Desa Pakraman Bebalang: Melestarikan Tri Hita Karana Melalui Tradisi dan Wisata Religi
Desa Pakraman Bebalang merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat Bali melestarikan budaya dan tradisi yang berakar pada filosofi Tri Hita Karana. Keberadaan Pura, gotong royong, dan pelestarian lingkungan hanyalah sebagian dari kekayaan budaya yang masih dipegang teguh oleh warga desa. Dengan adanya tradisi unik seperti Ngunying dan Megoak-goakan, Desa Pakraman Bebalang semakin kaya dan menjadi simbol kuat warisan budaya Bali.
Bali dikenal sebagai Pulau Dewata karena ritual keagamaan yang kental memengaruhi hampir setiap unsur dan gerak pada kehidupan masyarakat Bali. Hal ini menjadikan Bali tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, tetapi juga kebudayaan yang unik dan eksotis. Masyarakat Bali menganut falsafah hidup Tri Hita Karana yang memuat tiga unsur pembangunan keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Tri Hita Karana menjadi sumber kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Di Desa Pakraman Bebalang Bangli, penerapan konsep Tri Hita Karana sangat kental dan terjaga dengan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya Pura dan tempat suci yang ada di desa ini. Selain itu, masyarakat Desa Pakraman Bebalang juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Mereka selalu bekerja sama untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar.
Parhyangan, atau hubungan manusia dengan Tuhan, merupakan salah satu unsur Tri Hita Karana, yaitu konsep filosofis yang mendasari kehidupan masyarakat Bali. Parhyangan merupakan hubungan yang bersifat spiritual dan sakral, yang diwujudkan dalam bentuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Pada Desa Pakraman Bebalang, parhyangan tercermin dari keberadaan Pura, yaitu tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa-dewi. Pura-pura di Desa Pakraman Bebalang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat desa, yaitu sebagai tempat untuk beribadah, memohon berkah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap desa adat di Bali memiliki tiga pura utama, yang disebut sebagai Tri Kayangan Tiga. Ketiga pura utama ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, yaitu Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Bale Agung. Selain tiga pura utama tersebut, Desa Pakraman Bebalang juga memiliki banyak pura lain yang tersebar di seluruh desa. Pura-pura ini biasanya dibangun oleh masing-masing Banjar Adat atau Desa Adat untuk memuja dewa-dewi dan leluhur yang diyakini sebagai pelindung.
Unsur Tri Hita Karana yang kedua adalah Pawongan atau hubungan antara manusia dengan manusia. Tercermin dari hubungan harmonis dan saling menghargai yang terjalin di Desa Pakraman Bebalang. Hal ini terlihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan bersama-sama, seperti gotong royong, upacara adat, dan pertunjukan seni. Selain itu, pawongan di Desa Pakraman Bebalang juga tercermin dari jumlah penduduknya yang dikenal dengan "Gebog tiga ratus" atau dibagi menjadi tiga besaran, yaitu seratus Banjar Adat Bebalang, seratus Banjar Adat Tegal, dan seratus Banjar Adat Kelod Kauh. Kelod Kauh sendiri terdiri dari empat Banjar Adat, yaitu Banjar Adat Petak, Banjar Adat Sedit, Banjar Adat Gancan, dan Banjar Adat Sembung.
Unsur Tri Hita Karana yang ketiga adalah Palemahan atau hubungan manusia dengan alam Desa Pakraman Bebalang memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Hal ini terlihat dari banyaknya pohon-pohon rindang yang tumbuh di desa ini. Pohon-pohon tersebut tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga sebagai sumber oksigen dan air. Selain itu, masyarakat Desa Pakraman Bebalang juga sangat menjaga kelestarian alam sekitar. Mereka tidak membuang sampah sembarangan dan selalu menanam pohon. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sekitar untuk generasi mendatang.
