Sejuta Warna Desa Adat Serangan: Reklamasi, Keberagaman Budaya, dan Tradisi Spiritual yang Menawan
Pulau Serangan di Bali mengalami transformasi melalui reklamasi pada 2016, memperluas Desa Serangan menjadi 500 hektar. Meskipun dampak kontroversial pembelian tanah oleh ABRI, masyarakat pulau beradaptasi dengan izin berjualan dan mencari ikan. Destinasi menarik seperti Turtle Park Serangan dan Pura Dalem Sakenan, bersama dengan keberagaman budaya Desa Adat Serangan, menjadikan Pulau Serangan pengalaman tak terlupakan dengan upacara adat, tradisi mesolah, dan keindahan alamnya.
Patung Pahlawan Serangan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pulau Serangan, dengan ukuran yang relatif kecil, memiliki panjang sekitar 2,9 kilometer dan lebar 1 kilometer, serta garis pantai sekitar 8 kilometer yang memeluk keindahannya. Nama Serangan berasal dari kata sira dan angen, mencerminkan daya tariknya yang membuat orang kangen akan kecantikan alamnya. Terletak di antara destinasi wisata Tanjung Benoa dan Nusa Dua di selatan, Sanur di timur laut, dan Pelabuhan Laut Benoa di barat, Pulau Serangan menjadi daya tarik yang terletak di Desa/Kelurahan Serangan, Kota Denpasar, Provinsi Bali.
Pulau Serangan, dulunya sebuah pulau kecil di dalam kota Denpasar, mengalami transformasi signifikan melalui proses reklamasi pada tahun 2016 yang dilakukan oleh PT.BTID. Perusahaan ini menciptakan jalan yang menghubungkan daratan utama Denpasar dengan Pulau Serangan. Awalnya hanya memiliki luas 70 hektar, kini desa Serangan telah berkembang menjadi 500 hektar, dengan sekitar 450 hektar hasil dari reklamasi BTID.
Sebelum perubahan ini, pulau tersebut merupakan ladang kehidupan bagi masyarakat Serangan, dengan 95% mata pencaharian sebagai nelayan dan sisanya sebagai pedagang. Sebelum reklamasi, mencari ikan dan merawat terumbu karang serta rumput laut, termasuk rumput laut ikonik Bulung Boni, merupakan kehidupan sehari-hari di sekitar pulau.
Selain itu, kerupuk Klejat, yang terbuat dari daging kerang yang direbus, dijemur, dan digoreng, menjadi salah satu kuliner khas yang melambangkan kekayaan laut di Desa Serangan. Transformasi ini tidak hanya menciptakan aksesibilitas yang lebih baik, tetapi juga menandai perubahan dalam pola kehidupan dan mata pencaharian tradisional masyarakat Serangan.
Nelayan Desa Serangan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Perjalanan reklamasi di Pulau Serangan telah membawa dampak yang signifikan pada kehidupan masyarakat setempat, termasuk kontroversi dalam pembelian tanah oleh ABRI yang terasa seperti ancaman bagi yang tidak setuju. Meskipun setelah reklamasi masyarakat diberi izin untuk berjualan dan mencari ikan, namun ladang ikan tidak selega sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, izin berjualan di pantai kawasan BTID juga dicabut enam tahun lalu karena proyek yang direncanakan. Namun, ironisnya, proyek tersebut tidak pernah terlaksana, meninggalkan masyarakat merasa dirugikan dengan lahan pantai yang seharusnya digunakan tetapi malah dibiarkan tidak terpakai. Kesulitan ini menciptakan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan di masa mendatang.
Dari segi geografis, Desa Serangan memiliki batas-batas wilayah yang jelas, yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sanur Kauh, sebelah selatan dengan Kelurahan Tanjung Benoa, sebelah barat dengan Kelurahan Pedungan, dan sebelah timur dengan Selat Badung. Secara administratif, Desa Serangan terbagi menjadi enam banjar adat Hindu, dan satu Kampung Bugis yang menganut agama Islam, termasuk Banjar Dukuh, Banjar Peken, Banjar Kawan, Banjar Tengah, Banjar Kaja, Banjar Pojok, dan Banjar Bugis. Dengan struktur administrasi ini, Desa Serangan mencerminkan keberagaman budaya dan agama yang menghuni wilayah tersebut.
Di bagian utara Pulau Serangan, wilayahnya berbatasan langsung dengan laut dan hutan bakau, membuat sekitar 60 persen dari pulau ini terdiri dari perairan. Pada masa lalu, Pulau Serangan menjadi tempat singgah bagi pelaut dari Makassar yang mencari pasokan air minum. Setelah merasakan keindahan pulau dan terkena pengaruh sira angen atau rindu, banyak pelaut yang memutuskan untuk menetap di sana. Pemukiman yang mereka bentuk kemudian dikenal sebagai Kampung Bugis.
Jukung Nelayan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Masyarakat Pulau Serangan menggantungkan mata pencaharian mereka pada sumber daya laut. Meskipun reklamasi pulau telah mengakibatkan penurunan signifikan pada wilayah pantai, masyarakat setempat tetap beradaptasi dengan berbagai profesi seperti mencari rumput laut dan bekerja di sektor bahari. Penduduk pulau ini terdiri dari penduduk asli suku Bali dan pendatang dari berbagai suku, termasuk suku Bugis. Keberagaman ini menciptakan harmoni budaya di Pulau Serangan, menggambarkan bagaimana pulau tidak hanya menjadi tempat tinggal yang indah, tetapi juga melibatkan interaksi yang kaya antara berbagai kelompok masyarakat.
Destinasi menarik seperti Kampung Nelayan, Turtle Park Serangan, Pura Sakenan, dan beragam kuliner dapat dengan mudah dinikmati oleh para pengunjung yang ingin menjelajahi keindahan Pulau Serangan. Perubahan ini tidak hanya memudahkan aksesibilitas, tetapi juga membuka peluang baru untuk pengembangan pariwisata dan peningkatan aktivitas wisata di pulau ini.
Patung Turtle Education and Conservation Center (Sumber: Koleksi Pribadi)
Turtle Park Serangan, atau Turtle Education and Conservation Center (TCEC), di Jalan Tukad Punggawa No. 4, Desa Serangan, Denpasar Selatan, Bali, adalah destinasi wisata yang direkomendasikan di Pulau Serangan. Memfokuskan misi konservasi untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan dengan melakukan relokasi sarang penyu ke tempat penangkaran.
Langkah-langkah akan melibatkan pengambilan telur penyu untuk melindunginya dari predator dan tindakan manusia. Setelah mencapai usia yang memadai, tukik dikembalikan ke laut bebas, sementara beberapa penyu tetap di penangkaran untuk penelitian, pendidikan, wisata, dan keperluan adat. Melalui upaya ini, Turtle Park Serangan berperan penting dalam pelestarian dan kelangsungan hidup penyu laut di pulau tersebut.
Pura Sakenan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dwijendra Tattwa mengajarkan bahwa Danghyang Nirartha menyatukan diri dengan Tuhan di Pulau Serangan, tempat beliau mendirikan Pura Dalem Sakenan pada abad ke-15. Pura Sakenan, dibangun sekitar tahun 1489 saat pemerintahan Dalem Waturenggong, menjadi pusat perayaan Pujawali setiap 210 hari, terutama saat Hari Raya Kuningan jatuh pada hari Sabtu Kliwon.
Umat Hindu merayakan dengan persembahyangan di tiga pura, termasuk Pura Susunan Wadon, Pura Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan yang berlokasi di tepi pantai. Ritual ini bukan hanya upacara keagamaan, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual dan perjalanan mendalam bagi umat Hindu. Simbolisme kuat ketiga pura melambangkan Purusa, Pradhana, dan Lingga.
Desa Adat Serangan melibatkan awig-awig, aturan dan larangan yang telah terakar sejak zaman nenek moyang. Sebagai contoh, saat merayakan pernikahan, kehadiran seorang bendesa adat menjadi kewajiban yang tak terhindarkan. Selain itu, prosesi upacara ngaben di desa ini juga memperlihatkan keunikan tersendiri. Berbeda dari tradisi umum di Bali yang seringkali melibatkan pembakaran mayat, Desa Adat Serangan memilih untuk menguburkan jenazah. Adat ini juga tercermin dalam penanganan setra atau kuburan, yang hanya boleh dibersihkan saat akan ada upacara ngaben yang dijalankan.
Bagian Tengah Pura Dalem Cemara (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pura Khayangan Tiga di Desa Adat Serangan memikat dengan keunikan konsepnya. Berbeda dari konsep umum Khayangan Tiga yang terdiri dari Puseh, Desa, dan Dalem, Desa Adat Serangan menonjolkan keberagaman dengan menyertakan dua pura dalem tambahan, yaitu Pura Dalem Segara dan Pura Dalem Cemara. Total, Desa Adat Serangan dapat membanggakan keberadaan lima pura yang memperkaya warisan spiritualnya, ditambah dengan satu bale agung yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Menariknya, saat merayakan Pujawali, Desa Adat Serangan mengikuti hitungan pawukon, kecuali Pura Segara yang menggunakan sistem sasih.
Desa Adat Serangan memancarkan daya tariknya melalui kekhasan yang luar biasa, yang diwujudkan melalui upacara mesolah setiap bulan. Barong, rangda, dan telek menjadi bintang utama yang menambah keunikan Desa Adat Serangan. Setiap bulan, upacara ini menyajikan tarian sandar dan topeng yang memukau, dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar kelas 3.
Keistimewaan lainnya, setiap hari Purnama, Desa Adat Serangan merayakan "ida due mesolah" di mana barong dan rangda mesolah. Menariknya, setiap lima tahun sekali, Desa Adat Serangan menggelar pasupati, sebuah ritus pembersihan bagi barong dan rangda yang melibatkan peran khusus anak-anak sekolah dasar.
Bagian Tengah Pura Dalem Susunan Wadon (Sumber: Koleksi Pribadi)
Saat Pasupati, ritual mencari penari menjadi momen istimewa di Desa Adat Serangan. Dalam proses ini, setiap banjar berperan mencari satu anak perempuan dan satu anak laki-laki untuk menjadi penari dalam tarian sakral. Karena nilai keagamaan yang tinggi, anak-anak yang terpilih menjalani pelatihan intensif selama 3 hingga 4 bulan, memastikan bahwa mereka benar-benar menguasai setiap gerakan tarian yang suci. Jika para penari terpilih beranjak dewasa, maka akan digantikan generasi penerus yang akan melanjutkan tugas mulia sebagai penari dalam upacara berikutnya.
Keberlanjutan tradisi ini tidak hanya mempertahankan kekayaan budaya Desa Adat Serangan, tetapi juga menjadi bukti komitmen dalam melestarikan warisan seni dan keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat.
Pulau Serangan, dengan keindahan alamnya yang memesona dan keberagaman budayanya yang menawan, menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Desa Adat Serangan, sebagai bagian integral dari pulau ini, membuka jendela ke dalam keunikan dan kekhasan lokal yang patut dijelajahi. Dari hamparan pantai hingga upacara adat yang kaya makna, Pulau Serangan memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk terhubung dengan alam dan warisan budaya yang hidup di setiap jengkal tanahnya