Barong Kuring : Tradisi unik di Bangli yang kini tinggal kenangan

Barong Kuring adalah tradisi ngelawang unik dari empat bersaudara di Banjar Lumbuan, Susut, Bangli, yang memilih hidup sebagai sukla brahmacari (tidak menikah seumur hidup). Berawal dari wahyu spiritual untuk mengatasi kesulitan ekonomi dan kewajiban mengaben orang tua, mereka berkeliling membawa tapel rangda dengan iringan gamelan sederhana

May 8, 2026 - 05:16
May 8, 2026 - 14:10
Barong Kuring : Tradisi unik di Bangli yang kini tinggal kenangan
Gambar Ilustrasi Barong Kuring

Di tengah kekayaan budaya Bali yang begitu beragam, terdapat sebuah tradisi unik yang sayangnya kini hanya tersisa dalam memori dan dokumentasi. Barong Kuring, sebuah tradisi ngelawang yang dilakukan oleh empat bersaudara di daerah Susut, Bangli, menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang mengubah lanskap budaya masyarakat setempat.

Mengenal Barong Kuring

Barong Kuring merupakan salah satu jenis barong yang ada di Kabupaten Bangli. Berbeda dengan barong-barong lainnya yang umumnya ditampilkan oleh sebuah banjar atau desa adat, Barong Kuring memiliki keunikan tersendiri dalam pelaksanaannya. Nama "kuring" sendiri dalam bahasa Bali memiliki makna yang terkait dengan kondisi atau keadaan tertentu yang melekat pada tradisi ini.

Kisah Empat Bersaudara

Yang membuat Barong Kuring begitu istimewa adalah kisah di balik pelaksanaannya. Berdasarkan cerita masyarakat yang beredar, tradisi ngelawang Barong Kuring ini dijalankan oleh empat orang bersaudara yang tinggal di sebuah rumah sederhana di salah satu sudut Banjar Lumbuan, Susut, Bangli.

Gambar Barong Kuring (Sumber Koleksi Pribadi)

Keempat bersaudara yang berusia sekitar 70 tahunan ini memilih jalan hidup sebagai sukla brahmacari atau tidak menikah seumur hidup mereka. Meskipun dari luar terlihat seperti sudah berkeluarga, namun kenyataannya mereka tidak memiliki istri. Pilihan hidup spiritual ini mereka jalani dengan penuh kesadaran dan dedikasi.

Awal Mula Tradisi Ngelawang
Kisah mereka dimulai dari sebuah keluarga yang pada awalnya berjumlah lima bersaudara. Di merajan (tempat suci) keluarga mereka, terdapat sesuhunan berupa dua buah tapel. Kehidupan mereka berubah ketika saudara perempuan mereka menikah dan meninggalkan keempat kakaknya. Tak lama setelah itu, kedua orang tua mereka pun meninggal dunia.


Kepergian orang tua meninggalkan beban berat bagi keempat bersaudara ini. Mereka harus memikirkan bagaimana caranya makan sehari-hari, terlebih lagi mereka memiliki tanggung jawab untuk mengabenkan kedua orang tua mereka. Di tengah kebingungan mencari jalan keluar, suatu hari mereka mendapat wahyu yang luar biasa. Sesuhunan berupa tapel rangda di merajan mereka seolah meminta untuk diajak keliling atau ngelawang ke berbagai tempat. Wahyu inilah yang kemudian menjadi titik balik kehidupan keempat bersaudara ini.


Mereka pun mulai menjalankan tradisi ngelawang di seputaran Desa Lumbuan, terutama setelah Budha Kliwon Dungulan (Hari Raya Galungan). Formasi mereka sederhana namun penuh makna: satu orang mundut (membawa) sesuhunan sambil memegang tedung (payung), satu orang menabuh kendang, dan dua orang lainnya menabuh kempur sambil memukul kemong. Hanya iringan gamelan sederhana inilah yang menemani perjalanan spiritual mereka.

Video Ngelawang Barong Kuring (Sumber Youtube : Ari Kakoel)

Pada awalnya, ketika mereka ngelawang, beberapa warga mulai menyapa dan mengisi canang mereka dengan uang. Tidak jarang mereka harus menginap di pura-pura di tempat mereka bermalam. Namun, keikhlasan mereka tidak pernah sia-sia. Warga desa yang merasa iba kerap memberikan makanan atau minuman ke pura tempat mereka menginap. Bantuan-bantuan kecil penuh ketulusan ini menjadi bekal mereka melanjutkan perjalanan spiritual.

Puncak Pengabdian dan Akhir Sebuah Tradisi

Yang paling membanggakan, dari hasil ngelawang inilah, keempat bersaudara ini akhirnya mampu mengumpulkan dana yang cukup untuk mengabenkan kedua orang tua mereka. Kewajiban spiritual yang sempat menjadi beban berat kini dapat mereka tunaikan dengan penuh rasa syukur. Setelah berhasil mengabenkan orang tua mereka, keempat bersaudara ini tetap melanjutkan tradisi ngelawang hingga akhir hayat mereka. Kini, keempat bersaudara tersebut telah melinggih menjadi hyang atau telah meninggal dunia. Kepergian mereka menandai berakhirnya tradisi Barong Kuring.

Tradisi Barong Kuring yang mereka jalankan dengan penuh pengabdian kini hanya tersimpan dalam dokumentasi foto dan video. Kenangan akan sosok empat kakek yang dengan tekun ngelawang setiap Galungan dan Kuningan menjadi bagian dari sejarah budaya Bali yang perlu dikenang dan diceritakan kepada generasi penerus.