Keterkaitan Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa dengan Pura Besakih

Desa Adat Tohjiwa, terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, menjadi simbol kekayaan sejarah dan keagamaan. Keterkaitannya dengan Pura Besakih terungkap melalui lontar Purana Pura Besakih, di mana raja memberikan persembahan berupa sawah untuk laba pura di Tohjiwa. Kutipan lontar juga mengungkapkan silsilah keturunan, termasuk peran penting Ida Tohjiwa dalam pembangunan Pura Besakih. Desa ini erat terhubung dengan sejarah Bali, termasuk kontribusinya dalam membangun Pura Besakih. Pura Puseh Tohjiwa, dengan pelinggih meru tumpang tiga dan Pura Catur Lawa, menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan dan warisan spiritual, mengikat Desa Adat Tohjiwa sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Bali yang kaya.

Jul 18, 2026 - 05:38
Jul 17, 2026 - 22:17
Keterkaitan Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa dengan Pura Besakih
Pura Desa dan Puseh Desa Adat Tohjiwa (Sumber Foto : Pujangga Nagari Nusantara)

Pulau Bali, dengan keindahan alamnya dan kekayaan budayanya, tersembunyi di balik tirai sejarah yang penuh warna. Salah satu tempat yang mencerminkan kekayaan sejarah dan keagamaan Bali adalah Desa Adat Tohjiwa, yang memiliki Pura Puseh sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Terletak di wilayah Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, Desa Adat Tohjiwa menjadi saksi hidup perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Bali.

Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa dan Pura Besakih memiliki keterkaitan yang erat. Keterkaitan ini dapat ditelusuri dari sejarah Desa Adat Tohjiwa yang berkaitan dengan Pura Besakih. Keterkaitan ini dimuat pada sebuah lontar yang bernama Purana Pura Besakih. Dalam lontar tersebut tersebut terdapat petikan yang seperti berikut ini.

"Nian cinaritan, aturan Ida Dhalem, kinaran : sawah pecanigaan, pecanangan, daging gumi Tohjiwa, namaning sawah: Kepasekan, Bugbugan, Lenging Ngongang, Lod Umah, Dawuh Kutuh, pigung winih 12 tenah, asigar katur ring I DEWA BUKIT KIDUL, sebagi katur ring I DEWA BUKIT PENGUBENGAN, sebagi katur ring I DEWA DANGIN KRETEG, sebagi pada winih tigang tenah rong depuk, sepuri puri”.

Arti dari kutipan lontar tersebut adalah sebagai berikut

Disebutkan,persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga, Batara Dewa Dangin kreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat sawah berbibit 3 tenah 2 depuk.

Pelinggih Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa (Sumber Foto: Pujangga Nagari Nusantara)

Bedasarkan kutipan dari Lontar Raja Purana Besakih diatas lebih pada menyatakan nama suatu tempat atau lahan pertanian yaitu sawah. Selain itu disebutkan juga sisilah  keturunan dalam Lontar Raja Purana Besakih pada kutipan berikut:

"Caritaken Pangeran Jrantik Ketut ring Camengaon. Tereh Arya Kanuruhan: Pangeran Pegatepan, Tangkas, Brangsinga. Tereh Pangeran Dawuh Bale Agung, mantreng Pakisan Tereh Pangeran Petandakan: Pangeran Bungaya, Asak, Tereh Arya Wang Bang: Penataran, Tohjiwa, Singarsa. Tereh Arya Kenceng: Ngurah Tabanan, Badung. Tereh Arya Belog: Buringkit, Kaba-kaba. Tereh Wang Bang: Pering, Cagahan. Tereh Arya Kuta Waringin : Kubon Tubuh."

Arti dari kutipan lontar tersebut adalah sebagai berikut

Pangeran Srantik di Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran Pagatepan dan Pangeran Tangkas. Pangeran Pangalasan menurunkan: Srantik ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan keturunan Pangeran Dauh Bale Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri Dalem Kepakisan yang keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang Penataran, Tohjiwa, Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan.

Dalam kutipan diatas disebutkan Tereh dengan nama Tohjiwa, yang tidak lain adalah Ida Tohjiwa. Ida Tohjiwa adalah salah satu tokoh penting dalam pembangunan Pura Besakih. Ialah yang memprakarsai pembangunan Pura Penataran Agung Besakih, yang merupakan pura utama di kompleks Pura Besakih.

