Wana Pingit : Hutan yang disakralkan dan dijadikan sebagai simbol penolak bala
Bali memang tidak pernah lepas dari keindahan alamnya, memiliki julukan sebagai Pulau Seribu Pura dan tradisi serta budaya yang beragam membuat wisatawan dari manca negara penasaran untuk mengunjugi pulau tercinta ini. Selain itu, Bali memiliki banyak sekali tempat yang religius dan sejarah-sejarah yang begitu banyak, salah satunya yaitu Hutan yang di sakralkan yang disebut sebagai Wana Pingit. Wana Pingit atau Hutan Sakral sangat banyak terdapat di Bali, dimana antara lain terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri. Dimana disana juga terdapat Pura Luhur Pakedungan dimana pura ini dekelilingi oleh Wana Pingit yang membuat Pura ini terasa ada jauh di dalam hutan. Memiliki sejarah yang begitu menarik yang dimana dikatakan pura ini sudah berdiri bahkan sebelum tokoh terkenal yang sudah tidak asing lagi yaitu Dang Hyang Nirata atau lebih dikenal dengan Pedanda Sakti Wawu Rauh melakukan perjalan dari Jawa Timur ke Bali untuk menyebarkan ajaran Agama Hindu di Bali.
Pura Luhur Pakendungan adalah salah satu pura terpenting di Kabupaten Tabanan, Bali. Pura ini terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, dan merupakan tempat pemujaan Dewa Wisnu. Di dalam pura ini terdapat sebuah wana pingit, atau hutan suci yang memiliki sejarah dan legenda yang menarik. Menurut Sejarah, Wana Pingit ini didirikan oleh seorang tokoh suci bernama Mpu Kuturan pada abad ke-12. Mpu Kuturan adalah seorang pendeta Hindu yang berasal dari Jawa Timur, Ia datang ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu dan mendirikan pura-pura di berbagai tempat. Pura ini dikelilingi oleh hutan yang luas dan menjadi salah satu pura yang cukup tua dimana sudah melewati berbagai zaman pemerintahan kerajaan-kerajaan kuno bahkan sebelum majapahit mengusai Bali.
Pura Luhur Pakendungan (sumber: koleksi penulis)
Menurut legenda, Mpu Kuturan datang ke Tanah Lot untuk mencari tempat yang tepat untuk mendirikan pura yang akan dipersembahkan kepada Dewa Wisnu. Setelah bertapa selama beberapa hari, ia akhirnya menemukan sebuah tempat yang cocok di sebuah bukit yang terletak di Desa Beraban. Mpu Kuturan kemudian mulai membangun pura di tempat tersebut, Namun, ia tidak sendirian, Ia dibantu oleh para pengikutnya, termasuk para Dewa dan makhluk halus dari kahyangan. Dalam proses pembangunan pura, Mpu Kuturan sering kali diganggu oleh makhluk halus yang mendiami hutan di sekitar tempat tersebut. Makhluk halus tersebut tidak ingin Mpu Kuturan membangun pura di tempat itu karena mereka merasa terganggu.
Pelinggih Patok Wana Pingit (sumber : koleksi penulis)
Wana pingit ini memiliki luas sekitar 10 hektare, hutan ini didominasi oleh pohon-pohon besar dan lebat, seperti pohon beringin, pohon kelapa, dan pohon kamboja. Di dalam wana pingit ini terdapat berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Beberapa jenis tumbuhan yang dapat ditemukan di wana pingit ini antara lain kayu manis, cengkih, dan pandan. Beberapa jenis hewan yang dapat ditemukan di wana pingit ini antara lain kera, rusa, dan burung. Wana pingit ini memiliki nilai religius dan spiritual yang tinggi bagi umat Hindu di Bali. Hutan ini dianggap sebagai tempat suci yang dihuni oleh roh-roh leluhur atau dewa-dewa. Oleh karena itu, wana pingit ini sering kali digunakan sebagai tempat untuk melakukan upacara keagamaan, seperti pemujaan, persembahyangan, atau penyucian.
Pada setiap tahunnya, wana pingit ini selalu ramai dikunjungi oleh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali. Mereka datang untuk melakukan upacara keagamaan atau untuk bersembahyang di pura yang terletak di dalam wana pingit tersebut. Selain memiliki nilai religius dan spiritual, wana pingit ini juga memiliki nilai ekologis yang tinggi. Hutan ini merupakan bagian dari ekosistem penting di Tanah Lot. Hutan ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan, seperti mencegah terjadinya banjir dan longsor. Wana pingit ini juga merupakan tempat yang cocok untuk berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Hutan ini menyediakan habitat yang nyaman bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan untuk hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, wana pingit ini perlu dijaga dan dilestarikan. Hutan ini merupakan aset penting bagi masyarakat Bali, baik dari segi religius, spiritual, maupun ekologis. Cerita dari leluhur desa adat Beraban ini berhasil membuat generasi berikutnya tetap mau menjaga wana pingit ini yang dimana mengurangi pengeksplotasian hutan berlebihan, sehingga membuat wilayah disana mengurangi dampak bencana alam atau Bala.
Wilayah Wana Pingit (sumber : koleksi penulis)
Selain itu setiap tahunnya, wana pingit Pura Luhur Pakendungan selalu diselenggarakan upacara Wana Kertih. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan wana pingit tersebut. Upacara Wana Kertih biasanya diselenggarakan pada bulan Desember, dimana diikuti oleh ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Bali. Upacara Wana Kertih dimulai dengan upacara penyiraman atau ngadegan tapini. Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara penyucian atau pemelaspasan.