Sri Kresna Kepakisan dan Awal Dinasti Baru di Bali Abad ke-14

Artikel ini membahas tentang peran Sri Kresna Kepakisan sebagai penguasa pertama dinasti Kepakisan di Bali abad ke-14 setelah penaklukan Majapahit. Penunjukan Sri Kresna Kepakisan oleh Majapahit menandai lahirnya dinasti baru, yaitu Dinasti Kepakisan di Bali yang membawa perubahan besar dalam tatanan politik, sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Bali. Dari pusat pemerintahan di Samprangan, Gianyar, ia berhasil menciptakan stabilitas politik sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi lokal.

Aug 14, 2026 - 05:18
Aug 14, 2026 - 00:11
Sri Kresna Kepakisan dan Awal Dinasti Baru di Bali Abad ke-14
Ilustrasi AI Sri Kresna Kepakisan (Sumber : Koleksi Pribadi))

Sejarah Bali tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik dan budaya yang berkembang di Nusantara. Pada masa Bali Kuna, raja-raja seperti Udayana Warmadewa dan Anak Wungsu berhasil membawa Bali pada masa kejayaan. Namun, memasuki abad ke-13 hingga awal abad ke-14, Bali mengalami masa perpecahan. Kekuasaan raja Bedahulu melemah, muncul banyak penguasa-penguasa kecil, dan konflik internal sering terjadi. Situasi ini menyebabkan stabilitas politik di Bali terganggu, sehingga membuka peluang bagi kerajaan besar di Jawa, yaitu Majapahit, untuk memperluas pengaruhnya ke Pulau Bali.

Ekspedisi militer Majapahit ke Bali dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1343, di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Perlawanan raja terakhir Bali Kuna, yang dikenal dengan nama Bedahulu, berhasil ditaklukkan. Kemenangan Majapahit ini menandai berakhirnya era kerajaan Bali Kuna yang sebelumnya berdiri secara mandiri. Namun, Majapahit tidak memerintah Bali secara langsung, melainkan menunjuk seorang bangsawan keturunan Jawa sebagai penguasa lokal. Sosok itu adalah Sri Kresna Kepakisan, yang kemudian menjadi pendiri dinasti baru di Bali.

Sri Kresna Kepakisan (juga dikenal sebagai Sri Aji Kresna Kepakisan, Ida Dalem Wawu Rauh atau Dalem Tegal Besung) adalah tokoh penting dalam sejarah Bali. Di bawah kekuasaannya, terbentuk dinasti baru bernama Dinasti Kepakisan. Sri Kresna Kepakisan secara resmi diangkat menjadi raja oleh Majapahit pada tahun 1352 M untuk memperbaiki kekacauan dan mengatur pemerintahan pulau Bali.  Walaupun beliau memerintah pada abad ke-14, dinasti ini terus berlanjut melalui keturunannya hingga akhirnya kekuasaan raja-raja keturunan Kepakisan berakhir pada tahun 1908 saat Kerajaan Klungkung ditaklukkan Belanda di tanah Bali. 

Sri Kresna Kepakisan dipilih oleh Majapahit untuk memimpin Bali karena dianggap memiliki kemampuan menjaga kestabilan, serta kesetiaan terhadap Majapahit. Ia ditempatkan di Samprangan, Gianyar, sebagai pusat pemerintahan awal Dinasti Kepakisan di Bali, yang kemudian melahirkan kerajaan-kerajaan besar seperti Gelgel dan Klungkung. Dari Samprangan inilah, Sri Kresna Kepakisan mulai menyusun sistem pemerintahan yang lebih teratur, menyesuaikan antara aturan Majapahit dengan tradisi lokal Bali. Dengan penunjukan ini, Bali secara resmi memasuki babak baru dalam sejarah politiknya. Kekuasaan yang sebelumnya terpecah di berbagai wilayah berhasil dipusatkan kembali. Walaupun berada dalam lingkup kekuasaan Majapahit, Bali tetap diberi ruang untuk mempertahankan adat, agama, dan budaya lokalnya. Dinasti Kepakisan kemudian berkembang menjadi salah satu dinasti bangsawan yang kuat di Bali. Dari keturunannya lahir para penguasa lokal yang berperan penting dalam membentuk kerajaan-kerajaan kecil di berbagai wilayah Bali setelah masa Majapahit melemah.

