Sesolahan Barong Landung: Romansa Legenda dalam Balutan Seni di Desa Singapadu

Sesolahan Barong Landung adalah kesenian tradisional Bali yang berkembang di Bali salah satunya di Desa Singapadu, menampilkan figur Ratu Gede dan Ratu Ayu sebagai simbol legenda Raja Jaya Pangus dan Kang Cing Wie. Pertunjukan ini bermakna sakral sebagai penjaga keseimbangan dan pelindung desa, serta biasanya dipentaskan saat piodalan di pura. Hingga kini, Barong Landung tetap dilestarikan sebagai warisan budaya yang menyatukan seni dan spiritualitas.

Mar 13, 2026 - 05:26
Mar 13, 2026 - 21:51
Sesolahan Barong Landung: Romansa Legenda dalam Balutan Seni di Desa Singapadu

Sesolahan Barong Landung merupakan salah satu kekayaan seni dan tradisi Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Di Desa Singapadu, pementasan ini bukan sekadar tontonan, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat. Wujudnya yang unik, gerakannya yang khas, dan makna simbolisnya membuat Barong Landung selalu menjadi pusat perhatian setiap kali ditampilkan.

Barong Landung saat sebelum mesolah (Sumber: Koleksi Pribadi)

Barong Landung adalah salah satu bentuk kesenian Bali yang menghadirkan sepasang figur: Ratu Gede dan Ratu Ayu. Keduanya melambangkan perjalanan kisah cinta dan pertemuan dua budaya pada masa kerajaan Bali kuno. Meski tampil dalam rupa figur bertubuh tinggi, Barong Landung bukanlah sekadar simbol fisik, tetapi mengandung makna mendalam tentang keharmonisan, kesetiaan, serta perlindungan bagi masyarakat.

Dalam masyarakat Bali, Barong Landung dipercaya sebagai penjaga desa, pelindung dari energi negatif, sekaligus penyeimbang unsur baik dan buruk. Setiap gerakan dalam pementasannya membawa pesan spiritual dan menyimbolkan hubungan manusia dengan kekuatan tak kasat mata yang menjaga kehidupan.

Pementasan Barong Landung memiliki tujuan sakral. Selain itu, pertunjukan ini berfungsi sebagai pengingat akan legenda masa lalu, yaitu kisah Raja Jaya Pangus dan permaisurinya yang berasal dari Tiongkok, Kang Cing Wie.

Ratu Gede Mesolah (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam cerita rakyat Bali, Jaya Pangus dikenal sebagai raja yang bijaksana namun sering diuji oleh perjalanan hidupnya. Ia bertemu Kang Cing Wie, seorang perempuan berwatak lembut dan penuh kebijaksanaan. Keduanya menjalin hubungan yang membawa suasana damai di kerajaan. Namun, perbedaan latar belakang budaya serta berbagai cobaan membuat perjalanan mereka tidak selalu mulus.

 

Ratu Ayu Mesolah (Sumber: Koleksi Pribadi)

Meski kisah mereka sarat dengan dinamika, masyarakat Bali memaknai hubungan Jaya Pangus dan Kang Cing Wie sebagai simbol kesetiaan, cinta yang melampaui batas budaya, serta keharmonisan hidup. Kehadiran figur Barong Landung yang mewakili kedua tokoh tersebut diyakini membawa kebaikan bagi rakyat dan menjadi pengingat bahwa ketulusan dan keharmonisan adalah fondasi penting dalam kehidupan bersama.

Pementasan Barong Landung juga menjadi sarana edukatif bagi generasi muda. Melalui sesolahan ini, anak-anak dan remaja diperkenalkan pada filosofi budaya, nilai-nilai tradisi, serta pentingnya menjaga warisan leluhur.

Pertunjukan di Desa Singapadu melibatkan sekaa (kelompok seni) yang secara turun-temurun menjaga kesenian ini. Para penari biasanya terdiri dari anggota banjar yang telah mempelajari teknik gerak dan makna simbolik dari masing-masing figur. Selain penari, ada pula penabuh gamelan yang mengiringi pertunjukan dengan irama yang dinamis dan sakral, serta penyanyi sesandaran yang melantunkan pantun bersahutan sehingga menciptakan suasana mistis dan khidmat.

Sekaa Penabuh dalam Sesolahan Barong Landung (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di Desa Singapadu, Barong Landung biasanya dipentaskan saat piodalan di pura. Momen piodalan dianggap sebagai waktu paling sakral, ketika masyarakat menghaturkan rasa syukur, memohon keselamatan, dan menjaga keharmonisan alam. Kehadiran Barong Landung pada piodalan melambangkan perlindungan suci yang diberikan kepada desa dan umat yang melaksanakan upacara.

Di Singapadu, Barong Landung biasanya dipentaskan di area pura yang sedang melaksanakan piodalan. Pertunjukan dapat berlangsung di halaman tengah (jaba tengah), disesuaikan dengan bagian upacara yang sedang berjalan. Suasana pura yang dipenuhi penjor, dupa, dan iringan gamelan membuat pertunjukan semakin hidup dan sakral. Selama pementasan, penonton dapat merasakan suasana spiritual yang kuat. Harmoni antara gerakan, irama gamelan dan lantunan sesandaran, serta setting upacara membuat sesolahan ini terasa hidup dan memiliki kekuatan tersendiri.

Sesolahan Ratu Gede dan Ratu Ayu saat Piodalan di Desa SIngapadu (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sebagai bagian dari warisan budaya Bali, Sesolahan Barong Landung di Desa Singapadu menjadi bukti bagaimana masyarakat menjaga hubungan antara tradisi, spiritualitas, dan seni. Keindahan pementasan ini tidak hanya terletak pada visualnya, tetapi juga pada makna mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi.