Parade Ogoh-Ogoh Mengwitani Tampil Berbeda, Jadi Pertunjukan Spektakuler di Pusat Catus Pata

Parade ogoh-ogoh Desa Adat Mengwitani pada malam Pengrupukan 18 Maret 2026 tampil berbeda dengan konsep terpusat di catus pata. Sebanyak 15 banjar adat menampilkan ogoh-ogoh disertai atraksi tari dan gambelan yang tertata dan memukau. Kegiatan berlangsung dari sore hingga pukul 23.30 WITA dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Format baru ini menjadikan pawai lebih spektakuler dan berkesan.

Mar 19, 2026 - 00:49
Mar 19, 2026 - 00:56
Parade Ogoh-Ogoh Mengwitani Tampil Berbeda, Jadi Pertunjukan Spektakuler di Pusat Catus Pata
Parade Ogoh-Ogoh Mengwitani

Mengwitani, 18 Maret 2026 — Suasana malam Pengrupukan di Desa Adat Mengwitani tahun ini menghadirkan nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya ogoh-ogoh diarak berkeliling desa, kali ini seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam bentuk parade dan atraksi terpusat di kawasan catus pata desa.

Perubahan konsep ini langsung terasa sejak sore hari. Warga mulai memadati area pusat desa, menyaksikan satu per satu ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh masing-masing banjar adat. Penataan ruang yang lebih rapi dan terfokus menjadikan pawai kali ini tidak sekadar tradisi tahunan, melainkan berubah menjadi sebuah pertunjukan yang utuh dan terarah.

Sebanyak 15 banjar adat berpartisipasi, masing-masing menampilkan ogoh-ogoh dengan karakter dan konsep yang kuat. Tidak hanya mengandalkan bentuk visual, setiap ogoh-ogoh juga disertai atraksi seni berupa tarian dan iringan gambelan yang telah diaransemen dengan sentuhan artistik khas Bali. Perpaduan gerak, musik, dan ekspresi menjadikan setiap penampilan terasa hidup dan memukau.

Salah Satu peserta Parade Ogoh-Ogoh Mengwitani

Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Area catus pata dipenuhi penonton dari berbagai kalangan yang dengan sabar mengikuti jalannya parade dari awal hingga akhir. Banyak di antara mereka mengaku terkesan dengan format baru ini karena memberikan kesempatan untuk menikmati setiap ogoh-ogoh secara lebih mendalam.

“Lebih terasa seperti pertunjukan, tidak hanya lewat begitu saja. Kita bisa benar-benar melihat detail dan maknanya,” ujar salah satu warga yang hadir.

Parade berlangsung sejak sore hari dan berlanjut hingga malam, ditutup sekitar pukul 23.30 WITA atau tengah malam menjelang keesokan hari Nyepi. Meski berlangsung cukup lama, suasana tetap kondusif dan penuh semangat.

Dengan konsep baru ini, pawai ogoh-ogoh di Mengwitani tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang lebih tertata dan apresiatif terhadap karya seni masyarakat. Malam Pengrupukan pun terasa lebih hidup, sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.