Mengenal Desa Adat Subamia dan Kehidupan Masyarakat di Desa Subamia

Desa Subamia merupakan desa yang terletak di Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali Yang Dikenal Sunyi dan Masyarakat di Desa Ini Dikenal Ramah dan Saling Bergotong Royong.

Jun 4, 2026 - 00:11
Jun 4, 2026 - 18:58
Mengenal Desa Adat Subamia dan Kehidupan Masyarakat di Desa Subamia
Tugu Selamat Datang Desa Subamia (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Desa Subamia, merupakan desa yang terletak di Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa ini belum banyak turis asing yang berkunjung ke desa ini, dikarenakan desa ini tidak terlalu ramai dibandingkan dengan desa lainnya. Dan juga luas dari desa ini tidaklah begitu besar, panjang desa ini mencapai 2,38 kilometer persegi.

Akses jalan ke desa ini terhubung dengan jalan di Pesiapan dan di Jalan Batukaru, jika ingin berkunjung dan pulang dari Desa Subamia. Namun, jalanan di Subamia pada tahun lalu belum diperbaiki, ada jalanan aspalnya yang berlubang yang begitu besar sehingga pengendara yang melintasi desa ini harus berhati-hati, ditambah jalanan yang dipenuhi oleh pasir yang membuat pengendara menjadi harus hati-hati ketika ingin melintasi desa ini. Naum sekarang, kondisi jalan di Desa Subamia sudah diperbaiki dan orang yang melintasi desa ini menjadi aman.

Tugu Desa Subamia (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Desa Subamia berasal dari kata "Suba" dan "Ramai", dan jika diartikan maskud dari kedua kata tersebut, berarti "Sudah Ramai". Dulu sebelum orang mendiami desa ini, suasana di desa ini masih terbilang sepi, dikarenakan dulunya masih sedikit orang yang tinggal di Desa Subamia ini. Ketika mulai ada orang yang mendiami desa ini, perlahan-lahan penduduk di desa ini mulai ramai, sehingga nama Desa Subamia terbentuk.

Dalam desa ini, ada pembagian 4 banjar yang berada di Desa Subamia, yaitu ada Banjar Subamia Kelong, Banjar Subamia Bale Agung, Banjar Subamia Dencarik, dan Banjar Subamia Ambal-Ambal. Dan masing-masing dari bale banjar diatur oleh kelian adatnya masing-masing.

Desa Adat Subamia (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Masyarakat di desa subamia dikenal memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong ketika ada acara di desa mereka. Dan mereka juga melakukan persembahyangan seperti mebanten setiap paginya secara serentak, sehingga mereka dikenal rajin dalam melakukan persembahyangan. Selain melakukan persembahyangan, mereka juga ikut berpartisipasi dalam menghadiri acara di desa tersebut. Biasanya ada masyarakat yang membuat lawar yang dihidangkan ketika tamu menghadiri acara yang digelar.

Saya mewawancarai mangku dalem di Desa Subamia, nama lengkap dari mangku dalem yang saya wawancarai bernama Gusti Ayu Ketut Arianingsih. Dan ketika saya menanyakan tentang kehidupan masyarakat serta pura yang berada di Desa Subamia, beliau mengatakan bahwa terdapat empat pura di Desa Subamia, yaitu Pura Kahyangan Desa, Pura Kahyangan Puseh, Pura Kahyangan Dalem, serta Pura Kahyangan Prajapati. Dan pura tersebut tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, dikarenakan orang yang boleh masuk di keempat pura tersebut merupakan orang yang melakukan persembahyangan, serta melakukan ritual lainnya.

Bale Serbaguna Subamia (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Biasanya, masyarakat pada saat ada upacara keagamaan seperti hari raya Galungan dan Kuningan, Siwaratri dan hari besar umat hindu lainnya, banyak masyarakat di desa ini melakukan odalan dan juga melakukan persembahyangan. Pada hari Siwaratri, masyarakat melakukan persembahyangan dari pagi hari sampai jam lima pagi pada esok harinya.

Beliau mengatakan bahwa Pura Kahyangan Prajapati dan Pura Kahyangan Dalem merupakan pura yang dikenal angker, karena posisi dari kedua pura tersebut berada di dekat kuburan atau orang Bali menyebutnya “Setra”.

Pura Kahyangan Prajapati (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Dan ada orang "melukat" atau pembersihan jiwa di Pura Kahyangan Dalem dengan tujuan agar penyakit yang di dalam diri mereka bisa dihilangkan. Biasanya, masyarakat Bali menyebutnya sebagai “Nebus”, dengan cara mengembalikan atma yang terserang penyakit ke Ida Bhatara atau Tuhan agar penyakit di dalam atma mereka bisa dihilangkan. Kadang-kadang ada orang di desa ini pada jam 12 malam yang melukat di Pura Kahyangan Dalem.

"Ada orang melukat ke Pura Kahyangan Dalem ini, kadang-kadang ada yang melakukan pemelukatan jam 12 tengah malam, dengan tujuan untuk mengembalikan atma ke Ida Bhatara yang diserang oleh penyakit agar penyakitnya bisa dihilangkan atau atma di badannya tidak berat lagi". Kata Mangku Dalem Subamia Gusti Ayu Ketut Arianingsih.

Pura Kahyangan Dalem (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Jika berbicara tentang tradisi, dulu ada tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Subamia, terutama bagi anak muda, seperti tari dan memainkan alat musk gamelan. Namun sekarang, hanya beberapa saja yang memainkan alat musik gamelan dan belajar seni tari, dikarenakan anak muda jaman sekarang kebanyakan memainkan smartphone atau ponsel pintar sehingga anak muda malas melakukan kegiatan.

Aturan yang berlaku di Desa Subamia ini terbilang cukup ketat, jadi siapa saja yang ingin melakukan tindakan kejahatan berupa mencuri, menggunakan ilmu hitam atau sebagainya, para pihak desa akan mencari orang tersebut, bahkan bisa sampai di usir dari desa jika sudah sering melakukan tindakan kejahatan.

Suasana Desa Adat Subamia ( Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Mangku dalem Gusti Ayu Ketut Arianingsih bercerita tentang kejadian yang terjadi di Desa Subamia ini. Beliau mengatakan bahwa di desa ini pernah terjadi pencurian akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan karena desa ini tidak ramai seperti desa lain dan selalu sepi jika tidak ada acara maupun kegiatan lainnya, sehingga ada barang yang hilang di desa ini. Bahkan, tempat tirta yang ada di masing-masing pura pada desa tersebut dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, penduduk Desa Subamia melakukan ronda setiap tiga kali seminggu, dengan tujuan agar desa aman dari para penjahat yang ingin melakukan aksi kejahatan.

Pengendara Yang Melintasi Desa Adat Subamia (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Meskipun desa ini memiliki keindahan alam yang memukau dengan suasana desa yang begitu indah dan sunyi, namun belum tentu desa yang sunyi menjadi aman dari tindakan kejahatan yang terjadi di desa ini. Karena bisa saja penjahat bisa melakukan aksinya ketika tidak ada orang di sekitar desa ini.