Letusan Gunung Batur Purba: Jejak Geologi, Kesuburan, dan Identitas Budaya Bali

Pulau Bali terbentuk dari proses geologi panjang, terutama letusan besar Gunung Batur purba yang menciptakan Kaldera dan Danau Batur. Kajian ilmiah menunjukkan gunung ini mengalami beberapa fase vulkanisme besar dengan sistem magma yang dinamis. Material letusan menghasilkan tanah vulkanik subur yang kemudian dimanfaatkan manusia melalui sistem irigasi subak. Danau Batur menjadi sumber air utama sekaligus memiliki makna spiritual sebagai perwujudan Dewi Danu, penjaga kesuburan. Letusan purba Batur bukan hanya peristiwa alam, tetapi fondasi ekologis, budaya, dan spiritual Bali. Alam memberi potensi, manusia memberi makna—menunjukkan keseimbangan antara sains, kepercayaan, dan kehidupan yang berkelanjutan.

Jan 1, 2026 - 01:33
Jan 1, 2026 - 01:33
Letusan Gunung Batur Purba: Jejak Geologi, Kesuburan, dan Identitas Budaya Bali
Kaldera Gunung Batur (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pulau Bali yang kita kenal hari ini bukan hanya hasil kebudayaan manusia, melainkan juga hasil perjalanan panjang geologi yang luar biasa. Sebelum ada kerajaan, prasasti, atau sistem sosial yang kompleks, pulau ini lebih dahulu “dibentuk” oleh letusan besar Gunung Batur purba yang mengubah wajah lanskap Bali secara permanen. Ribuan tahun lalu, gunung berapi raksasa ini meletus dengan kekuatan dahsyat, menghancurkan puncaknya, dan meninggalkan kaldera luas yang kini menjadi Danau Batur—danau vulkanik terbesar di Bali.

Gunung Batur dan Danau Batur (Sumber: Koleksi pribadi)

Kajian geofisika dan petromagnetik modern menunjukkan bahwa Gunung Batur mengalami beberapa fase vulkanisme besar dengan pergeseran pusat aktivitas dari waktu ke waktu. Penelitian Suryanata et al. (2023) mengungkapkan bahwa lava hasil erupsi abad ke-19 hingga ke-20 masih menyimpan informasi tentang proses magmatik yang kompleks, menandakan sistem magma di bawah Batur sangat dinamis. Kajian lain oleh Amir et al. (2021) menggunakan pemodelan gravitasi dan magnetik untuk memperlihatkan struktur bawah permukaan Bali yang menunjukkan migrasi pusat-pusat vulkanik, termasuk Batur, sejak masa Pleistosen. Temuan-temuan ini memperkuat dugaan bahwa pembentukan Kaldera Batur terjadi melalui dua fase erupsi besar, dengan usia yang diperkirakan puluhan ribu tahun lalu, meski rentang pastinya masih memiliki ketidakpastian penanggalan radiometrik.

Material vulkanik yang dimuntahkan dari letusan purba tersebut menyelimuti wilayah luas di sekitarnya. Abu, lava, dan endapan piroklastik mengalami pelapukan selama ribuan tahun, menciptakan lapisan tanah yang kaya unsur hara seperti kalium, fosfor, dan kalsium. Studi geokimia menunjukkan bahwa tanah vulkanik di sekitar Batur memiliki tingkat kesuburan tinggi, kemampuan menahan air yang baik, serta mendukung pertumbuhan berbagai tanaman pangan. Namun, hubungan antara letusan dan kesuburan tidak bersifat otomatis; kesuburan hanyalah potensi ekologis yang baru menjadi nyata ketika manusia hadir dan memanfaatkannya melalui sistem pertanian. Dalam konteks Bali, potensi itu kemudian diwujudkan dalam sistem irigasi tradisional yang dikenal sebagai subak.

Lahan pertanian di sekitar Danau Batur (Sumber: Koleksi Pribadi)

Danau Batur sendiri terbentuk ketika kaldera hasil letusan purba terisi air hujan dan rembesan bawah tanah. Kini, danau ini menjadi sumber air utama bagi masyarakat sekitarnya, terutama dalam sistem subak. Penelitian Utama, Arthana, dan Nuarsa (2024) menunjukkan bahwa garis pantai Danau Batur terus berubah akibat sedimentasi, erosi, dan aktivitas manusia, dan diproyeksikan akan mengalami perubahan signifikan hingga tahun 2030. Fenomena ini bukan hanya gejala alamiah, tetapi juga peringatan tentang pentingnya tata kelola air yang berkelanjutan di kawasan geopark Batur.

Dari sisi sosial-budaya, air dari Danau Batur memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Bali. Dalam keyakinan Hindu Bali, danau ini adalah perwujudan dari Dewi Danu, dewi air dan kesuburan. Karena itulah di tepi danau berdiri Pura Ulun Danu Batur, salah satu pura utama di Bali, tempat umat memohon keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Peneliti seperti Surata (2022) melihat bahwa hubungan spiritual ini tidak hanya bersifat simbolik, melainkan juga berfungsi ekologis: ritual dan norma adat yang tumbuh di sekitar pura dan subak menjadi mekanisme sosial untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Pura Ulun Danu Batur (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dengan demikian, letusan purba Gunung Batur tidak hanya meninggalkan jejak geologi, tetapi juga fondasi ekologis dan spiritual yang membentuk identitas Bali. Namun penting untuk dicatat bahwa hubungan antara peristiwa geologi purba dan kebudayaan manusia tidak bersifat langsung atau deterministik. Letusan besar menyediakan tanah subur dan sumber air, tetapi sistem sosial seperti subak dan pemujaan Dewi Danu lahir dari proses adaptasi manusia terhadap lingkungan selama ribuan tahun. Artinya, alam memberi kemungkinan, tetapi manusialah yang memberi makna.

Keterpaduan antara mitos, budaya, dan sains menjadikan kisah Gunung Batur lebih dari sekadar catatan letusan. Ia adalah narasi tentang bagaimana bencana dapat melahirkan kehidupan, bagaimana alam dan manusia saling membentuk, dan bagaimana kepercayaan dan pengetahuan ilmiah dapat berdialog dalam menjelaskan asal-usul sebuah peradaban.

Suryanata, I. W., Wijaya, I. M. D., & Arifin, M. (2023). Analisis petromagnetik untuk rekonstruksi sejarah letusan Gunung Batur, Bali. Jurnal Geosains Indonesia,

Amir, R., Pratama, G., & Sasmita, A. (2021). Kajian geofisika bawah permukaan pada kawasan kaldera Batur menggunakan data gravitasi dan magnetik. Jurnal Geologi dan Geofisika

Utama, I. G. B., Arthana, I. W., & Nuarsa, I. W. (2024). Dampak perubahan morfologi garis pantai Danau Batur terhadap keseimbangan ekologi lokal. Jurnal Lingkungan Tropis

Surata, I. M. (2022). Makna spiritual dan ekologis Gunung Batur dalam kosmologi masyarakat Bali. Jurnal Kebudayaan Nusantara