Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung: Jejak Tradisi dan Budaya Bali Pura Penataran Agung Desa Pangsan

Bali merupakan Provinsi yang dikenal dengan nama Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. sebutan ini memiliki arti dan makna tersendiri sebagai identitas Pulau Bali. Bali merupakan pulau yang sangat terkenal akan keindahan alam, beragam budaya, tradisi, dan ritual keagamaan yang kental mempengaruhi hampir setiap unsur dan gerak kehidupan masyarakat Bali. Pulau Bali didominasi oleh umat beragama Hindu yang memiliki kepercayaan dan mengenal adanya leluhur dan para dewa. Dewa adalah sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan banyak sinar suci, anugerah dan berkah kepada seluruh makhluk hidup di dunia. Selain itu, Bali juga sering disebut sebagai Pulau Seribu Pura, yang memiliki arti sangat banyak terdapat pura-pura di seluruh penjuru dan wilayah di Bali. Pura ini merupakan tempat suci sebagai stana dari para leluhur dan para dewa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta pura juga merupakan tempat persembahyangan bagi para umat beragama Hindu. Pulau Bali memiliki banyak bangunan suci dan persembahyangan seperti Pura. Adapula beberapa jenis pura di Bali, yaitu Pura Tri Kahyangan atau biasa disebut Pura Kahyangan Tiga, Pura Sad Kahyangan, Pura Dhang Kahyangan, Pura Jagatnatha, Pura Penataran Agung, Pura Leluhur atau biasa disebut Pura Kawitan dan yang lain-lain. Jenis-jenis pura tersebut memiliki kisah dan sejarah tersendiri. Terdapat pula beberapa jenis pura yang tidak semua desa di Bali memilikinya. Salah satu jenis pura tersebut yaitu Pura Penataran Agung. Salah satu Penataran Agung yang ada di Bali adalah Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung.

Jul 28, 2026 - 05:29
Jul 25, 2026 - 22:57
Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung: Jejak Tradisi dan Budaya Bali Pura Penataran Agung Desa Pangsan
Pura Penataran Agung Sekar Mukti (Sumber : Koleksi Sendiri)

Bali merupakan Provinsi yang dikenal dengan nama Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. sebutan ini memiliki arti dan makna tersendiri sebagai identitas Pulau Bali. Bali merupakan pulau yang sangat terkenal akan keindahan alam, beragam budaya, tradisi, dan ritual keagamaan yang kental mempengaruhi hampir setiap unsur dan gerak kehidupan masyarakat Bali.  Pulau Bali didominasi oleh umat beragama Hindu yang memiliki kepercayaan dan mengenal adanya leluhur dan para dewa. Dewa adalah sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan banyak sinar suci, anugerah dan berkah kepada seluruh makhluk hidup di dunia. Selain itu, Bali juga sering disebut sebagai Pulau Seribu Pura, yang memiliki arti sangat banyak terdapat pura-pura di seluruh penjuru dan wilayah di Bali. Pura ini merupakan tempat suci sebagai stana dari para leluhur dan para dewa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta pura juga merupakan tempat persembahyangan bagi para umat beragama Hindu. Pulau Bali memiliki banyak bangunan suci dan persembahyangan seperti Pura. Adapula beberapa jenis pura di Bali, yaitu Pura Tri Kahyangan atau biasa disebut Pura Kahyangan Tiga, Pura Sad Kahyangan, Pura Dhang Kahyangan, Pura Jagatnatha, Pura Penataran Agung, Pura Leluhur atau biasa disebut Pura Kawitan dan yang lain-lain. Jenis-jenis pura tersebut memiliki kisah dan sejarah tersendiri. Terdapat pula beberapa jenis pura yang tidak semua desa di Bali memilikinya. Salah satu jenis pura tersebut yaitu Pura Penataran Agung. Salah satu Penataran Agung yang ada di Bali adalah Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung.  

Nista Mandala Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung (Sumber : Koleksi Sendiri)

Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung merupakan Pura Khayangan Jagat yang berlokasi di banjar Sekarmukti lan Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Pura ini dikelola oleh masyarakat dari Banjar Sekarmukti dan Banjar Pundung yang berjumlah sekitar 460 KK. Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung memiliki beberapa keunikan antara lain adanya pengayah khusus dari anak muda Banjar Sekarmukti lan Pundung yang dinamakan dengan "Kekembangan". Selain itu, di Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung memiliki tradisi yang sangat unik dan sakral yang dilaksanakan setiap hari Purnama atau 30 hari sekali yang dinamakan dengan "Tradisi Lampad". “Lampad” yang berarti sayur-sayuran, yang dimana tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur oleh masyarakat Banjar Sekarmukti lan Pundung kepada sesuhunan yang berstana di Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung.

