Antara Kata dan Rasa: Anggah-Ungguhing Basa Bali sebagai Cermin Tata Krama Masyarakat Bali
Anggah-ungguhing basa Bali adalah sistem enam tingkatan bicara dalam bahasa Bali yang mencerminkan hierarki sosial masyarakat Bali, mulai dari basa alus singgih (untuk menghormati golongan atas) hingga basa kasar (bahasa tidak sopan). Sistem ini berfungsi sebagai penanda status sosial berdasarkan wangsa dan mencerminkan nilai kesantunan serta tata krama dalam budaya Bali.
Bahasa Bali sebagai bahasa ibu masyarakat Bali memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain di Indonesia. Keunikan utama bahasa Bali terletak pada sistem tingkat-tingkatan bicara yang disebut anggah-ungguhing basa Bali. Sistem ini mencerminkan nilai-nilai kesopanan, kesantunan, dan tata krama yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bali.
Anggah-ungguhing basa Bali merupakan sistem penggunaan kata-kata dalam bahasa Bali yang disesuaikan dengan status sosial, usia, dan kedudukan antara pembicara dan lawan bicara. Sistem ini mengharuskan setiap penutur bahasa Bali untuk memperhatikan tiga hal penting yakni status dirinya, siapa mitra bicaranya, dan siapa yang dibicarakan. Kesalahan dalam penggunaan anggah-ungguhing basa dapat menimbulkan disharmoni komunikasi, ketersinggungan, bahkan konflik sosial.
Anggah-ungguhing basa Bali tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda kelas sosial dan cermin tata krama masyarakat Bali. Sistem ini tumbuh dan berkembang seiring dengan masuknya pengaruh budaya Jawa pada masa kerajaan di Bali, di mana masyarakat Bali dibagi menjadi empat wangsa yakni brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Pembagian ini menciptakan hierarki sosial yang tercermin dalam penggunaan bahasa, di mana seseorang harus menggunakan tingkatan bahasa yang sesuai dengan status sosial lawan bicaranya.
Berdasarkan nilai rasa yang dikandung oleh unsur pembentuknya, kalimat bahasa Bali dibedakan menjadi enam tingkatan yang mencerminkan gradasi kesopanan dan status sosial dalam masyarakat Bali. Keenam tingkatan tersebut yakni basa alus singgih, basa alus madia, basa alus sor, basa alus mider, basa andap, dan basa kasar.
Basa alus singgih merupakan tingkatan bahasa tertinggi yang digunakan untuk menghormati orang yang memiliki status sosial lebih tinggi. Basa alus singgih dibentuk dengan kata-kata yang memiliki nilai rasa halus dan digunakan ketika berbicara dengan atau tentang golongan triwangsa serta pejabat tinggi. Contohnya "Bapak Bupati kantun madué oka alit-alit" (Bapak bupati masih mempunyai anak kecil-kecil) yang menggunakan kata "kantun" (masih), "madué" (punya), "oka" (anak) untuk menunjukkan penghormatan tertinggi.
Basa alus madia memiliki nilai rasa halus namun lebih rendah dibandingkan alus singgih. Basa ini digunakan ketika seseorang berbicara dengan orang yang status sosialnya sejajar namun belum akrab atau dalam situasi semi-formal. Contohnya "Tiang nunasang antuk linggih Jeroné?" (Saya menanyakan status Anda?) yang menggunakan kata "tiang" (saya) dan "linggih" (kedudukan) untuk menunjukkan kesopanan tingkat menengah.
Basa alus sor digunakan untuk merendahkan diri atau ketika berbicara dengan orang yang dihormati. Tingkatan ini mencerminkan sikap rendah hati pembicara ketika berbicara dengan orang yang dihormati atau ketika menyebut diri sendiri dan keluarga. Contohnya "Titiang sampun nunas i wawu" (Saya sudah makan tadi) menggunakan kata "titiang" (saya versi rendah hati) dan "nunas" (makan versi merendah).
Ibu-Ibu Berbincang Menggunakan Basa Alus Sor (Sumber: Koleksi Pribadi)
Basa alus mider digunakan dalam komunikasi yang bersifat netral dan sering dipakai dalam forum resmi. Tingkatan ini berfungsi sebagai bahasa penengah yang dapat digunakan oleh siapa saja tanpa memandang status sosial. Contohnya "Ngiring iraga sareng-sareng ngastiti Hyang Widhi" (Mari kita bersama-sama memuja Tuhan Yang Maha Esa) yang menunjukkan sifat netral dan inklusif.
Basa andap merupakan bahasa biasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari antara orang yang status sosialnya setara. Tingkatan ini paling sering digunakan dalam komunikasi informal antarsesama tanpa mempertimbangkan hierarki sosial. Contohnya "Icang lakar ngecét témbok malu Luh" (Saya mau mengecet tembok dahulu, Luh) yang mencerminkan komunikasi kasual.
Anak Muda Berkumpul dan Mengobrol Menggunakan Basa Andap (Sumber: Koleksi Pribadi)
Basa kasar memiliki nilai rasa yang buruk dan umumnya digunakan dalam situasi emosional atau untuk menunjukkan ketidakhormatan. Penggunaan basa kasar mencerminkan hilangnya tata krama dan dapat menimbulkan konflik sosial jika digunakan dalam konteks yang tidak tepat. Contoh kalimat kasar seperti "Depang suba apang bangka polonné" (Biarkan saja agar dia mampus) atau "Men Cai ngléklék di sanggah ngaé WC?" (Kamu mengapa membuat WC di tempat suci?) menunjukkan penggunaan bahasa yang tidak menghargai lawan bicara dan dapat merusak harmoni sosial.
Keberadaan anggah-ungguhing basa Bali mengajarkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin peradaban yang memuat nilai, etika, dan filosofi hidup masyarakat penuturnya. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan revitalisasi bahasa ini harus dilakukan secara bijaksana agar sistem ini tetap terjaga ditengah masyarakat Bali.
Daftar Pustaka
Sutika, I. N. D. (2019). Penggunaan anggah ungguhing basa Bali; sebuah kesantunan dan penanda kelas sosial
masyarakat Bali. Pustaka, 19(2), 68-73.
Suwija, I. N. (2018). Tingkat-tingkatan kalimat bahasa Bali (perspektif anggah-ungguh basa). In Prosiding LP2M
– UNDHIRA BALI (pp. 227-234). IKIP PGRI Bali.