Berawal dari Mengajar Anak-anak: Perjalanan I Wayan Karta dalam Dunia Suling Bali
I Wayan Karta, yang akrab disapa Cover, merupakan seorang seniman sekaligus pengerajin suling Bali yang berasal dari Banjar Pengosekan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Sosoknya dikenal luas sebagai pelestari seni musik tradisional Bali, khususnya dalam bidang seni tiup suling, baik sebagai pemain maupun pembuat suling.
Ketertarikan Wayan Karta terhadap suling berawal sejak usia belasan tahun, dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang menyukai suling. Kecintaan tersebut semakin berkembang ketika ia mendapat ajakan dari seorang temannya bernama I Nyoman Dayuh, yang memperkenalkannya lebih dekat dengan dunia suling.
Selain faktor keluarga dan pergaulan, terdapat pula pengalaman pribadi di masa lalu, yakni pernah mendapat caci maki dari seorang tak dikenal, yang justru menjadi pemicu motivasi kuat bagi Wayan Karta untuk membuktikan diri dan mendalami suling secara lebih serius hingga menjadi pemain suling yang handal.
Sosok I Wayan Karta (Sumber: Koleksi I Wayan Karta)
Dalam proses pembelajarannya, Wayan Karta tidak belajar secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang dengan berguru kepada sejumlah seniman dan maestro suling dari berbagai daerah di Bali. Beberapa tokoh yang berperan penting dalam proses tersebut antara lain Pak Mangku Regig dari Abian Nangka, Denpasar, Pak Rangsi dari Kerta Payangan, I Made Sadra dari Banjar Pinda, Kecamatan Blahbatuh, serta Cokorda Bagus dari Peliatan, Ubud, dan seniman suling lainnya.
Dari para guru tersebut, Wayan Karta tidak hanya mempelajari teknik bermain suling, tetapi juga pemahaman musikal, karakter nada, serta nilai-nilai seni tradisi Bali.
Pementasan I Wayan Karta (Sumber: Koleksi I Wayan Karta)
Sejak tahun 1998, saat masih berusia belasan tahun, Wayan Karta mulai mendalami proses pembuatan suling secara serius. Dalam bidang ini, I Made Sadra dari Banjar Pinda, Blahbatuh, berperan sebagai guru utama, khususnya dalam hal mencari dan menyesuaikan keselarasan nada suling.
Setelah itu, Wayan Karta melanjutkan pendalaman ilmunya ke rumah Bapak Rangsi di Kerta Payangan, dengan fokus pada teknik pembuatan siwer suling, yang merupakan bagian penting dalam kualitas bunyi suling. Melalui proses belajar yang berkelanjutan tersebut, Wayan Karta akhirnya memantapkan diri untuk menjadi pengerajin suling, profesi yang terus dijalaninya hingga saat ini.
Pementasan I Wayan Karta (Sumber: Koleksi I Wayan Karta)
Suling hasil karya Wayan Karta dikenal memiliki kualitas nada yang baik dan diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya digunakan oleh seniman di Bali, suling buatannya juga telah dipasarkan ke luar daerah dan luar negeri, seperti Jepang, Amerika, Jerman, Italia, Australia, dan Spanyol. Beberapa jenis suling yang dihasilkan dan dikenal dari karyanya antara lain suling jungket dan suling sunari, yang digunakan dalam berbagai konteks pertunjukan seni Bali.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian seni suling, Wayan Karta mendirikan sebuah sekaa atau sanggar suling bernama “Sanggar Suling Semeton Nika Manu” pada tahun 2012, yang kemudian memperoleh izin resmi pada tahun 2017. Melalui sanggar ini, ia aktif melakukan pelatihan dan pembinaan bermain suling di berbagai tempat di Bali, sekaligus menjadi wadah regenerasi seniman suling.
Penghargaan I Wayan Karta (Sumber: Koleksi I Wayan Karta)
Dalam perjalanan karier keseniannya, Wayan Karta juga tercatat memiliki pengalaman pentas di berbagai ajang penting. Pada tahun 2010, ia tampil di sembilan kota di Amerika Serikat bersama Sanggar Cudamani Pengosekan dalam rangka Tour Balinese Gamelan. Di tahun yang sama, ia juga pernah tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka Pementasan Musik Baru bersama Group Pendro Made Arnawa.
Selain itu, Wayan Karta kerap terlibat dalam pertunjukan di ISI Denpasar, Pesta Kesenian Bali, serta berbagai upacara dan pementasan di pura-pura di Bali, baik sebagai pemain suling maupun pendukung pertunjukan seni.