 

Mengenai sejarah Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung, berdasarkan sastra atau babad tidak ada yang menjelaskan secara jelas terkait pembangunan atau sejarah dari pura ini. Tetapi berdasarkan cerita turun-temurun dari orang tua dan masyarakat di Desa Pangsan terkait dengan sejarah Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung, seperti pada umumnya jika kita berbicara mengenai pura adalah pasti ada Pura, Puri, dan Purana. Jika ada Pura pasti ada Puri dan pasti ada Purana. Terkait dengan sejarah Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung, diceritakan ada rakyat yang berjumlah delapan orang beristirahat disana, di perkebunan yang pada masa itu adalah perkebunan milik Puri.

Madya Mandala Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung (Sumber : Koleksi Sendiri)

Pada saat mereka beristirahat disana, ada salah satu masyarakat di desa yang melihatnya. Lalu masyarakat yang melihat delapan orang tersebut beristirahat di perkebunan milik Puri memberi tahu kepada Raja yang berstana di Jero Oka. Masyarakat tersebut memberi tahu kepada Raja, bahwa ada orang yang tak dikenal sedang beristirahat di perkebunan milik Puri dan juga mereka membawa Tigasana. Ketika Raja diberikan informasi demikian oleh salah satu masyarakat desa setempat, lalu Raja pun mendatangi orang yang tak dikenal tersebut. Pada saat Raja bertemu dengan orang-orang tak dikenal tersebut, Raja pun bertanya “kalian berasal darimana?” “apa itu yang kalian bawa?” Ternyata yang dibawa oleh delapan orang tersebut adalah Pelinggih Sesuhunan dari Sekarmukti Wetan. Karena pada saat itu sedang terjadi peperangan antara pasukan Bangli dan pasukan Mengwi yang sering terjadi tidak kecocokan. Karena salah satu pasukan merasa terdesak, akhirnya rakyat yang berjumlah delapan orang ini pun mengungsi dan akan menuju Mengwi. Lalu pada akhirnya, senjata yang dibawak oleh rakyat yang tidak dikenal tersebut diletakkan di bagian atas sebelah timur, yang dimana tempat Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung yang sekarang.

 

Mengenai tentang pemaksan Pura Penataran Agung ini, pada awalnya hanya disebut sebagai Pura Pemaksan yang dikelola oleh rakyat dari Sekarmukti Utara dan keturunan dari I Gusti Ngurah Abian. Lama-kelamaan, seiring berkembangnya zaman, pelinggih-pelinggih dan pesimpangan-pesimpangan sesuai dengan sejarah perjalanan leluhur Ida Bhatara Shri Arya Sentong, sehingga Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung pelinggihnya semakin lengkap. Akhirnya Pura Penataran Agung Sekarmukti lan Pundung disebut sebagai Pura Kahyangan Jagat. Yang mengempon atau bertanggung jawab dan mengelola Pura ini adalah berjumlah dua banjar. Pada awalnya hanya ada Banjar Sekarmukti, namun seiring berkembangnya zaman terjadilah pemekaran banjar.

Pelinggih-pelinggih ring Utama Mandala Pura Penataran Agung Sekar Mukti lan Pundung (Sumber : Koleksi Sendiri)

Selain Tradisi Lampad, di banjar Sekarmukti juga terdapat sebuah tradisi yang di turunkan turun temurun dari nenek moyang saya. Tradisi tersebut dinamakan upacara Ngendar. Apakah anda tau apa itu “Ngendar”? mungkin kata ini masih asing bagi sebagian orang terutama bagi orang yang bukan penduduk Banjar Sekarmukti. “Ngendar berasal dari akar kata “Endar” yang artinya bubur, diberi awalan ‘ng’ sehingga menjadi kata “Ngendar” yang akhirnya memiliki arti membuat bubur”.  Tradisi ini adalah suatu rentetan upacara dari piodalan di pura Nataran Agung Sekarmukti. Uniknya upacara ini adalah , pada saat upacara Ngendar ini tidak diperbolehkan orang dewasa ikut melakukannya kecuali Daha dan Teruna, karena jika ada orang dewasa yang ikut maka akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.