Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori di Desa Belimbing: Tempat untuk Memohon Keselamatan dan Kesejahteraan

Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori, terletak di Banjar Pemudungan, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Pura ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang diyakini sebagai tempat yang dijadikan oleh Naga Rarik untuk memasuki Sapta Petala, yaitu menyatu dengan Ibu Pertiwi atau Moksa. Kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah terbentuknya Pura ini, yaitu pertempuran antara Naga Rarik dengan Naga Gombang yang dimenangkan oleh Naga Rarik. Dengan keindahan alamnya, Pura Luhur Mekori bukan hanya sekedar tempat ibadah bagi umat Hindu, tetapi juga destinasi spiritual yang patut dikunjungi.

Jun 14, 2026 - 05:46
Jun 13, 2026 - 21:48
Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori di Desa Belimbing: Tempat untuk Memohon Keselamatan dan Kesejahteraan
Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori merupakan salah satu tempat suci umat Hindu di Bali yang terletak di Banjar Pemudungan, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Lokasinya yang strategis di jalur utama Pupuan-Tabanan membuat pura ini mudah dijangkau oleh siapa saja. Dikelilingi oleh hutan tropis yang asri, keindahan alam di sekitar pura senantiasa dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai kawasan yang memikat secara visual dan spiritual. 

Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori ditemukan sekitar tahun 1700 sebelum masehi dan terbentuknya pura ini menyimpan sejarah yang unik. Menurut kepercayaan lokal, nama “Mekori” awalnya berasal dari "Mas Kori", di mana beberapa orang dengan kemampuan supranatural melihat gapura Pura Luhur Mekori seolah terbuat dari emas. Di sebuah desa kecil bernama Kentel Gumi, hiduplah sepasang suami istri sederhana bersama dua anak mereka. Kehidupan mereka berubah ketika sang ibu kehilangan kapaknya di hutan dan bertemu seekor ular besar yang memegang kapak itu. Terikat janji pada alam bahwa jika yang mengambil kapaknya adalah perempuan, maka ia akan menjadi saudarinya namun jika laki-laki ia akan menjadi istrinya. Kemudian ia menjadi istri ular tersebut di bawah pengaruh guna-guna sang ular. Anak-anaknya merasa ada yang aneh dengan ibunya, hingga sang anak laki-laki menemukan lima telur ular di lumbung padi. Karena lapar, ia menggoreng salah satu telur yang kemudian membawa keanehan, kulitnya berubah menjadi sisik ular. Kemudian anak laki-laki itu berubah menjadi makhluk setengah ular yang kini dikenal sebagai Naga Rarik.

Sang ayah, marah dan kecewa, mengusir istrinya. Melalui tapa brata, ia mendapat petunjuk bahwa anak-anaknya akan menjadi pelindung umat jika menemukan Puser Jagat, pusat alam semesta. Naga Rarik kemudian mengalahkan musuhnya, Naga Gombang, dan bersama adiknya, Ayu Mas Sari, memulai perjalanan mencari Puser Jagat. Dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah pasar. Naga Rarik merasa telah mencapai Puser Jagat, memutuskan untuk moksa dan meninggalkan bekas lubang sebagai tanda. Adiknya, yang kembali dari membeli makanan mendengar sabda untuk bersemedi di tempat itu juga. Ayu Mas Sari pun moksa, menyatu dengan alam semesta. Di lokasi yang dimana mereka moksa, tumbuh Pohon Bunga Soka berwarna oranye yang dikenal sebagai Soka Bang dan kini pohon ini dianggap suci oleh masyarakat. Pohon ini menjadi simbol pengorbanan, kesetiaan, dan spiritualitas, serta digunakan dalam upacara adat di Pura Luhur Mekori sebagai bagian dari warisan kisah Naga Rarik dan Ayu Mas Sari.

Keunikan dan kesakralan Pura Luhur Mekori menjadikannya sangat dihormati dan dipercaya memiliki aura magis yang kuat. Di kawasan ini juga terdapat kawanan monyet yang dilindungi, dengan populasi yang cukup banyak dan sering terlihat berkeliaran di sekitar pura. Kehadiran satwa-satwa ini semakin memperkuat harmoni antara alam dan spiritualitas, menambah daya tarik bagi siapa pun yang mengunjungi tempat ini.

