Eksplorasi Desa Adat Pinge: Desa Adat yang Mempertahankan Pesona Bali Tempo Dulu

Desa adat di Bali merupakan kesatuan masyarakat yang menjalankan hukum adat, dengan wilayah, tradisi, dan kedudukan yang diwariskan secara turun-temurun. Tiap desa adat di Bali memiliki keunikan tersendiri, mulai dari lingkungan, tradisi, hingga tempat suci yang khas. Salah satu contoh desa adat di Bali adalah Desa Adat Pinge.

Mar 13, 2026 - 05:03
Feb 9, 2026 - 21:40
Eksplorasi Desa Adat Pinge: Desa Adat yang Mempertahankan Pesona Bali Tempo Dulu
Desa Adat Pinge (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Pulau Bali yang sering disebut sebagai Pulau Dewata dapat memikat hati dengan keindahan alam seperti gunung, danau, air terjun, dan lainnya yang menenangkan. Di sisi lain, Pulau Bali juga memiliki budaya yang beragam. Keberagaman budaya ini mencakup berbagai seni, adat istiadat, dan upacara keagamaannya. Meskipun begitu, terdapat aspek keberagaman budaya yang sering kali terabaikan, yaitu desa adat. Desa adat di Bali merupakan kesatuan masyarakat yang menjalankan hukum adat, dengan wilayah, tradisi, dan kedudukan yang diwariskan secara turun-temurun. Tiap desa adat di Bali memiliki keunikan tersendiri, mulai dari lingkungan, tradisi, hingga tempat suci yang khas. Salah satu contoh desa adat di Bali adalah Desa Adat Pinge.

Desa Adat Pinge terletak di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 140 hektar dan terletak pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Penduduk Desa Pinge berjumlah sekitar 165 kepala keluarga atau sekitar 816 orang. Untuk menuju desa ini jarak yang perlu ditempuh sekitar 34 km dari pusat Kota Denpasar, dan jika menggunakan sepeda motor, waktu tempuh menuju desa ini memerlukan sekitar 1 jam perjalanan.

Menurut keterangan dari Bendesa Desa Adat Pinge, I Made Jadrayasa, sejarah dari nama Desa Adat Pinge dimulai pada masa kerajaan di mana Raja Bali, yaitu Anak Agung Gede Agung dari Puri Marga, setiap hari mencium aroma yang sangat harum. Sang paman kemudian diutus untuk mencari asal aroma harum tersebut. Sumber aroma harum tersebut ternyata berasal dari sebuah pohon cempaka putih yang tumbuh sangat besar di sekitar Pura Natar Jemeng. Kata "pinge" sendiri, menurut penduduk setempat, memiliki arti "putih". Sejak saat itu, tempat di mana cempaka putih tersebut tumbuh besar dikenal sebagai Banjar Pinge atau Desa Adat Pinge, dan nama tersebut terus digunakan hingga saat ini.

Dalam desa adat ini, hanya terdapat satu banjar, yaitu Banjar Pinge. Agar memenuhi syarat sebagai suatu desa adat, Desa Adat Pinge memiliki Pura Kahyangan Tiga. Pura tersebut yakni Pura Desa, yang menjadi tempat pemujaan Dewa Brahma dan memiliki peran sebagai representasi alam semesta. Selain itu, terdapat Pura Puseh, di mana Dewa Wisnu dipuja sebagai pemelihara, dan Pura Dalem, yang digunakan untuk memuja Dewa Siwa dalam bentuk Dewi Durga dan berfungsi sebagai pemralina alam semesta. Selain Pura Kahyangan Tiga, terdapat pula berbagai pura lain di Desa Adat Pinge, seperti Pura Dang Khayangan yakni Pura Natar Jemeng, dan Pura Subak.

Di tengah kemajuan modernisasi yang pesat, Desa Adat Pinge tetap mempertahankan keaslian tata ruang wilayahnya dengan mengikuti pola pemukiman tradisional. Konsep Tri Hita Karana dengan asta kosala kosali masih diterapkan secara konsisten, baik dalam skala desa maupun di rumah-rumah penduduk. Desa Adat Pinge menggunakan satu jalan utama sebagai pedoman untuk penataan pemukiman masyarakat. Hal ini telah ditetapkan berdasarkan peratutan desa adat Pinge (awig-awig) yang ada, dimana masyarakat dilarang untuk membangun perumahan, warung, bengkel dan bangunan sejenis lainnya melewati tembok pembatas (tembok penyengker). Konsep Tri Hita Karana, yang terdiri dari parahyangan, pawongan, dan palemahan, tercermin dengan jelas pada tingkat desa, terutama melalui keberadaan tiga pura utama, yaitu pura desa, puseh, dan dalem. Struktur Desa Wisata Pinge tetap bersatu dalam satu banjar, menciptakan kesatuan yang erat.

Salah Satu Rumah Warga di Desa Adat Pinge (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Pada tingkat pemukiman masyarakat, tata ruangnya masih mempertahankan struktur bangunan tradisional. Misalnya, adanya sanggah atau bale dangin sebagai tempat tinggal dan tidur yang terletak di utara, paon dapur di arah barat daya untuk memasak, dan lumbung sebagai tempat penyimpanan padi di sebelah timur atau utara dapur, atau di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah. Setiap rumah juga memiliki teba, yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan ternak atau menanam sesuatu.

Simbol Pis Bolong sebagai Nomor Rumah Warga (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Desa Adat Pinge memiliki beberapa seni tradisional seperti pertunjukan tari bumbung gebyog dan leko. Selain itu, terdapat juga tradisi unik untuk menghitung jumlah penduduk yang disebut dengan istilah cacah jiwa. Proses cacah jiwa ini dijalankan setiap enam bulan sekali, seiring dengan perayaan piodalan di Pura Dalem Desa Adat Pinge. Dalam pelaksanaannya, setiap kepala keluarga membawa petekan atau pis bolong sesuai dengan jumlah anggota keluarganya, kemudian menyerahkan ke prajuru di Pura Dalem. Setelah semua pis bolong terkumpul, mereka dihitung, dan hasilnya mencerminkan jumlah total warga di Desa Adat Pinge. Selanjutnya, semua pis bolong bersama canang sari dihaturkan kepada Ida Sesuhunan di Pura Dalem.

Akhir kata, Desa Adat Pinge menunjukkan teladan yang sangat baik tentang bagaimana warisan tradisi dan budaya dapat tetap dijaga dan dilestarikan meski kini dunia telah digempur oleh modernisasi. Dengan sejarah yang kaya dan nilai-nilai budaya yang kokoh, Desa Adat Pinge dapat terus berperan sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi generasi yang akan datang.