Plastic For Art: Ketika Sampah Plastik Disulap Menjadi Karya Seni Bali

Plastic For Art merupakan komunitas seni asal Klungkung, Bali, yang memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan dalam karya seni. Komunitas yang dirintis Dewa Bayu sejak 2024 ini mengolah plastik bekas menjadi berbagai karya seni. Melalui kreativitas tersebut, Plastic For Art menunjukkan bahwa sampah yang dianggap tidak berguna dapat memiliki fungsi baru sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Sep 1, 2026 - 05:49
Aug 31, 2026 - 22:02
Plastic For Art: Ketika Sampah Plastik Disulap Menjadi Karya Seni Bali
Karya Seni Daur Ulang Sampah Plastik (Sumber: Koleksi Pribadi)

Apa jadinya jika botol oli bekas, tutup botol air mineral, dan tutup botol sampo yang sudah tidak terpakai menjadi bagian dari sebuah karya seni? Benda-benda tersebut mungkin selama ini hanya dipandang sebagai sampah setelah tidak lagi digunakan. Namun, bagi Dewa Bayu, benda-benda itu masih bisa memiliki fungsi lain. Melalui Plastic For Art, sampah plastik diolah menjadi bagian dari karya seni, mulai dari wadah gamelan hingga atribut dan aksesori tari.

Gagasan tersebut berawal dari keresahan Dewa Bayu, seorang seniman dan komposer asal Klungkung yang menjadi inisiator Plastic For Art, terhadap kondisi lingkungan. Sebagai seorang seniman dan komposer, ia melihat lingkungan sebagai salah satu sumber inspirasi dalam berkarya. Suara hewan, tumbuhan, alam, dan berbagai keadaan di sekitar dapat menjadi ide untuk menciptakan karya. Namun, ketika lingkungan yang menjadi sumber inspirasi itu semakin banyak dipenuhi sampah, muncul keinginan untuk melakukan sesuatu melalui bidang yang ia geluti.

“Orang seni biasanya cenderung mencari sumber ide itu dari keadaan lingkungan,” ujar Dewa.

Komunitas yang berbasis di Klungkung, Bali, ini mulai dirintis pada 2024 oleh Dewa, berangkat dari keresahannya terhadap kondisi lingkungan. Keresahan tersebut kemudian mendorongnya untuk mengeksplorasi penggunaan plastik sebagai bahan dalam karya seni. Setelah melalui berbagai percobaan, Plastic For Art diperkenalkan secara resmi pada 2026. Pada tahap awal, Dewa melakukan berbagai percobaan untuk mengetahui bagaimana plastik dapat digunakan dalam karya seni, termasuk untuk membuat bagian dari gamelan.

Pelawah Gamelan Selonding Berbahan Dasar Plastik (Sumber: Koleksi Pribadi)

Salah satu hasil eksplorasi tersebut adalah gamelan Selonding yang menggunakan plastik sebagai bahan untuk membuat wadahnya. Dalam bahasa Bali, bagian tersebut dikenal sebagai pelawah, yaitu wadah atau tempat yang menjadi bagian dari gamelan. Jika biasanya dibuat menggunakan kayu, Plastic For Art mencoba menggantinya dengan papan yang berasal dari hasil pengolahan sampah plastik.

Bahan tersebut diperoleh melalui kerja sama dengan Rumah Plastik Mandiri Buleleng. Sampah plastik dikumpulkan dari lingkungan, termasuk dari rumah tangga, kemudian diolah menjadi papan sebelum digunakan kembali. Salah satu jenis plastik yang digunakan adalah HDPE, yang dapat ditemukan pada berbagai benda seperti botol oli, tutup botol air mineral, dan tutup botol sampo.

Prosesnya dimulai dari pengumpulan plastik bekas yang kemudian dicacah dan dibersihkan. Plastik tersebut selanjutnya dipanaskan hingga meleleh dan dipres menjadi lembaran papan. Setelah menjadi papan, material tersebut baru dapat digunakan untuk membuat bagian-bagian yang diperlukan. Dewa kemudian memotong dan merakitnya menggunakan peralatan yang pada dasarnya juga digunakan dalam pengerjaan kayu.

Jumlah plastik yang dibutuhkan untuk membuat gamelan tersebut juga tidak sedikit. Dewa memperkirakan lebih dari seratus kilogram sampah plastik digunakan untuk satu barung Selonding. Botol dan tutup kemasan yang sebelumnya tersebar sebagai sampah akhirnya dikumpulkan dan diolah menjadi material yang dapat digunakan dalam sebuah karya seni.

Penggunaan plastik juga membuat Dewa harus melakukan berbagai penyesuaian. Ia tidak hanya memikirkan bentuk wadah gamelan, tetapi juga karakter suara yang ingin dihasilkan. Setelah melalui proses eksplorasi selama sekitar delapan bulan, ia memilih menggunakan laras diatonis, Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Si, Do, dengan tetap memberikan nuansa Bali.

Menurut Dewa, ia tidak ingin sekadar membawa suara tradisional ke dalam wadah yang dibuat dari plastik. Karena itu, ia mencari karakter suara yang menurutnya dapat menjadi jalan tengah antara unsur musik Bali dan konsep baru yang sedang dikembangkan. Proses tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang sebelum gamelan berbahan plastik itu akhirnya dapat digunakan.