Pelinggih Persembahyangan bagi Pengendara (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Sebelum memasuki pura, terdapat pelinggih yang merupakan penyawangan Ida Bhatara dan menjadi tempat untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan terutama untuk pengendara yang melintasi jalur tersebut. Pengendara yang beragama Hindu wajib untuk mampir dan menghaturkan canang ataupun sekedar mencakupkan tangan, berdoa memohon keselamatan agar dalam perjalanan dijauhkan dari gangguan dan halangan. Bagi pemedek yang ingin tangkil dan melakukan persembahyangan, wajib untuk sembahyang di tempat ini terlebih dahulu sebelum masuk ke Pura pertama dan Pura Luhur.

Pintu Masuk Pura Pertama (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Setelah melewati pelinggih yang merupakan penyawangan Ida Bhatara untuk memohon keselamatan bagi pengendara, terdapat pura utama yang pada pintu masuk memiliki dua patung harimau yang dipercaya sebagai pengawal Ida Bhatara yang bersemayam di pelinggih Pura pertama. Harimau ini sering kali melambangkan kekuatan, keberanian, dan kewibawaan. Sebagai pengawal, harimau ini dianggap mampu menangkal energi negatif dan melindungi kesucian pura dari gangguan baik fisik maupun spiritual dan dengan adanya patung ini, umat yang datang diingatkan untuk menjaga sikap, pikiran, dan perbuatan agar tetap dalam keadaan suci saat memasuki area pura.

Pelinggih di Pura Pertama (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Setelah melewati pintu masuk yang terdapat dua patung harimau tersebut, sebelum menuju pura inti yaitu pura luhur, para pemedek diwajibkan terlebih dahulu melakukan persembahyangan di pura pertama yang merupakan tempat berstananya Ida Bhatara Ratu Nyoman Wayah. Menurut penjelasan pemangku yang memandu, Ida Bhatara Ratu Nyoman Wayah dihormati sebagai patih atau penjaga Pura Luhur Mekori. Oleh karena itu, setiap orang yang hendak melakukan persembahyangan di Pura Luhur Mekori diwajibkan untuk memohon izin melalui persembahyangan di pura pertama ini agar perjalanan menuju pura inti berjalan dengan tenang dan selamat.

Jalan Menuju Pura Inti (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Kemudian setelah melewati pura pertama, terdapat jalan untuk menuju ke pura utama yang merupakan pusat dari Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori. Pura ini terletak di kawasan hutan tropis yang keindahannya tetap lestari berkat kesadaran masyarakat setempat dalam menjaga dan melestarikan lingkungannya. Hutan yang mengelilingi pura ini menjadi pelindung alami bagi tempat suci tersebut, sekaligus menambah aura mistis dan sakral yang dirasakan oleh setiap orang yang berkunjung. Keanekaragaman hayati yang ada di hutan ini, mulai dari pepohonan besar yang sudah berusia ratusan tahun hingga semak-semak hijau yang tumbuh subur, memberikan kesan bahwa alam di sekitar Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori adalah anugerah yang perlu dijaga dengan penuh rasa syukur.

Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Setelah menempuh perjalanan yang dipenuhi dengan keindahan kawasan hutan tropis, sampailah di Pura Kahyangan Jagat Luhur Mekori. Dalam kisah perjalanan sang Naga Rarik bersama adiknya yaitu Ayu Mas Sari yang menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya pura ini, terdapat pelinggih khusus untuk menghormati sang Naga Rarik. Pelinggih tersebut dikenal dengan gelar Ida Ratu Bagus Made Mentang Yuda yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai manifestasi Ida Bhatara yang membawa kesejahteraan, kemakmuran, serta perlindungan bagi para pemujanya. Selain itu, pelinggih untuk Ayu Mas Sari juga didirikan di sebelah pelinggih tersebut guna untuk menghormati kesetiaan beliau kepada sang kakak.