Rejang Sutri : Tarian Tolak Bala Penenang Amarah Ida Ratu Gede Mas Mecaling
Tari Rejang Sutri sebagai tari wali sakral yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat Desa Pakraman Batuan, Gianyar, Bali, yang tidak hanya berfungsi sebagai persembahan religius, tetapi juga sebagai simbol rekonsiliasi spiritual dan permohonan maaf kepada Ida Ratu Gede Mas Mecaling atas konflik masa lampau. Tarian yang ditarikan perempuan dari berbagai usia ini lahir dari tradisi lisan dan dipercaya berperan menjaga keseimbangan sekala dan niskala, khususnya pada periode sasih kelima hingga kesanga yang dianggap rawan gangguan niskala. Selain sebagai ritual tolak bala dan permohonan keselamatan, Rejang Sutri mencerminkan nilai kesucian, keikhlasan, kebersamaan, serta harmoni kosmis, sekaligus menegaskan komitmen masyarakat Batuan dalam melestarikan warisan leluhur dan menjaga keseimbangan spiritual demi kesejahteraan bersama.
Tari Rejang Sutri merupakan salah satu tari wali (sakral) yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Desa Pakraman Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Bagi warga Batuan, tarian ini tidak hanya menjadi ekspresi seni religius, tetapi juga simbol sejarah spiritual desa yang sarat makna rekonsiliasi, permohonan maaf, serta upaya menjaga keseimbangan antara dunia sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata). Rejang Sutri ditarikan oleh perempuan dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, yang menari dengan penuh ketulusan sebagai wujud bhakti dan penghormatan kepada kekuatan suci.
Sejarah Tari Rejang Sutri tidak ditemukan dalam lontar maupun catatan tertulis, melainkan diwariskan melalui tradisi lisan secara turun-temurun. Kisah kemunculannya berkaitan dengan konflik spiritual antara tokoh sakti Ida Ratu Gede Mas Mecaling dari Nusa Penida dan I Dewa Babi, yang diperkirakan terjadi pada abad ke-17 saat pemerintahan I Dewa Agung Anom di Kerajaaan Sukawati. Dalam pertarungan spiritual tersebut, Ida Ratu Gede Mas Mecaling dikisahkan mengalami kekalahan yang kemudian menimbulkan kemarahan serta sumpah balas dendam terhadap keturunan I Dewa Babi dan masyarakat Batuan.
Sesuunan Ida Ratu Gede Mas Mecaling (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah peristiwa itu, Ida Ratu Gede Mas Mecaling diyakini meninggalkan Batuan dan berstana di Jungut Batu, Nusa Penida. Walaupun demikian, masyarakat percaya bahwa kekuatan spiritual beliau tetap berpengaruh terhadap keseimbangan desa apabila tidak dihormati. Keyakinan ini tidak semata didasari rasa takut, melainkan kesadaran spiritual bahwa hubungan manusia dengan kekuatan niskala harus dijaga melalui penghormatan dan ritual keseimbangan.
Berdasarkan kepercayaan tersebut, masyarakat Desa Batuan menciptakan Tari Rejang Sutri sebagai simbol permohonan maaf dan penghormatan kepada Ida Ratu Gede Mas Mecaling beserta pengikutnya. Tarian ini mencerminkan kerendahan hati masyarakat dalam memohon agar kemarahan masa lalu diredakan dan keseimbangan spiritual dipulihkan. Dengan demikian, Rejang Sutri tidak hanya berfungsi sebagai tari persembahan, tetapi juga sebagai media rekonsiliasi spiritual antara masyarakat dan kekuatan adikodrati.
Pementasan Tari Rejang Sutri (Sumber: Koleksi Pribadi)
Selain sebagai simbol permohonan maaf, Rejang Sutri juga berkaitan dengan siklus waktu sakral dalam kalender Bali. Rentang sasih kelima hingga sasih kesanga (sekitar November hingga Maret) diyakini sebagai periode rawan wabah penyakit (gering) dan gangguan niskala. Masa ini dipercaya sebagai waktu ketika kekuatan negatif berkelana mencari “labaan” atau tumbal. Oleh karena itu, pelaksanaan Rejang Sutri berfungsi sebagai ritual tolak bala untuk menetralisir pengaruh negatif sekaligus memohon keselamatan bagi seluruh warga desa.
Pelaksanaan tarian dimulai pada sasih kelima berdasarkan pawisik atau petunjuk spiritual yang diterima pemangku desa. Hari pementasan biasanya dipilih pada rerahinan suci seperti Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem, atau hari baik lainnya sesuai keputusan adat dan keagamaan. Jika dikonversikan ke kalender Masehi, rangkaian pementasan berlangsung sekitar empat bulan dan berakhir pada sasih kesanga, tepatnya malam Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi yang menandai Tahun Baru Saka.
Selama periode tersebut, Rejang Sutri dipentaskan setiap hari secara bergiliran oleh banjar-banjar pangempon Desa Batuan, yaitu Banjar Puaya, Jeleka, Tengah, Pekandelan, Dentiyis, Delodtunon, Peninjoan, Jungut, serta satu kelompok Tri Wangsa. Sistem giliran ini mencerminkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab kolektif masyarakat dalam menjaga keseimbangan spiritual desa. Setiap pementasan disertai sarana upacara berupa banten persembahan sebagai wujud bhakti dan penghormatan kepada kekuatan suci.
Secara estetis, gerakan Tari Rejang Sutri bersifat sederhana, lembut, dan lemah gemulai. Penari bergerak berbaris atau melingkar dengan ritme tenang dan penuh penghayatan. Kesederhanaan gerak ini mencerminkan ketulusan hati dan kesucian niat dalam mempersembahkan tarian. Dalam konsep tari wali, keindahan tidak diukur dari kompleksitas gerak, melainkan dari kesucian persembahan dan keikhlasan spiritual yang menyertainya.
Tari Rejang Sutri (Sumber: Koleksi Pribadi)
Makna filosofis Tari Rejang Sutri mencerminkan nilai kesucian (Siwam), cinta kasih, keikhlasan, serta harmoni kosmis. Melalui tarian ini, masyarakat memohon keselamatan lahir dan batin, kesehatan, dan kedamaian hidup. Rejang Sutri juga melambangkan keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi, yang merupakan inti filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Dalam perkembangan masa kini, masyarakat Desa Batuan tidak hanya mempertahankan tradisi pementasan Rejang Sutri, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Ida Ratu Gede Mas Mecaling melalui persembahyangan ke Pura Dalem Peed di Nusa Penida, tempat beliau diyakini berstana. Kunjungan ini dipandang sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan restu agar hubungan spiritual tetap harmonis. Menariknya, masyarakat yang bersembahyang ke sana tidak lagi mengalami gangguan seperti yang diceritakan dalam mitos lama, sehingga tumbuh keyakinan bahwa kemarahan masa lalu telah mereda dan hubungan spiritual kembali selaras.
Hingga saat ini, Tari Rejang Sutri tetap menjadi warisan leluhur yang memiliki nilai religius, historis, dan sosial yang kuat. Tarian ini bukan hanya identitas budaya masyarakat Batuan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual, menghormati kekuatan tak kasat mata, serta merawat harmoni kehidupan. Melalui pelaksanaannya, masyarakat menegaskan komitmen untuk melestarikan tradisi, memohon keselamatan, dan menjaga keharmonisan demi kesejahteraan bersama.