Lontar Geguritan Jayaprana: Kritik Sosial atas Kekuasaan dan Ketidakadilan
Di balik keindahan bahasa dan sastra Bali yang penuh irama, tersimpan sebuah kisah yang lahir dari keresahan masyarakat terhadap penguasa, yakni Lontar Geguritan Jayaprana. Karya klasik ini tidak hanya menuturkan kisah cinta yang berakhir tragis, melainkan juga menghadirkan kritik sosial yang tajam atas kesewenang-wenangan kekuasaan. Seperti sesonggan yang menyimpan petuah leluhur, geguritan ini mengajarkan bahwa cinta dan kesetiaan kerap tak berdaya di hadapan nafsu dan ambisi penguasa.
Tokoh utama dalam kisah ini adalah Jayaprana, seorang pemuda yang hidup sederhana dan berhati mulia. Jayaprana kemudian diangkat menjadi abdi kerajaan dan dinikahkan dengan gadis pujaannya, Layonsari. Namun, kebahagiaan itu berbalik menjadi duka ketika sang raja sendiri terpikat pada Layonsari. Tak mampu menahan nafsu, penguasa menggunakan kedudukannya untuk menyingkirkan Jayaprana. Dengan sebuah surat perintah, raja menyamarkan niat jahatnya. Hal ini tergambar dalam bait ke-109 lontar, yang berbunyi:
“Temuli raris kapaca, Salinging surate mangkin, Ya te nani Jayaprana, tuara sedeng bakal pupu, majalan nani pang melah, ne ne jani, Konkon kola ngamatiang.”
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
“Lalu segeralah dibacanya, Adapun isi surat itu: ‘Hai, kau Jayaprana,tak layak kau pelihara, berjalanlah kau baik-baik, saat ini, Keperintahkan membunuhmu.’”
Potongan bait Lontar Geguritan Jayaprana (Sumber: Koleksi Pribadi)
Bait ini menyingkap dengan jelas wajah ketidakadilan seorang abdi yang setia justru dikorbankan demi kepentingan pribadi raja. Kritik yang disampaikan begitu halus namun pedih, karena kekuasaan yang seharusnya melindungi rakyat, justru menjadi alat penindasan.
Lontar Geguritan Jayaprana diperkirakan lahir pada masa kerajaan-kerajaan Bali sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19, ketika sastra berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan moral dan kegelisahan sosial. Dengan latar istana yang megah, geguritan ini sesungguhnya sedang menyingkap rapuhnya keadilan dalam struktur kuasa. Tidak mengherankan bila kisah ini tetap hidup, karena pesannya melampaui zamannya bahwa kekuasaan tanpa moral adalah sumber penderitaan.
Lontar Jayaprana di Museum Gedong Kirtya (Sumber: Koleksi Pribadi)
Hingga kini, kisah Jayaprana dan Layonsari diwariskan melalui lontar beraksara Bali maupun melalui tradisi lisan yang ditembangkan dalam berbagai acara adat. Kelestarian geguritan ini membuktikan bahwa nilainya tak pernah lekang oleh waktu. Sebagian besar naskah Lontar Geguritan Jayaprana kini disimpan di pusat-pusat pelestarian lontar, salah satunya di Museum Gedong Kirtya yang berlokasi di Singaraja.