Saking Tuhu Manah Guru : Pesan Luhur Pupuh Ginanti dalam Menjawab Kekacauan Moral Bangsa

Pupuh Ginanti 'Saking Tuhu Manah Guru' merupakan warisan sastra Bali yang sarat dengan ajaran moral. Di tengah maraknya degradasi moral yang melanda bangsa Indonesia, pupuh ini hadir sebagai penawar dan solusi. Pesan yang terkandung di dalamnya tidak hanya relevan bagi masa lalu, tetapi juga penting untuk generasi sekarang dalam membangun karakter dan etika.

Feb 7, 2026 - 06:39
Dec 6, 2025 - 11:59
Saking Tuhu Manah Guru : Pesan Luhur Pupuh Ginanti dalam Menjawab Kekacauan Moral Bangsa

Tantangan Moral Bangsa Indonesia

 

Bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan serius berupa degradasi moral yang tampak dalam berbagai aspek kehidupan. Fenomena korupsi, intoleransi, kekerasan, degradasi etika generasi muda. Keadaan negara kita saat ini cukup membuat beberapa pihak khawatir. Namun ditengah kekacauan tersebut, ada permasalahan yang masih dianggap sepele, terutama oleh generasi muda, yang berdampak sangat besar bagi perkembangan negara.

Selain kekacauan yang tampak, rendahnya sikap hormat terhadap guru dan orang tua menjadi isu yang kerap menghiasi pemberitaan. Di tengah situasi ini, warisan budaya Bali berupa pupuh, khususnya Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru" hadir sebagai cerminan nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman untuk memperbaiki akhlak dan karakter bangsa.

 

Pupuh Ginanti sebagai Warisan Budaya Bali

 

Ilustrasi AI : Lirik Pupuh Ginanti - Saking Tuhu Manah Guru (Sumber : Koleksi Pribadi)

 

Pupuh Ginanti merupakan salah satu tembang macapat yang memiliki aturan baku (guru wilangan dan guru lagu) yang disebut Padalingsa. Setiap bait terdiri atas enam baris dengan pola 8i, 8a, 8i, 8a, 8u, 8a. Padalingsa berupa angka (guru wilangan) pada pupuh akan mengatur suku kata pupuh saat matembang (bernyanyi), secara tidak langsung juga menentukan panjang pupuh. Huruf (guru lagu) menunjukkan vokal pada akhir kalimat.

Contoh Padalingsa Pada Pupuh (Sumber : Koleksi Pribadi) 

Keindahan struktur ini membuatnya enak didengar sekaligus mudah diingat, karena pupuh ginanti juga termasuk ke dalam kategori "Sekar Alit", yakni karya sastra yang sering dinyanyikan anak muda. Dalam tradisi Bali, Dalam konteks yang sama, Pupuh Ginanti kerap digunakan untuk menyampaikan nasihat, ajaran etika, dan nilai kehidupan.

Lirik Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru" dan Terjemahannya

Salah satu Pupuh Ginanti yang paling dikenal dan sering disebut adalah Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru", yang berisi pesan mendalam tentang peran ilmu pengetahuan dalam kehidupan dan kewajiban dalam menghormati dan menaati guru. Berikut merupakan terjemahan dari lirik "Saking Tuhu Manah Guru" ke dalam bahasa Indonesia.

"Sang Guru dengan penuh perhatian dan kesungguhan."

"Memberikan petuah kepada muridnya."

"Pengetahuan bagaikan senjata."

"Yang dapat digunakan sehari-hari."

"Terutama untuk menyambung hidup,"

"mencari penghidupan selagi kamu masih hidup."

 

Pesan Moral dalam Pupuh Ginanti

 

Lirik pupuh ini menekankan pentingnya menghargai ilmu, ketulusan hati dalam menghormati guru. Kita diajarkan sebagai manusia untuk menghargai ilmu pengetahuan yang telah diberikan kepada kita oleh guru - guru kita, karena ilmu - ilmu tersebut kelak akan dipergunakan dalam kehidupan sehari - hari, menyambung hidup dan menjadi orang yang lebih baik, baik dari secara jasmani maupun rohani.

Selain itu, terselip pula sebuah pesan kepada semua pembaca; bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di sekolah, melainkan juga orang tua, pemimpin, dan siapa pun yang membimbing dalam kehidupan. Dengan hanya satu kalimat, Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru" mampu menyampaikan pesan tentang betapa tulusnya seorang guru memberikan ilmu kepada muridnya. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar haruslah menghormati dan menaati nasehat serta wejangan yang diberikan. Dengan menaati dan menghormati guru, seseorang diajarkan untuk memiliki kerendahan hati, disiplin, dan sikap menghargai ilmu. 

Relevansi Pupuh Ginanti dengan Kondisi Bangsa Saat Ini

Makna ini sangat relevan dengan kondisi sekarang, ketika banyak anak muda mulai kehilangan rasa hormat terhadap figur otoritas. Pupuh ini mengingatkan bahwa tanpa sikap hormat pada guru, ilmu tidak akan membawa berkah, dan moralitas pun akan kehilangan arah. Tampak dari beberapa berita belakangan ini yang menampakkan murid - murid yang kerap membangkang bahkan mengancam guru mereka apabila dinasehati. 

Jika dikaitkan dengan situasi Indonesia saat ini, Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru" dapat menjadi penawar degradasi moral. Ajaran yang terkandung di dalamnya mendorong setiap orang untuk kembali pada nilai etika, menghargai ilmu, serta menempatkan guru dan orang tua sebagai teladan hidup daripada memandang mereka hanya sebagai orang yang suka mengatur. Dengan menanamkan kembali nilai luhur dari pupuh ini, masyarakat Indonesia dapat menumbuhkan karakter bangsa yang lebih jujur, disiplin, dan beretika. Pendidikan formal dan nonformal dapat menjadikan pupuh sebagai media pembelajaran karakter.

 

Nilai Abadi Pupuh Ginanti Yang Wajib Di Preservasi

 

Dapat dikatakan Pupuh Ginanti "Saking Tuhu Manah Guru" adalah warisan sastra Bali yang menyimpan pesan moral abadi. Nilai-nilai luhur yang diajarkannya mampu menjadi cermin sekaligus obat bagi kekacauan moral yang melanda bangsa saat ini. Dengan menghidupkan kembali pupuh ini melalui pendidikan, sanggar budaya, maupun kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia diajak untuk kembali menegakkan etika dan moralitas yang menjadi dasar peradaban, dan bahkan dampak membentuk struktur yang lebih kuat dari sebelumnya.