Kehadiran Sri Kresna Kepakisan membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat Bali. Dalam bidang politik, ia berhasil menciptakan stabilitas pemerintahan setelah masa panjang konflik. Bali kemudian menjadi bagian dari sistem Majapahit, meskipun tetap mempertahankan kearifan lokal dalam pengelolaan masyarakat. Dalam bidang sosial dan budaya, kedatangan pejabat serta bangsawan dari Jawa mendorong terjadinya akulturasi. Hal ini terlihat dalam seni arsitektur pura, karya sastra, dan berbagai upacara keagamaan yang memperlihatkan perpaduan antara unsur Bali dengan pengaruh Jawa Majapahit. Di bidang keagamaan, praktik Hindu-Bali semakin mengakar. Ajaran Hindu dari Jawa berpadu dengan tradisi lokal sehingga melahirkan sistem keagamaan khas yang masih bertahan hingga kini. Selain itu, dinasti Kepakisan yang dipimpin oleh Sri Kresna Kepakisan melahirkan keturunan yang tersebar di berbagai wilayah. Dari sinilah lahir raja-raja lokal yang kemudian membentuk kerajaan-kerajaan kecil seperti Klungkung, Buleleng, hingga Karangasem.

Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Samprangan merupakan pusat pemerintahan awal Sri Kresna Kepakisan. Di kawasan ini terdapat berbagai tempat suci yang berkaitan erat dengan Dinasti Kepakisan. Salah satunya adalah Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan yang terletak di kompleks Pura Besakih, pura terbesar dan paling dihormati di Bali. Pura ini dipercaya sebagai makam dan tempat peristirahatan terakhir Sri Kresna Kepakisan, sekaligus menjadi titik penting dalam tradisi spiritual masyarakat Bali.

Pura Prasada Lingga (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Selain itu, terdapat pula Pura Prasada Lingga, yang melambangkan awal mula pemerintahan dan kekuatan baru Dinasti Kepakisan di Bali.

Pura Kawitan Arya Kepakisan (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Tidak hanya itu, bukti keberadaan dinasti ini juga tampak dari Pura Kawitan Arya Kepakisan di Desa Nyuh Aya, Klungkung. Pura kawitan merupakan pura leluhur yang khusus diperuntukkan bagi satu wangsa atau keturunan. Dalam hal ini, pura tersebut berfungsi sebagai tempat pemujaan leluhur bagi keturunan Sri Kresna Kepakisan, sekaligus menjadi pusat identitas kekerabatan yang masih dijaga hingga kini.

Dengan demikian, pura-pura tersebut tidak hanya menjadi tempat suci, tetapi juga dapat dipandang sebagai peninggalan sejarah dan lokasi bersejarah yang menunjukkan kesinambungan Dinasti Kepakisan dari abad ke-14 hingga saat ini.

Daftar Pustaka

Ardika, I Wayan, dkk. Sejarah Bali: Dari Prasejarah hingga Modern. 2013. Udayana University Press.

Pemerintah Kabupaten Karangasem. Sejarah Sri Kresna Kepakisan. 2021. Karangasemkab.go.id.

Wijaya, I Wayan Kandi; Rai, Anak Agung Gede; dan Nityasa, NPN. Manajemen dan Kepemimpinan Karya Agung Memungkah pada Pura Pedharman Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan Besakih Kabupaten Karangasem Bali. 2021. Mudra Jurnal Seni Budaya, Vol. 36 No. 3.

Alit, Dewa Made. Strategi Politik Majapahit Menaklukan Kerajaan Bali 1352–1380 M. 2019. Social Studies, Vol. 10 No. 2.