Pura Dalem Sakenan: Jejak Spiritual Danghyang Nirartha di Pulau Serangan
Suatu pura penting yang terletak di wilayah selatan Bali, berada di atas pantai di barat laut Pulau Serangan, terdapat sebuah pura yang dikenal sebagai pura Kahyangan Jagat dan masih memiliki hubungan dengan Buddha, yaitu Pura Dalem Sakenan.
Umat Hindu menggunakan pura sebagai tempat ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai aspek dan manifestasinya. Ada empat jenis pura yang dikenal masyarakat Bali, yaitu Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Tiga, Pura Swagina, dan Pura Kawitan. Pura Kahyangan Jagat merupakan tempat suci dengan konsep Sanga Mandala atau Dewata Nawa Sanga. Dapat diartikan Pura Kahyangan jagat dikenal sebagai sembilan pura utama yang menjadi ”sthana” (tempat) sembilan Dewa Penjaga Arah Mata Angin.
Pura Dalem Sakenan adalah tempat suci dan tempat memohon keselamatan. Pura Dalem Sakenan sebagai tempat berstananya Hyang Sandhijaya juga disebut Tatmajuja, selalu menjaga ketenangan lautan (segara pakerti), penyelamat dunia dan merayascita segala macam kala bhuta, manusia, segala jenis penyakit dan menghilangkan segala jenis bencana di dunia.
Pura Dalem Serangan terletak di Desa Serangan, Kota Denpasar, Bali, adalah salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat yang di bangun dengan latar belakang wujud syukur orang yang merasa ”sira angen” dengan keindahan Pulau Serangan. Dahulu Pura Dalem Sakenan disebut dengan "Sakyamuni", yang berarti "Buddha" dalam sejarah Siwa Buddha di Bali. Sejarah Pura Dalem Sakenan tidak bisa lepas dari perjalanan orang-orang suci, seperti Danghyang Nirarta dan Empu Kuturan.
Madya Mandala Pura Dalem Sakenan (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)
Pura Dalem Sakenan awalnya hanya berbentuk sebuah batu bersinar yang ditemukan oleh Danghyang Astapaka ketika melakukan perjalanan ke Bali pada tahun 1530 M, akhirnya membuat sebuah Pura. Lalu Pedanda Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha) datang ke Bali melihat pura itu dan menyempurnakannya dengan melakukan upacara. Pura tersebut kemudian dinamakan Pura Dalem Sakenan.
Pura Dalem Sakenan berkonsep swamandala, terdiri dari pelinggih-pelinggih dan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya. Pura Dalem Sakenan terdiri atas dua pelebah, yaitu Pura Dalem Sakenan dan Pura Pesamuan atau Penataran Agung Sakenan. Pura ini mempunyai tiga halaman (trimandala): Uttama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Masing-masing halaman dibatasi oleh tembok keliling lengkap dengan Kori Agung, Apit Lawang dan Bebetelan. Pada puncak kori agung dipahatkan hiasan kepala Kala. Di dalam Uttama Mandala terdapat sejumlah pelinggih, seperti Candi, Bale Tajuk, Bale Pesandekan, dan Apit Lawang.
Pura Dalem Sakenan (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)
Di depan Candi Kurung yang menghubungkan Uttama Mandala dan Madya Mandala terdapat dua buah arca Ganesha yang mengapit Candi Kurung. Madya Mandala ini seluruhnya dikelilingi oleh tembok dan lengkap dengan Candi Bentar pada sisi sebelah baratnya dan Petetesan pada sisi utara dan timurnya. Di Nista Mandala hanya berupa halaman kosong.
Bangunan pelinggih yang ada di utama mandala yakni bebatuan berupa Padma Capah stana Ida Batara Masjati, juga sebagai pemujaan Jro Dukuh Sakti. Meru Tumpang Tiga stana Batara Batur, Intaran, Ida Batara Muter. Gedong Jati stana Ida Ratu Ayu, Gedong (Tajuk) stana Batara Buitan dan Batara Muntur. Ada pula bale gede atau bale paruman fungsinya sebagai tempat pesamuan para pemangku, dan juga tempat penyucian pratima Ida Batara dan tempat para sulinggih dan para raja pada saat ada upacara pujawali.
Pujawali (Perayaan Agung) dan Piodalan (Ulang tahun) Pura Dalem Sakenan jatuh pada hari Sabtu Kliwon Kuningan menurut kalender Pawukon Bali yang panjangnya adalah 210 hari. Perayaan berlangsung selama tiga hari dengan puncaknya pada hari Minggu. Perayaan bertepatan dengan perayaan Hari Raya Kuningan, 10 hari setelah Galungan, biasanya perayaan tersebut juga diramaikan berbagai pentas seperti Tari Barong hingga Tari Topeng.
Setelah tiba di Pulau Serangan, para pemedek (peziarah) singgah di Pura Susunan Wadon terlebih dahulu, yang berlokasi di sebelah timur Pura Sakenan. Selanjutnya ke Pura Susunan Agung, barulah Pura Dalem Sakenan, yang dekat pantai paling barat dari Pulau Serangan. Dalam kajian sastranya rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat pengertian Purusa, Pradhana, dan Susunan Agung sebagai "Lingga", "Yoni", dan tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana (penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup. Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Susunan Lanang dan Susunan Wadon. Juga terjadi hal yang sama pada saat kehadiran Dang Hyang Nirartha, sehingga sebagai penghormatan kepadanya, maka dibuatlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupaan penyatuan antara Siwa dan Budha.