Aksesori Tari Berbahan Dasar Plastik (Sumber: Koleksi Pribadi)

Namun, penggunaan plastik dalam Plastic For Art tidak berhenti pada gamelan. Material yang sama juga digunakan untuk membuat atribut dan aksesori tari. Bagian ini menjadi salah satu bentuk eksplorasi lain yang dilakukan komunitas untuk melihat sejauh mana plastik hasil daur ulang dapat digunakan dalam kesenian Bali.

Atribut dan aksesori memiliki fungsi penting dalam sebuah pertunjukan tari karena ikut membentuk tampilan seorang penari. Karena itu, ketika bahan plastik digunakan, material tersebut perlu diolah dan dibentuk kembali agar sesuai dengan kebutuhan karya. Papan plastik hasil daur ulang dapat dipotong dan dirakit menjadi berbagai bentuk yang kemudian digunakan sebagai bagian dari perlengkapan tari.

Dengan cara tersebut, benda yang awalnya berupa botol atau tutup kemasan sudah tidak lagi terlihat seperti sampah ketika berada di atas panggung. Materialnya telah mengalami beberapa tahap pengolahan dan mendapatkan fungsi baru sebagai bagian dari sebuah karya. Bagi Plastic For Art, hal tersebut menjadi kesempatan untuk terus mencoba penggunaan plastik di luar pembuatan gamelan.

Eksplorasi mereka juga masih berlangsung. Selain Selonding, Dewa menyebut beberapa karya yang sedang diproses, seperti Gender Wayang, Angklung Kocok, dan Rindik. Pada Angklung Kocok, penggunaan plastik diterapkan pada bagian wadahnya. Mereka juga sedang mencoba membuat wayang dari plastik. Sementara dalam karya tari, penggunaan material tersebut terus dikembangkan untuk berbagai kebutuhan atribut dan aksesori.

Plastic For Art sendiri tidak hanya berkegiatan di tempat pembuatan karya. Sejak diperkenalkan pada 2026, karya mereka sudah beberapa kali dibawa ke berbagai pertunjukan. Dewa menyebut dalam waktu sekitar tiga bulan setelah peluncuran, mereka telah tampil sekitar delapan kali dalam berbagai acara. Selain pertunjukan, kegiatan komunitas juga mencakup pembelajaran gamelan seperti Gender dan Selonding yang dilakukan secara rutin pada sore hari.

Respons terhadap karya tersebut sejauh ini juga cukup baik. Dewa mengatakan bahwa lebih banyak pihak yang memberikan apresiasi ketika melihat gamelan berbahan plastik tersebut. Meski demikian, ia menyadari bahwa tidak semua orang langsung dapat menerima penggunaan plastik sebagai bagian dari gamelan maupun karya seni. Menurutnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena konsep yang dibawa Plastic For Art memang berbeda dari kebiasaan yang selama ini dikenal.

Bagi Dewa, Plastic For Art bukan komunitas yang ingin mengajak masyarakat menjadi fanatik terhadap sampah. Mereka lebih melihatnya dari posisi sebagai seniman yang ingin mengurangi penggunaan bahan-bahan tertentu dan mencari alternatif melalui material yang sudah tidak terpakai. Kayu dan bahan organik lainnya tetap memiliki tempat dalam kesenian, tetapi menurutnya penggunaan material alternatif juga perlu dicoba.

Gagasan tersebut terasa semakin menarik jika dikaitkan dengan persoalan sampah di Bali. Apa yang dilakukan Plastic For Art tentu masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari. Namun, Dewa melihat bahwa karya mereka dapat menjadi contoh sederhana tentang bagaimana sampah bisa dimanfaatkan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Hasil Cacahan Sampah Plastik (Sumber: Koleksi Pribadi)

Satu barung gamelan Selonding saja membutuhkan lebih dari seratus kilogram sampah plastik. Jumlah tersebut baru berasal dari satu karya yang dibuat oleh satu komunitas. Dari situ muncul pertanyaan yang cukup sederhana: bagaimana jika semakin banyak orang atau komunitas di Bali memiliki cara sendiri untuk mengolah sampah yang ada di lingkungannya?

Bukan berarti semua sampah harus diubah menjadi karya seni. Pengelolaan sampah tentu membutuhkan lebih banyak hal, seperti kebiasaan memilah sampah, fasilitas pengolahan, serta keterlibatan masyarakat dan pemerintah. Namun, kreativitas dapat menjadi salah satu cara untuk membuat benda yang sudah tidak terpakai memiliki fungsi baru.

Plastic For Art masih berada pada tahap awal perjalanannya. Banyak karya masih dalam proses dan masih banyak kemungkinan yang ingin dicoba. Dewa mengatakan bahwa untuk saat ini mereka masih ingin berkarya dan mengeksplorasi material plastik dalam berbagai bentuk kesenian sebelum memikirkan pengembangan yang lebih jauh.

Harapannya pun sederhana. Ia ingin Plastic For Art mendapatkan ruang untuk terus berproses dan berkarya. Menurutnya, komunitas tidak selalu membutuhkan bantuan dalam bentuk dana. Kesempatan untuk tampil, berkarya, dan memperkenalkan gagasan mereka kepada masyarakat juga menjadi hal yang penting.

Beri kami ruang untuk berproses berkarya,” ujar Dewa.

Plastic For Art menunjukkan bahwa sampah plastik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi material yang memiliki nilai seni dan fungsi baru. Melalui karya seperti gamelan Selonding, atribut, dan aksesori tari, Dewa Bayu berusaha menggabungkan kreativitas dengan kepedulian terhadap lingkungan. Meskipun langkah ini masih sederhana, Plastic For Art membuktikan bahwa seni dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan terhadap sampah sekaligus memperkenalkan alternatif dalam berkesenian.