Selain penerapan Tri Hita Karana yang masih terjaga di Desa Pakraman Bebalang, terdapat juga dua tradisi yang unik, yaitu Tradisi Ngunying dan Megoak-goakan. Tradisi Ngunying ini berasal dari kata unying yang berarti urek, lobangi, atau tusuk. Jadi nguying dapat diartikan berusaha melobangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan senjata keris, tombak pada saat berada dalam kondisi kerasukan. Namun, berbeda dengan tradisi Ngunying di Desa Bebalang, orang yang sedang kerasukan oleh Bhuta kala akan menari dengan memakan anak ayam yang masih hidup. Biasanya, Tradisi Ngunying ini dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan, yang bertempat di Jaba Pura Puseh Desa Bebalang.
Tradisi unik yang kedua yang ada di Desa Pakraman Bebalang adalah Megoak-goakan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada hari kedua setelah hari raya Nyepi. Megoak-goakan merupakan permainan tradisional yang dilakukan secara berkelompok yang dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing regu terdiri dari lima orang sampai 11 orang. Masing-masing kelompok berperan sebagai goak dan mangsa. Pemimpin dari goak harus berusaha untuk menangkap peserta dari lawan yang berada di baris paling belakang. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh kaum remaja dan dewasa dari berbagai Banjar Adat di Desa Pakraman Bebalang. Hal ini membuat tradisi ini menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan keakraban antar masyarakat.
Desa Pakraman Bebalang, memiliki dua objek wisata religi, yaitu Penglukatan Tirta Sudamala dan Penglukatan Mas Madewi. Penglukatan Tirta Sudamala terletak di Banjar Adat Sedit Bebalang Bangli. Penglukatan Tirta Sudamala merupakan tempat suci yang digunakan untuk melukat, yaitu upacara pembersihan diri secara spiritual. Air suci dari pancuran Tirta Sudamala dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik fisik maupun non-fisik. Pancuran Tirta Sudamala memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Sembilan pancuran tertinggi diyakini sebagai panglukatan Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa yang menjadi penguasa sembilan arah mata angin. Dua pancuran yang lebih rendah diyakini sebagai penglukatan Widyadara dan Widyadari.
Pancuran ini biasanya diperuntukkan bagi orang yang baru selesai menjalani upacara mepandes atau potong gigi. Selain itu, terdapat satu buah pancuran khusus yang dipergunakan ketika ada upacara Pitrayadnya. Air dari pancuran Tirta Sudamala sangat multifungsi, selain digunakan untuk pengobatan, air ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mengaliri sawah, diminum, dijual, bahkan air yang mengalir ke Sungai digunakan untuk mandi. Penglukatan Tirta Sudamala merupakan objek wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, objek wisata ini juga menawarkan keindahan alam yang asri.
Penglukatan Mas Madewi (Sumber : Koleksi Pribadi)
Penglukatan Mas Madewi merupakan tempat suci yang digunakan untuk melukat, atau upacara pembersihan diri secara spiritual. Air suci dari pancuran Tirta Mas Madewi dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik fisik maupun non-fisik, dan diyakini juga dapat memberikan kesuburan bagi pasangan yang belum mempunyai keturunan. Penglukatan Mas Madewi memiliki keunikan tersendiri, yaitu masyarakat yang ingin mandi di sekitaran sumber mata air Mas Madewi tidak boleh memakai sehelai kain atau pakaian. Kepercayaan ini didasarkan pada keyakinan bahwa air yang mengalir dari sumber mata air Mas Madewi memiliki sifat yang sakral dan suci.
Penglukatan Tirta Mas Madewi ini disucikan dan dihimbau bagi siapapun yang ingin mengambil tirta atau air dari penglukatan Mas Madewi ini agar mengaturkan paling tidak canang sari dan jika mandi tidak boleh memakai sehelai kain. Namun, jika hanya mengambil tirta atau air, boleh memakai pakaian adat. Keunikan tradisi mandi tanpa busana di Penglukatan Mas Madewi ini telah menarik perhatian banyak wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Tradisi ini juga telah menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi Desa Pakraman Bebalang.