Pesona dan Kekhasan Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan dalam Seni Tari Bali

Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan adalah jenis seni tari Bali yang mempunyai ciri gerak dan penyampaian yang unik. Keistimewaan ini tampak dari cara penari menggambarkan karakter tamulilingan melalui gerakan yang dinamis dan detail. Di balik pertunjukannya, ada perjalanan panjang yang membuat gaya Peliatan tetap menarik untuk dikenal sampai sekarang.

Aug 27, 2026 - 05:24
Aug 27, 2026 - 13:06
Pesona dan Kekhasan Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan dalam Seni Tari Bali
Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di bawah langit malam Minggu, halaman Puri Agung Peliatan telah dipenuhi para pemain gamelan di sisi kiri dan kanan. Malam itu akan ada beberapa pertunjukan tari. Salah satu yang ditunggu adalah Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan.

Saat tarian dimulai, penonton langsung tertuju pada kedua penari. Gerakan mereka gesit dan dinamis mengikuti iringan gamelan. Gerakan kepala yang tegas, jemari yang bergerak cepat (jeriring), serta interaksi penari laki-laki dengan perempuan membuat karakter Tari Oleg Tamulilingan terasa jelas. 

Menyaksikan pertunjukan secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya menonton melalui layar. Lalu, apa yang membuat Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan mempunyai kekhasan?

Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan oleh seorang seniman bernama I Ketut Marya atau I Mario yang berasal dari Tabanan. Tarian ini pertama kali dipentaskan pada tahun 1952 oleh Gusti Ayu Raka Rasmi dan Sampih. Awalnya, tarian ini disebut Tari Oleg Tamulilingan Pengisap Sari

Proses terciptanya tarian ini sangat terkait dengan perkembangan seni di Peliatan. Saat itu Peliatan mendapatkan kesempatan untuk membawa misi seni ke luar negeri. John Coast merupakan seseorang yang terlibat dalam perjalanan seni Bali ke Eropa dan Amerika. Ia kemudian menginginkan sebuah karya tari baru. 

Pengerjaan karya ini melibatkan Anak Agung Gede Mandera yang bertanggung jawab di bagian musik pengiring dan I Mario sebagai koreografer tari. Selama proses berlangsung, tari ini mendapat inspirasi dari buku tari klasik balet yang menjadi salah satu referensi dalam pengerjaannya.

Setelah diperkenalkan, para seniman mulai membawakan Tari Oleg dengan gayanya masing-masing hingga muncul beberapa variasi. Salah satunya adalah gaya Peliatan yang berkembang di lingkungan seni Peliatan.

Kisah mengenai sepasang tamulilingan menjadi dasar yang penting dalam memahami gerakan Tari Oleg. Menurut seorang penari Oleg Gaya Peliatan yang bernama Citra Aryani, penari perlu memahami sifat hewan yang menjadi sumber cerita tersebut. Bentuk tubuh, gerak-gerik, hingga kepakan sayap bisa diperhatikan untuk selanjutnya diterjemahkan ke dalam gerakan tari.

Interaksi antara kedua penari menjadi bagian penting dalam menggambarkan cerita. Ada kalanya mereka saling menggoda dan terkadang seperti saling mengejar. Karena itu, gerakan penari laki-laki dan perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi untuk membangun sebuah cerita.

Karakter dari hewan tersebut tidak dibuat sama persis seperti gerakan lebah atau kumbang, tetapi diterjemahkan dan disesuaikan dengan keindahan tari Bali.

Gaya Peliatan ini mempunyai tempo iringan yang lebih cepat dibandingkan gaya yang lainnya sehingga dapat memengaruhi gerakan dari penari. Menurut Citra, terdapat beberapa hal yang menarik dari Oleg Gaya Peliatan, yaitu gerakan kepala di awal tari. Gerakannya cukup tegas mengikuti gamelan. Hal ini berhubungan dengan hiasan kepala (gelungan) yang digunakan. Gelungan tersebut mempunyai antena di bagian depan yang ikut bergerak saat kepala digerakkan. Selain itu, ada gerakan ngegol dengan gerakan panggul yang lembut, tetapi tetap memberikan kesan seperti gerakan lebah. Ada pula gerakan jemari lentik yang cepat (jeriring) yang memberikan kesan seperti sayap kecil yang bergerak. 

Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selain hal di atas, riasan juga menjadi aspek pembeda Tari Oleg Gaya Peliatan dengan gaya lainnya. Menurut Citra, riasan tari Bali yang sering dipakai saat ini sebenarnya tetap dapat dipakai. Namun, dalam gaya Peliatan, riasan disesuaikan dengan karakter klasik tari dan referensi terdahulu. Referensi lama memakai riasan yang lebih sederhana sehingga gaya tersebut berusaha dipertahankan, tetapi tetap menyesuaikan bentuk wajah penari. 

Menurut Citra, gerakan yang tepat tidak cukup dalam membawakan tari Oleg ini. Sebab pemahaman rasa dan karakter sangat diperlukan oleh penari. Citra mulai mempelajari Tari Oleg ketika berusia 12 tahun bersama Gusti Ayu Raka Rasmi atau Niang Raka. Salah satu ajaran Niang Raka yang paling diingat adalah bahwa menari harus melibatkan rasa. Ekspresi, tenaga, agem, dan gerakan tetap harus terkontrol dan disesuaikan dengan karakter tari yang ditampilkan. Menurutnya, gerakan kaki dan penjiwaan masih menjadi bagian yang cukup sulit dalam tarian Oleg. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi penari Oleg memerlukan proses belajar yang terus-menerus bukan sekadar menghafalkan koreografi.

Keberlanjutan Tari Oleg Gaya Peliatan bergantung pada siapa yang akan mempelajarinya setelah generasi sekarang. Oleh sebab itu, Citra menganggap regenerasi menjadi suatu hal yang penting dilakukan saat ini. Generasi dari Peliatan harus semakin didorong untuk mempelajari dan meneruskan tarian ini. Namun, peluangnya juga terbuka untuk masyarakat umum. Di tengah perkembangan teknologi, media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan Tari Oleg kepada masyarakat secara luas. Berbagai workshop Tari Oleg Peliatan juga dilaksanakan di luar Bali sehingga semakin banyak orang mempunyai kesempatan untuk belajar. Dalam perkembangannya, pakem tetap perlu diperhatikan. Menurutnya, Peliatan tetap berusaha mengingat bagaimana tari ini diperkenalkan pertama kali. Dengan memahami dasar dan karakter yang diturunkan, generasi baru tetap dapat mengembangkan kemampuan tanpa kehilangan identitas dari gaya Peliatan.

Menyaksikan Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan secara langsung membuat perjalanan panjang di balik sebuah pementasan terasa lebih mudah dipahami. Tari yang hanya berlangsung selama beberapa menit ternyata merupakan hasil dari proses penciptaan, pembelajaran, dan pewarisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Tari Oleg Tamulilingan Gaya Peliatan terus berkembang bersama generasi yang mempelajarinya. Pertunjukan, latihan, media sosial, ataupun workshop dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan tarian ke khalayak yang lebih luas. Dengan tetap memahami karakter dan pakem yang diwariskan, Tari Oleg dapat terus berkembang tanpa kehilangan ciri yang membuatnya mempunyai tempat tersendiri dalam seni tari Bali.