat berkah dari Dewa Siwa dan diberi  gelar Maha Yogi Markandya yang artinya 'pertapa'. Saking kuatnya Markandya, ia tidak terpengaruh oleh godaan Indra. Akhirnya Siwa keluar dan memberinya Markandhya Maha yang berarti agung, dan Yogi yang berarti petapa. Markandya memohon panjang umur  kepada Tuhan (Dewa Siwa), karena mengetahui bahwa Tuhan maha tahu dan sudah mengetahui apa yang diinginkannya.

Setelah berada di Indonesia pada abad ke-4, Yogi Markandya tiba di Pulau Kalimantan Barat dan melakukan perjalanan ke Jawa Barat. Ia melihat Gunung Damarun di sebelah timur dan tergoda oleh banyaknya monster yang ada di gunung ini, sehingga ia berlari menuju Gunung Dien dan mampu mengalahkan monster (jahat) Gunung Damarun dari Gunung Dien. Dia berakhir di Gunung Laung, Jawa Timur. Dari sini dia melihat ke arah timur dan ada sebuah cahaya yang menarik perhatiannya dan dia melihatnya dari Gunung Laung. Yang mengejutkan saya, saat itu sudah ada seorang warga bernama Wong Aga. Ia mampu memfokuskan energi 400 orang untuk menemukan cahaya di timur. Perjalanannya dilanjutkan ke Jawa Timur, dimana ia menemukan cahaya di Gunung Toh Lankil (Gunung Agung).

Atas karunia Dewa Siwa, beliau diberi kekuatan untuk mengetahui apa yang ada dan apa yang belum ada dan bahwa Gunung Agung adalah puncak pegunungan Himalaya  di India. Hutan Jawa (Panjang) begitu sakral sehingga banyak pengikutnya yang meninggal di sana. Akhirnya ia kembali ke Gunung Laung untuk beryoga dan dari yoga keduanya bersama Pangka Datu akhirnya  kembali menjemput Wong Aga. Mencapai 800 orang, ia membawa Panka Datu ke Gunung Agung dan mengajak langsung pengikutnya.

Sampai di lereng Gunung Agung menemukan tumpukan batu, mungkin saja tumpukan batu itu tempat pemujaan pengikut Beliau yang masih hidup yang pertama. Akhirnya panca datu itu ditanam di sana. Dari lereng Gunung Agung, Beliau menuju ke barat dengan pengikut-pengikutnya sampailah di Ponorajon (Penulisan). Sampai di Puncak Penulisan, Beliau berhenti sejenak, melihat ke barat. Dari  kekuatan Beliau tempat yoganya di Gunung Raung  Beliau melihat ke timur Gunung Agung.

Pura Agung Gunung Raung (Sumber Photo: Koleksi Redaksi)

Fokusnya adalah di bagian utara India, tempat Tuhan dilahirkan, dan bagian selatan India, yang mempersiapkan tempat bagi Tuhan. Akhirnya para pengikutnya diperintahkan untuk membangun rumah (penginapan) di sebelah selatan. Pendukungnya lama tidak datang ke Puncak Penurisan, sehingga ia turun dan melanjutkan perjalanan ke selatan hingga mencapai Dit Phra Sabang. Para pengikutnya datang kesana dan ditanya mengapa ia tidak datang ke Penurisan. Karena tidak ada kekurangan makanan dan minuman, tempat itu dinamakan Salwa Adda (Talo). Dari situlah dibagikan lahan untuk perkebunan subak. Sekarang disebut Desa Puakan. Kemudian dia berangkat ke Salwa Adda (Talo). Beliau melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menuju sungai Was Champuhan, dimana beliau berdoa agar Sungai Gangga Sapta (Gangga , Saraswasti, Serayu, Narmada, Yamuna, Sindhu) dari India ada disana, - Membangun sebuah kuil yang diberi nama Gunung Lua. Gunung artinya tinggi dan Lua artinya sungai. Akhirnya dia melihat ke utara asrama. Salwa Ada Utare artinya talas, sehingga desa ini dinamakan Desa Salwa Taro. Dari sana, dia membuat daftar pengikutnya yang telah meninggal dunia. Kata Banjar berasal dari kata yang berarti tinggi atau rendah. Sekembalinya bertugas, ia membangun sebuah pura di lereng Gunung Agung  yang disebut Besakih, yang berarti “keamanan”. Sekarang disebut Pura Besakih.