Pura Baturaya Karangasem: Fenomena Biji Beras Tumbuh Menjadi Benih Padi di Sekitar Arca Lingga Yoni
Pura Penataran Baturaya di Desa Adat Tumbu, Karangasem, Bali, menjadi saksi fenomena spiritual dan budaya yang kaya. Kejadian luar biasa saat piodalan, di mana beras yang digunakan dalam upacara tumbuh menjadi benih padi, mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan. Pura ini juga menyimpan sejarah panjang dan keunikan spiritual yang terus terjaga hingga kini.
Fenomena unik dan penuh makna terjadi di Pura Penataran Baturaya, Desa Adat Tumbu, Karangasem, Bali. Saat piodalan pada Selasa, 17 September 2019, sebuah kejadian luar biasa terjadi di sekitar pelinggih Arca Lingga Yoni. Beras yang digunakan sebagai sarana upacara tumbuh menjadi benih padi. Kejadian ini bukan hanya menarik perhatian masyarakat sekitar tetapi juga menjadi simbol anugerah dari Ida Sesuhunan yang berstana di pura tersebut.
Pelinggih Astadala (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pura Pesimpenan Baturaya memiliki sejarah panjang yang berawal dari berbagai keunikan dan petunjuk niskala. Berdasarkan informasi yang diperoleh oleh Nyoman Sudana Intaran, manggala karya pura, ditemukan bahwa di Desa Tumbu pernah ada sebuah pura bernama Pura Pasimpenan. Hal ini terungkap dari Prasasti Tumbu dengan tahun Saka 1247 (1325 M), meskipun informasi tersebut sempat hilang tanpa jejak. Penemuan ini diperkuat oleh teropong niskala dari Jro Mangku Tapakan Antiga yang meyakini adanya keberadaan pura di lokasi tersebut.
Sebelum pura didirikan kembali pada tahun 2006, berbagai kejadian ganjil sering dialami oleh masyarakat sekitar. Nyoman Sudana, yang memiliki merajan di sebelah tanah tempat pura didirikan, sering menyaksikan api sebesar kelapa jatuh di tengah malam dan berbagai peristiwa aneh lainnya. Semua kejadian ini menjadi isyarat bahwa pura yang terkubur dalam ingatan kini harus dibangkitkan kembali. Dalam mimpi, Sudana juga mendapatkan penglihatan tentang pura dengan tiga gedong utama yang masing-masing memancarkan simbol api, air, dan suara pengobatan. Hal ini semakin menguatkan keyakinan bahwa pura harus didirikan kembali.
Beji (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah pura berdiri, hubungan niskala dengan Pura Kancing Gumi di Batu Lantang, Badung, menjadi semakin jelas. Sudana mendapatkan pawisik untuk membuat Tapakan Ratu Gede, Barong, dan Rangda, dengan prosesi pasupati di Pura Kancing Gumi. Keberadaan tapakan ini menjadi bagian penting dalam upacara di Pura Baturaya, bahkan setiap pujawali, Tapakan Ratu Mas Alit Sakti dari Pura Baturaya selalu tiba lebih dahulu di Pura Kancing Gumi untuk membuka pintu pelinggih sebelum upacara berlangsung. Hal ini menunjukkan hubungan spiritual yang erat antara kedua pura, meskipun secara geografis terpisah jauh.
Selain itu, keunikan Pura Baturaya terletak pada tata letaknya yang mencerminkan harmoni antara budaya Hindu dan Buddha. Di utamaning mandala, terdapat stupa Buddha besar berjejer dengan Pelinggih Padmasana. Di sisi timur pura, terdapat Arca Lingga Yoni yang dikelilingi arca Siwa, Buddha, Bhujangga, dan sebuah arca Semar. Lingga Yoni ini menjadi pusat perhatian selama piodalan, terutama dengan fenomena beras yang tumbuh menjadi benih padi. Para pengempon pura meyakini bahwa ini adalah simbol kesuburan dan karunia alam yang tidak terlepas dari kekuatan niskala.
Tata Letak Pura (Sumber: Koleksi Pribadi)
Selama proses pembangunan, pawisik terus menjadi panduan. Sudana bahkan bermimpi tentang patung khusus yang harus ada di pura, yaitu patung Sakti Dewa Wisnu yang memegang kendi tempat tirta. Pembuatan patung ini memakan waktu karena sulitnya menggambarkan apa yang dilihat dalam mimpi. Namun, akhirnya patung tersebut berhasil diwujudkan dengan bantuan seorang tapakan Kahyangan Tiga.
Pura Baturaya terus berkembang menjadi tempat suci yang diakui oleh desa-desa sekitar. Awalnya direncanakan sebagai pura kecil, namun berkat pawisik dan dukungan dari berbagai pihak, pura ini mengalami perluasan hingga menjadi seperti saat ini. Piodalan yang dilaksanakan setiap Anggara Kasih Tambir selalu membawa vibrasi spiritual yang kuat, menciptakan suasana yang berbeda dari piodalan biasa.
Fenomena biji beras yang tumbuh menjadi benih padi di Pura Baturaya adalah bukti nyata dari keberkahan dan hubungan spiritual yang mendalam. Selain menjadi simbol kesuburan, fenomena ini juga menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritual yang ada. Pura Baturaya kini menjadi saksi hidup dari perpaduan sejarah, keunikan, dan kekuatan niskala yang melingkupinya, sekaligus menjadi pengingat akan hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan.