Pura Bong Aya Pasupati : Saksi Bisu terbentuknya Desa Sangsit
Pura Bong Aya Pasupati di Desa Sangsit, Buleleng, menjadi saksi sejarah penggabungan empat desa adat kecil yang membentuk Desa Sangsit. Sebagai pusat spiritual, pura ini menjadi tempat upacara pemasupatian jagat, lambang kekuatan dan kesatuan masyarakat. Arsitektur megahnya, termasuk pelinggih utama dan arah sembahyang unik ke barat, mencerminkan keagungan budaya Bali. Perayaan hari suci setiap 210 hari mengukuhkan pura ini sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa.
Pura Bong Aya Pasupati terletak di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Lokasinya berjarak sekitar 9 kilometer ke arah timur laut dari pusat Kota Buleleng, menawarkan suasana yang sarat dengan nilai sejarah dan spiritualitas yang mendalam. Keberadaan pura ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan banyak cerita tentang kehidupan masyarakat sekitar yang menjadikannya sebagai tempat yang sangat dihormati.
Pura Bong Aya Pasupati menjadi saksi bisu dari sejarah terbentuknya Desa Sangsit. Desa ini berasal dari penggabungan empat desa adat kecil, yaitu Desa Adat Gunung Sekar di Timur, Desa Adat Tegal Menasa di Barat, Desa Adat Beji di Utara, dan Desa Adat Soralepang di Selatan. Keempat desa ini memiliki sejarah dan budaya masing-masing yang kemudian disatukan dalam sebuah proses yang sangat penting dalam perjalanan sejarah desa ini.
Nista Mandala atau Halaman Luar Pura Bong Aya Pasupati (Sumber : Koleksi Pribadi)
Penggabungan ini mengubah status Desa Sangsit menjadi Banjar Adat, yang merupakan entitas administratif dan kultural baru yang menggantikan empat desa adat tersebut. Untuk mendukung roda pemerintahan desa yang baru terbentuk, Pura Bong Aya dipilih sebagai Pura Desa. Di pura inilah dilakukan upacara pemasupatian jagat, yang menjadi asal mula nama Pura Pasupati, simbol kekuatan dan kesatuan masyarakat desa. Upacara ini sangat penting karena menandai awal dari sebuah perjalanan spiritual dan pemerintahan desa yang baru.
Pura Pasupati memiliki arsitektur khas yang mencerminkan keagungan budaya Bali. Setiap pintu masuk pura dihiasi dengan gapura megah yang berdiri kokoh, menggambarkan kekuatan dan kejayaan masa lampau. Gapura-gapura ini tidak hanya sebagai pembatas, tetapi juga sebagai simbol dari gerbang menuju kedamaian dan keberkahan yang datang dari Sang Hyang Widhi Wasa.
Madya Mandala atau Halaman Tengah Pura Bong Aya Pasupati (Sumber : Koleksi Pribadi)
Di bagian Nista Mandala, kita akan menemukan jajaran candi yang berdiri teguh, memancarkan kehadiran spiritual yang menenangkan. Di salah satu sudut, terdapat Bale Kulkul dengan genta tradisionalnya yang menghasilkan bunyi khas, memberikan rasa keberanian dan pengingat akan tradisi yang terjaga. Bunyi kulkul ini sering kali digunakan sebagai tanda untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya bersatu dalam menjalankan tugas dan kewajiban mereka.
Bagian Madya Mandala dihiasi candi-candi yang berada di halaman teduh, dikelilingi pohon rindang yang menciptakan suasana ketenangan. Halaman ini menjadi tempat refleksi dan penghormatan, mempererat hubungan spiritual umat Hindu dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum memasuki Utama Mandala, terdapat angcangan atau pengawal spiritual bernama Ratu Nyoman yang menjaga kesucian pura. Keberadaan pengawal spiritual ini menggambarkan pentingnya menjaga kesucian dan keharmonisan dalam setiap aspek kehidupan.
Utama Mandala atau Halaman Dalam Pura Bong Aya Pasupati (Sumber : Koleksi Pribadi)
Di bagian Utama Mandala, terdapat dua pelinggih utama yang berdampingan. Pelinggih pertama menghadap ke timur, tempat Ida Sang Hyang Pasupati melinggih. Pelinggih kedua menghadap ke utara, tempat Dewi Ratu Nyang Purusa Predana melinggih. Keberadaan kedua pelinggih ini menggambarkan hubungan antara dewa dan dewi, yang melambangkan keseimbangan antara kekuatan spiritual pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua pelinggih ini dihiasi dengan candi berrelief indah yang menambah nuansa sakral. Relief pada candi ini menggambarkan cerita-cerita epik Hindu yang sarat dengan makna kehidupan. Keunikan lain dari Pura Pasupati adalah arah sembahyangnya, yaitu menghadap ke barat, yang jarang ditemukan di pura-pura lain di Bali. Arah ini memiliki makna tersendiri, sebagai simbol dari keseimbangan dan harmonisasi antara dunia fana dan dunia spiritual.
Pura ini juga dilengkapi dengan bale-bale kokoh yang indah, digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Keberadaan fasilitas ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap kenyamanan umat saat bersembahyang, agar mereka dapat lebih fokus dalam berdoa dan melakukan ritual dengan khusyuk.
Bale-bale di Pura Bong Aya Pasupati (Sumber : Koleksi Pribadi)
Hari suci Pura Pasupati dirayakan setiap 210 hari sekali, pada hari Sabtu atau Saniscara dalam sistem kalender Wuku Landep. Pada hari istimewa ini, umat Hindu berkumpul dengan khusyuk untuk mempersembahkan puja dan sembah kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Perayaan ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mempererat kebersamaan dan memperbaharui ikatan spiritual antar sesama warga desa. Dalam perayaan ini, terlihat jelas bagaimana tradisi dan nilai-nilai agama Hindu tetap terjaga dengan baik.
Pura Bong Aya Pasupati tidak hanya menjadi pusat spiritual masyarakat Desa Sangsit, tetapi juga simbol sejarah yang merekam proses terbentuknya desa ini. Dengan arsitektur megah dan nilai tradisi yang kental, pura ini terus menjadi tempat pemujaan yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa. Keberadaannya mengajarkan kita untuk selalu menghargai dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur.