Ketika Tabuh Gamelan Bali Bernyawa: Dedikasi Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

Bagi Ida Bagus Putu Tilem Singarsa, seni tabuh gamelan Bali bukan sekadar keterampilan, melainkan jalan hidup yang telah ia kenal sejak usia dini. Ia mulai mengenal gamelan sejak kecil, khususnya gender wayang, sebuah instrumen yang sangat dekat dengan dunia pedalangan.

Feb 5, 2026 - 06:28
Feb 4, 2026 - 21:04
Ketika Tabuh Gamelan Bali Bernyawa: Dedikasi Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

Ketertarikan terhadap seni tabuh mulai diasah secara lebih serius ketika ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Seiring waktu, kecintaannya semakin mendalam. Saat memasuki masa remaja dan bergabung sebagai pemuda di lingkungan banjar, ia aktif berpartisipasi dalam mengaransemen tabuh tari dan iringan dalang, khususnya pada momen pengrupukan, sebuah tradisi penting dalam rangkaian Hari Raya Nyepi.

Ujian Kenaikan Tingkat Sanggar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sosok ayah menjadi teladan utama dalam perjalanan berkesenian Ida Bagus Putu Tilem Singarsa. Sang ayah dikenal sebagai seniman serba bisa, bahkan menyandang gelar maestro topeng serta dalang papan atas pada masanya. Nilai ketekunan, pengabdian, dan kesungguhan dalam berkesenian yang diwariskan sang ayah menjadi prinsip yang terus ia pegang hingga kini.

Dedikasi tersebut kemudian berlanjut melalui Sanggar Seni Dewa Rucci, tempat Ida Bagus Putu Tilem Singarsa kini mengabdikan diri sebagai ketua sanggar. Sanggar ini sejatinya diprakarsai oleh sang ayah sebagai wadah untuk mewakili Bali dalam berbagai pentas seni Nusantara. Ia kemudian melanjutkan warisan tersebut dengan mengembangkan sanggar melalui jadwal pelatihan tabuh gender wayang dan semar pegulingan, membuka ruang pembelajaran bagi generasi muda.

Nama Dewa Rucci sendiri sarat akan makna filosofis. Dalam kisah pewayangan, Dewa Rucci merupakan perwujudan Tuhan yang menampakkan diri kepada Bima saat mencari Tirtha Amerta atas perintah Guru Drona. Sosok Dewa Rucci yang kecil namun mampu memperlihatkan seisi dunia melambangkan kepatuhan, ketulusan bhakti, dan kesungguhan murid kepada guru. Nilai inilah yang menjadi roh Sanggar Seni Dewa Rucci—bahwa dengan bhakti dan ketulusan, seorang murid akan menemukan keberhasilan sejatinya.

 Di tangan generasi muda, tabuh gamelan Bali terus bernyawa (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam pandangan Ida Bagus Putu Tilem Singarsa, seni tabuh gamelan Bali memiliki keterkaitan erat dengan praktik spiritual masyarakat Bali. Setiap nada gamelan diyakini mengandung frekuensi getaran dewa tertentu, sehingga kehadiran gamelan dalam upacara yadnya mampu menghadirkan suasana yang lebih khusyuk dan sakral. Gamelan bukan sekadar bunyi, melainkan media penyambung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Ia juga menegaskan bahwa seni tabuh akan benar-benar “bernyawa” atau metaksu ketika pelakunya mencurahkan isi hati dan penjiwaan secara penuh. Ketulusan, usaha, dan rasa yang menyatu dengan karya akan menciptakan ikatan kuat antara seniman dan tabuhan yang dihasilkan. Dari situlah daya tarik sebuah karya lahir dan mampu menyentuh penikmatnya.