Tradisi Mekotek : Simbol Kemenangan dan Tradisi Turun-Temurun Desa Adat Munggu
Desa Munggu yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali ini tidak hanya dikenal sebagai destinasi pariwisata yang indah dengan pantainya yang memukau, tetapi juga sebagai tempat yang kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan terus dilestarikan hingga saat ini adalah upacara Mekotek. Upacara ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga simbol kemenangan dan upaya untuk menolak bala yang pernah menimpa desa puluhan tahun yang lalu.
Sejarah Tradisi Mekotek dimulai di Desa adat Munggu pada Tahun 1800-an yang ingin memperluas kekuasaan hingga ke daerah Blambangan. Dalam Sejarah singkatnya, di Desa Adat Munggu ini ada yang dinamakan Taruna Munggu. Taruna Munggu tersebut diperintahkan oleh Raja Munggu untuk memperluas daerah kekuasaan. Raja Munggu membuat suatu perlawanan pada Kerajaan Blambangan dan perlawananan tersebut dimenangkan oleh Raja Munggu.
Tradisi Mekotek ini merupakan simbol dari kemenangan tersebut. Dahulu tradisi Mekotek ini menggunakan besi atau tombak. Pada saat tahun 1915 masa pemerintahan Belanda, tradisi ini sempat dihentikan karena Belanda berpikir akan terjadi suatu pemberontakan saat para warga yang merayakan tradisi Mekotek saat itu ramai-ramai saling membawa tombak. Padahal, pada saat itu para warga sedang menjalankan tradisinya. Akhirnya, tombak tersebut digantikan oleh bambu.
Tradisi Mekotek (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Mekotek berasal dari kata "tek tek," yang menggambarkan bunyi kayu yang saling beradu selama upacara. Ini menjadi simbol kemenangan dan kekuatan komunal. Dalam pelaksanaannya, masyarakat setempat berkumpul untuk membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari pemuda desa. Mereka membawa batang bambu yang panjang dan tebal, dan dalam serangkaian gerakan yang teratur dan serasi, mereka saling beradu kayu tersebut.
Upacara ini tidak hanya menjadi pesta visual dan auditori, tetapi juga sebuah ajang untuk mempererat solidaritas dan persatuan masyarakat. Melalui gerakan yang terkoordinasi, mereka menciptakan energi positif yang diyakini dapat mengusir segala bentuk malapetaka dan memberikan perlindungan bagi seluruh desa.
Sebelum melakukan Tradisi Mekotek ini, terdapat beberapa rangkainnya upacara yaitu para warga Desa Adat Munggu membersihkan tameng dan beberapa senjata bekas peperangan lainnya dan kemudian dihaturkan dan diupacarai. Upacara tersebut juga dilakukan pada saat hari raya Kuningan.
Terdapat juga syarat atau awig-awig yang di harus di turuti oleh Masyarakat setempat untuk mengikuti tradisi Mekotek tersebut. Salah satunya adalah yang boleh mengikuti tradisi Mekotek yaitu yang laki-laki berusia limabelas tahun hingga enampuluh tahun dan untuk perempuan dan warga yang sudah lansia dapat ikut mengiringi saat upacara sedang berlangsung.
Pada saat pandemi covid-19 yang melanda beberapa tahun lalupun tradisi ini tetap dijalankan. Hanya saja, dibatasi hanya untuk beberapa pemuda di setiap Banjar yang ada di Desa Adat Munggu untuk mengikuti tradisi ini. Mengapa tetap dijalankan? Menurut Jero Bendesa Desat Adat Munggu, I Made Suwinda mengatakan bahwa tradisi ini harus tetap dijalankan mengingat tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun. I Made Suwinda percaya bahwa jika tradisi Mekotek ini tidak dijalankan, maka Desa Adat Munggu ini akan mengalami kemalangan atau musibah seperti kekeringan. Tradisi ini juga sebagai bentuk kemakmuran bagi Desa Adat Munggu.
Itulah yang membuat tradisi ini tetap berjalan walaupun pada saat itu terjadi pandemi. Upacara Mekotek di Desa Munggu, Bali, bukan hanya sekadar ritual adat, tetapi juga bentuk nyata dari warisan budaya yang tak ternilai harganya. Di tengah arus modernisasi, masyarakat setempat tetap berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan tradisi ini, memastikan bahwa nilai-nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diteruskan ke generasi mendatang.