Pada kutipan tersebut disebutkan bahwa Ida Tohjiwa merupakan keturunan dari Arya Wang Bang, yang termasuk rumpun warga Pengalasan. Arya Wang Bang adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Bali. Ialah yang memimpin pasukan Majapahit dalam penaklukan Bali pada abad ke-14.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa Desa Adat Tohjiwa memiliki hubungan yang erat dengan Pura Besakih. Desa Adat Tohjiwa merupakan salah satu desa adat yang berkontribusi dalam pembangunan Pura Besakih. Selain itu, Desa Adat Tohjiwa juga merupakan salah satu desa adat yang berada di bawah naungan Pura Besakih.

Dalam buku karya David J. Stuart-Fox dijelaskan juga, Ida Manik Angkeran (Arya Wangbang) mempunyai empat orang putra, yaitu Ida Tulus Dewa, Ida Banyak Wide, Ida Wayabya, dan Sang Manikan (dari ibu yang berbeda), yang menjadi leluhur dari empat kelompok keturunan yang saling berkaitan (warga) yakni berturut turut, Arya Bang sidemen, Arya Pinatih, Arya Bang Wayabya dan Manikan. Putra yang menjadi perhatian kita, yakni Ida tulus Dewa mempunyai dua orang putra, yaitu Ida Penataran dan Ida Tohjiwa. Lebih memilih pengaruh politik dibandingkan dengan gengsi sebagai paderi, Ida Penataran menikah kedalam sebuah keluarga arya yang terkenal di Kerajaan Gelgel, karena itu dia kehilangan status brahmananya dan menjadi I Gusti Penataran. Beliau diwariskan kuasa atas wilayah yang sekarang menjadi daerah Karangasem Barat dengan tempat kediaman di Sidemen (Tabola), Muncan, dan Besakih. Saudaranya tinggal di Tohjiwa, kemudian salah satu dari garis cabang keturunannya pindah ke Selat.

Dari kutipan tersebut, saudara I Gusti Penataran yang dimaksud dalam penjelasan tersebut adalah Ida Tohjiwa, maka kata atau nama "Tohjiwa" menjadi nama tempat tinggal kekuasaan beliau. Nama Beliau ida Tohjiwa diberikan karena karakter dari beliau yang pemberani berjiwa perwira sejati yang siap mempertaruhkan jiwanya.

Pelinggih Meru Tumpang Tiga Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa (Sumber Foto: Pujangga Nagari Nusantara)

Untuk menghormati jasa beliau yaitu Ida Tohjiwa maka dibangunlah pelinggih meru tumpang tiga yang ada di Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa. Selain itu juga dibuktikan dengan adanya Bhatara Turun Kabeh simpang ke Pura Puseh Tohjiwa karena adanya hubungan keturunan Mpu Sidhimantra yaitu Putra Beliau Ida Bang Manik Angkeran yang Menurunkan Ida Tulus Dewa dan berputra Ida Tohjiwa dan Ida Penataran. Ida Tohjiwa diberikan kekuasan tinggal di Tohjiwa. Oleh karena itu Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa erat kaitannya dengan Pura Besakih.

Terdapat juga Pura Catur Lawa, yang menjadi pengabe Pura Puseh Tohjiwa. Pura Catur Lawa ini ada di Desa Adat Tohjiwa karena Desa Adat Tohjiwa adalah dulunya Desa Adat Tua yang memiliki hubungan erat dengan Pura Besakih seperti yang dijelaskan diatas. Pura ini, terdiri dari Pura Ratu Laga Kangin, Pura Ratu Laga Kauh, Pura Dalem Lingsir/Dalem Catur, dan Pura Penataran Temaga, tersebar di empat penjuru mata angin. Pura Puseh Tohjiwa sebagai titik pusat ditengah maka di Pura Catur Lawa Sebagi Pengabih dengan posisi di empat penjuru yaitu sebelah Timur Laut Pura Ratu Laga Kangin (Lokasi wilayah Banjar Tohjiwa), di Tenggara Pura Dalem Lingsir (Lokasi wilayah Banjar Tohjiwa), di Barat Laut Pura Penataran Temaga (Lokasi wilayah banjar Temaga), dan di Barat Daya Pura Ratu Laga Kauh (Lokasi wilayah banjar Tohjiwa).

Denah Pura Catur Lawa Desa Adat Tohjiwa (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Dengan demikian, Pura Puseh Desa Adat Tohjiwa tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga penjaga nilai-nilai keagamaan dan spiritual yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Keterkaitannya dengan Pura Besakih tidak hanya dalam ranah keagamaan, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dan budaya Bali yang kaya.