Pura Dalem Susunan Wadon: Ruang Sakral Tradisi Kematian Masyarakat Pulau Serangan
Pura Dalem Susunan Wadon merupakan ruang suci yang berperan penting dalam tradisi kematian masyarakat Pulau Serangan. Pura ini menjadi pusat ritual penghormatan leluhur dan penyucian roh, sekaligus mencerminkan nilai spiritual, kesinambungan tradisi, dan identitas budaya masyarakat Serangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Pura Dalem Susunan Wadon merupakan salah satu pura kuno yang menyimpan nilai sejarah, arkeologi, dan spiritual yang kuat di kawasan Pulau Serangan, Bali. Letaknya sendiri cukup berdekatan dengan Pura Sakenan, yang dimana jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Hal ini menjadikan Pura Dalem Susunan Wadon menjadi bagian yang penting dari lanskap religius di wilayah pesisir selatan Denpasar. Keunikan Pura Susunan Wadon sudah tampak sejak dari namanya. Kata “wadon” yang berasal dari bahasa Jawa berarti perempuan, sebuah istilah yang jarang digunakan dalam penamaan pura di Bali, sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri sekaligus menandakan adanya pengaruh budaya lintas wilayah pada masa lampau.
Kawasan Jaba Tengah Pura Dalem Susunan Wadon (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dari segi tata ruang, Pura Susunan Wadon tetap mengikuti pakem arsitektur pura Bali pada umumnya, yaitu konsep Tri Mandala. Kawasan pura dibagi menjadi tiga halaman utama: jabaan sebagai halaman luar, jaba tengah sebagai halaman peralihan, dan jeroan sebagai halaman paling suci. Susunan ini mencerminkan filosofi keseimbangan antara ruang profan dan sakral. Berdasarkan kajian sejarah dan arsitektur, pura ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mengwi sekitar abad XVI-XVII Masehi. Kesimpulan tersebut didukung oleh kemiripan gaya bangunan pura dengan Pura Uluwatu dan Pura Taman Ayun, yang sama-sama menjadi peninggalan penting dari periode tersebut.
Prasada Pura Dalem Susunan Wadon (Sumber: Koleksi Pribadi)
Keistimewaan Pura Dalem Susunan Wadon semakin kuat dengan ditemukannya tinggalan arkeologi berupa bangunan candi atau prasada yang berada di halaman dalam pura. Prasada ini terbuat dari batu kapur dan memiliki struktur khas yang terdiri atas kaki candi, badan candi, serta atap candi. Atapnya hanya memiliki satu tingkatan dan menghadap ke arah timur, dengan bentuk ramping yang menyerupai candi-candi di Jawa Timur.
Berdasarkan kajian arkeologi, bangunan ini diperkirakan berasal dari abad XIV–XV Masehi, sehingga menunjukkan bahwa kawasan ini telah memiliki peran penting jauh sebelum masa Kerajaan Mengwi. Prasada tersebut telah dipugar pada tahun 1991 oleh BP3 Bali, NTB, dan NTT, serta kini resmi terdaftar sebagai Bangunan Cagar Budaya, menandakan nilai historisnya yang tinggi.
Halaman Depan Pura Dalem Susunan Wadon (Sumber: Koleksi Pribadi)
Secara keseluruhan, Pura Susunan Wadon tergolong sebagai pura kahyangan dengan luas area sekitar 400 meter persegi dan luas bangunan utama sekitar 12 meter persegi. Meski tidak terlalu luas, pura ini memiliki peran spiritual yang penting bagi masyarakat setempat. Salah satu upacara keagamaan yang rutin dilaksanakan di pura ini adalah Manis Kuningan, yang menjadi momentum sakral untuk memohon keselamatan dan keharmonisan. Hingga saat ini, Pura Dalem Susunan Wadon terus dirawat, dijaga, dan dipelihara oleh warga Desa Pekraman Serangan. Kepedulian masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa Pura Susunan Wadon bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga ruang hidup yang tetap berfungsi sebagai pusat spiritual dan identitas budaya bagi generasi masa kini.