Pecahnya Payuk Pare Tirta Kamandalu: Tercetuslah Pura Belahan Alas Harum Desa Adat Basangambu
Di Desa Adat Basangambu, Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, berdiri sebuah tempat suci bernama Pura Belahan Alas Harum. Cerita tentang pura ini masih hidup dan diceritakan turun-temurun oleh masyarakat setempat, mulai dari kisah asal-usulnya yang berkaitan dengan perjalanan para dewa dan Tirta Kamandalu, hingga kehidupan keagamaan yang berlangsung di sana hingga kini.
Lingkungan Pura Belahan Alas Harum memiliki suasana yang sejuk dan tenang. Di sekitar pura masih terdapat berbagai pepohonan yang tumbuh rindang sehingga suasananya terasa memberikan kesan seperti berada di tengah hutan. Lingkungan di sekitar pura juga seolah-olah menggambarkan makna dari nama pura itu sendiri yaitu Alas Arum atau hutan yang harum.
Di dalam kawasan pura terdapat beberapa bangunan suci atau pelinggih yang memiliki tempat dan fungsi masing-masing dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Pelinggih tersebut antara lain Pelinggih Pengaruman, Pewedan, Peselang, Bale Catur, Bale Gong, Bale Lantang, Pranggungan, Pelinggih Ratu Lingsir, Padmasana, Penyucian, Pelinggih Ratu Gede, Pelinggih Arca, Linggayoni, dan Bale Kulkul. Berbagai bangunan tersebut menjadi bagian dari kawasan Pura Belahan Alas Harum dan digunakan dalam berbagai rangkaian kegiatan keagamaan masyarakat.
Pura Belahan Alas Harum (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Di balik keberadaan Pura Belahan Alas Harum, terdapat sebuah kisah yang menjadi bagian penting dari cerita masyarakat, yaitu kisah pecahnya Payuk Pare Tirta Kamandalu. Cerita ini berkaitan dengan perjalanan Bhatara Indra dan para laskarnya dalam mengejar Sri Mayadenawa.
Pada saat itu, para dewa sedang melakukan perjalanan setelah terjadinya peperangan dengan Sri Mayadenawa. Dalam rangkaian perjalanan tersebut, seorang utusan ditugaskan untuk memohon kepada Tirta Kamandalu. Setelah mendapatkan tirta tersebut, utusan kemudian kembali menuju tempat Bhatara Indra berada. Namun, dalam perjalanan, tepatnya di suatu tempat yang berada di sebelah timur laut dari tempat Bhatara Indra Aguling, terjadi sebuah peristiwa. Payuk Pare, tempat Tirta Kamandalu, pecah sehingga tirta yang berada di dalamnya tumpah.
Tumpahnya Tirta Kamandalu diyakini membawa perubahan pada kawasan tersebut. Hutan tempat tirta itu tumpah menjadi harum semerbak. Dari peristiwa inilah kemudian tempat tersebut dikenal dengan sebutan Alas Arum. Di kawasan hutan tersebut kemudian berdiri Pura Belahan Alas Harum yang dipercaya sebagai salah satu Pura Dankahyangan. Setelah kejadian tersebut, utusan kembali dan menceritakan peristiwa tumpahnya Tirta Kamandalu kepada Bhatara Indra. Ia juga menampilkan bukti berupa ambu, yaitu tali dari Payuk Pare yang telah pecah.
Kisah Tirta Kamandalu kemudian berlanjut ketika Bhatara Indra membawa tedung dan umbul-umbul menuju arah barat. Setelah ditancapkan, muncul muncratan air atau tirta dari tempat tersebut. Tirta itu kemudian dipercikkan dan diminum oleh para prajurit Bhatara Indra. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, tirta tersebut membuat para laskar yang sebelumnya gugur dapat hidup kembali dan kembali siap melanjutkan perjalanan untuk mengejar Mayadenawa. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Pura Tirta Empul.
Rangkaian cerita tersebut membuat pecahnya Payuk Pare Tirta Kamandalu memiliki hubungan dengan beberapa tempat yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat, yaitu Pura Belahan Alas Harum dan Pura Tirta Empul. Kisah tersebut juga menjadi bagian dari warisan yang terus diceritakan oleh masyarakat Desa Adat Basangambu.
Selain kisah tentang Tirta Kamandalu, Pura Belahan Alas Harum juga memiliki cerita lain yang masih dipercaya oleh masyarakat hingga saat ini. Lingkungan pura yang masih dipenuhi pepohonan dan terasa seperti hutan membuat kawasan ini dipercaya memiliki kehidupan yang tidak semuanya dapat dilihat secara kasat mata. Salah satu cerita yang sering disampaikan oleh masyarakat adalah mengenai kemunculan kijang mas di sekitar kawasan pura. Beberapa warga menceritakan bahwa mereka pernah melihat sosok kijang berwarna keemasan di kawasan pura Belahan Alas Harum.
Pura Pemasaran (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Pura Belahan Alas Harum berdampingan dengan Pura Pemasaran yang tepat berada di pemedal Pura, yang dimana Pura Pemasaran juga memiliki cerita tersendiri. Pura ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat yang dahulunya merupakan pasar suci Ida Bharata. Keberadaan Pura Pemasaran juga memiliki hubungan dengan kegiatan keagamaan yang berlangsung di Pura Belahan Alas Harum.
Ketika dilaksanakan upacara atau odalan di Pura Belahan Alas Harum, odalan di Pura Pemasaran juga tetap dilaksanakan. Tradisi tersebut masih dijaga oleh masyarakat hingga saat ini sebagai bagian dari warisan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan bahwa kedua pura tersebut tidak hanya berdekatan secara lokasi, tetapi juga memiliki keterkaitan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Desa Adat Basangambu.
Baris Pugpug (Sumber Foto: Koleksi Banjar)
Odalan di Pura Belahan Alas Harum dilaksanakan setiap Purnama Sasih Kapat. Dalam rangkaian pelaksanaan odalan tersebut terdapat tradisi yang cukup khas, yaitu Baris Pugpug. Baris Pugpug merupakan iring-iringan sekelompok anak laki-laki yang membawa tombak dari carang pugpug atau enau. Mereka berjalan dan terkadang berlarian sambil mengeluarkan teriakan-teriakan khas seperti “hore” atau “oi”. Barisan ini berada di bagian depan untuk memulai perjalanan Pralingga dewa-dewi beserta sarana piodalan.
Iringan Baris Pugpug selalu menyertai perjalanan Ida Bharata Alas Arum, terutama ketika melaksanakan mancut tirta dan mepapada. Suasana pun menjadi lebih meriah dengan suara langkah, teriakan anak-anak, dan upacara iring-iringan sarana. Tradisi ini menjadi salah satu ciri khas dalam pelaksanaan odalan di Pura Belahan Alas Harum.
Keberadaan Pura Belahan Alas Harum tidak hanya dapat dilihat dari bangunan sucinya, tetapi juga dari cerita dan tradisi yang masih hidup di dalam masyarakat. Kisah pecahnya Payuk Pare Tirta Kamandalu, hutan yang menjadi harum, hingga tradisi Baris Pugpug menjadi bagian dari cerita yang saling berkaitan. Semua itu menjadikan Pura Belahan Alas Harum memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat Desa Adat Basangambu dan menjadi warisan yang terus dijaga hingga saat ini.