Batu Kerug Bertuah di Pura Pegonjongan: Penanda Hujan dan Doa Para Pedagang
Di Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, berdiri sebuah pura tua yang sarat akan nilai spiritual, sejarah, dan kepercayaan masyarakat setempat, yaitu Pura Pegonjongan. Pura ini dikenal luas karena keberadaan batu kerug sakral yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengeluarkan suara sebanyak tiga kali sebagai pertanda bahwa hujan akan segera turun.
Batu kerug yang berada di area Pura Pegonjongan memiliki permukaan mengkilap dan bentuk alami yang khas. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, batu ini dapat mengeluarkan bunyi sebanyak tiga kali secara alami. Suara tersebut diyakini sebagai tanda turunnya hujan, khususnya pada musim-musim tertentu. Kepercayaan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Sambirenteng.
Fenomena batu kilap ini tidak hanya dipandang sebagai kejadian alam semata, tetapi juga dianggap sebagai isyarat niskala (spiritual) yang berkaitan dengan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Batu Kerug atau Guntur (Sumber: Koleksi Pribadi)
Secara historis, Pura Pegonjongan memiliki kaitan erat dengan aktivitas perdagangan masa lampau. Lokasinya yang berada di kawasan pesisir Bali Utara bagian timur diyakini dulunya merupakan wilayah dermaga dagang, tempat kapal-kapal bersandar dan aktivitas jual beli berlangsung. Hal ini menjadikan pura ini bukan hanya tempat pemujaan, tetapi juga pusat spiritual bagi para pedagang.
Di pura ini disthanakan Ida Batara Ngurah Subandar dan Ida Ratu Ayu Subandar, yang dikenal sebagai pelindung dan pengayom para pedagang. Hingga kini, banyak umat khususnya pedagang datang ke Pura Pegonjongan untuk memohon kelancaran usaha, keselamatan berdagang, dan rezeki yang berlimpah.
Penataran Pura Pegonjongan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Keunikan lain dari Pura Pegonjongan adalah keberadaan patirtan (tempat air suci) yang dipercaya sebagai peninggalan Kebo Iwa, tokoh legendaris Bali yang dikenal memiliki kesaktian luar biasa. Patirtan ini menambah nilai sejarah dan spiritual pura, serta sering digunakan oleh umat untuk melakukan pembersihan diri secara rohani sebelum bersembahyang.
Air dari patirtan tersebut diyakini memiliki kekuatan penyucian, sehingga menjadikan Pura Pegonjongan sebagai tempat yang penting tidak hanya secara religius, tetapi juga historis.
Patirtan Pura Pegonjongan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pura Pegonjongan bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga penyimpan warisan kepercayaan, sejarah perdagangan, dan kearifan lokal Bali Utara. Batu kilap bertuah yang dipercaya sebagai penanda hujan, pemujaan kepada pelindung para pedagang, serta peninggalan Kebo Iwa menjadikan pura ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat setempat.
Melalui pelestarian Pura Pegonjongan, nilai-nilai spiritual dan sejarah yang terkandung di dalamnya dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.