Singhamandawa: Jejak Awal Bali Kuno Sebelum Kebangkitan Warmadewa

Periode Singhamandawa (882–914 M) sebagai awal kerajaan bercorak Hindu-India di Bali. Berpusat di pegunungan Kintamani, kerajaan ini dikenal dari prasasti-prasasti Bali Kuno, meski tanpa nama raja. Identitas penguasa baru muncul pada Sri Kesari Warmadewa (913 M), yang menandai awal Dinasti Warmadewa dan tertatanya sistem pemerintahan Bali Kuno.

Jan 8, 2026 - 06:06
Jan 1, 2026 - 21:30
Singhamandawa: Jejak Awal Bali Kuno Sebelum Kebangkitan Warmadewa
Ilustrasi AI Kerajaan Hindu-India di Bali (Sumber: koleksi pribadi)

Awal berdirinya kerajaan bercorak Hindu-India di Bali dimulai pada tahun 882 hingga 914 Masehi. Masa ini dikenal sebagai Periode Singhamandawa, karena sebagian besar prasasti yang terbit pada waktu itu menyebut Singhamandawa sebagai pusat pemerintahan atau ibu kota. Dari situlah nama periode ini diambil. Dalam rentang waktu tersebut tercatat tujuh prasasti penting, yaitu Prasasti Sukawana A I (804 Saka/882 M), Prasasti Bebetin A I (818 Saka/896 M), Prasasti Trunyan A I (883 Saka/911 M), Prasasti Trunyan B (833 Saka/911 M), Prasasti Bangli Pura Kehen A, Prasasti Gobleg Pura Desa I (836 Saka/914 M), dan Prasasti Angsari A (836 Saka/914 M). Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa dan aksara Bali Kuno, namun tidak pernah menyebutkan nama raja yang berkuasa. Para ahli menduga bahwa Singhamandawa merupakan pusat pemerintahan atau ibu kota kerajaan yang terletak di kawasan Kintamani, Bangli. Dugaan ini muncul karena banyaknya temuan arkeologi, baik berupa prasasti maupun artefak lain, yang tersebar padat di wilayah tersebut.

Pusat kerajaan pada masa itu tampaknya sengaja ditempatkan di kawasan pegunungan. Hal ini berkaitan dengan kebudayaan Hindu-Buddha yang sedang berkembang, di mana gunung dianggap sebagai titik pusat alam semesta menurut ajaran tentang Gunung Mahameru. Karena itulah Kerajaan Singhamandawa berlokasi di daerah pegunungan, yang diyakini sebagai tempat suci dan keramat.

Ilustrasi AI letak keberadaan kerajaan di kawasan pegunungan (sumber: koleksi pribadi)

Di Bali, telah ditemukan berbagai peninggalan artefaktual dan sumber tertulis berupa prasasti yang memberi gambaran mengenai masa lampau. Dari bukti-bukti itu dapat dipahami bahwa Kerajaan Singhamandawa merupakan institusi kenegaraan pertama di Bali yang bercorak kebudayaan India. Sejumlah prasasti peninggalan kerajaan ini ditulis menggunakan bahasa dan aksara Bali Kuno, tetapi menariknya tidak ada satu pun yang menyebutkan nama raja yang memerintah. Informasi mengenai raja baru muncul kemudian dalam Prasasti Blanjong tahun 913 M, yang mencatat nama Sri Kesari Warmadewa. Tokoh inilah yang kemudian dikenal sebagai pendiri Dinasti Warmadewa. Sesudah masa Kesari Warmadewa, prasasti-prasasti Bali Kuno mulai mencatat nama raja-raja berikutnya, baik yang bergelar Warmadewa maupun tidak, lengkap dengan aparat pembantu kerajaan. Dari sinilah terlihat bahwa sistem pemerintahan Bali Kuno sudah tertata dengan baik.

Ilustrasi AI Suasana Kerajaan Bali Kuno (Sumber: koleksi pribadi)

Indikasi lain mengenai adanya tatanan pemerintahan pada masa Bali Kuno terlihat dari penyebutan beberapa kitab hukum dalam prasasti, seperti Uttara Widhi Balawan, Raja Wacana, dan Manawa Sasanadharma. Kitab-kitab ini berisi aturan dan ajaran yang bersumber pada hukum serta nilai-nilai agama Hindu. Keberadaannya menunjukkan bahwa kehidupan bernegara kala itu tidak hanya bertumpu pada kekuasaan raja, tetapi juga pada norma hukum dan prinsip keagamaan yang memberi legitimasi serta arah bagi masyarakat.

Pada masa pemerintahan Singhamandawa, kehidupan masyarakat Bali Kuno telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam bidang sosial, budaya, dan keagamaan. Masyarakat sudah mengenal pembagian kerja yang jelas antara petani, pengrajin, rohaniawan, dan pejabat kerajaan. Setiap lapisan masyarakat memiliki peran penting dalam menopang kehidupan negara. Hubungan antara raja dan rakyat juga diikat oleh nilai-nilai keagamaan yang kuat, di mana raja dipandang sebagai perwujudan dharma, yaitu kebenaran dan keadilan.

Ilustrasi AI kehidupan masyarakat Bali Kuno pada masa Singhamandawa (Sumber: koleksi pribadi)

Kehidupan keagamaan di Bali Kuno sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Siwa dan Buddha Mahayana. Banyak arca dan peninggalan yang menggambarkan pemujaan terhadap dewa-dewa, terutama Siwa, Wisnu, dan Brahma, serta penghormatan terhadap tokoh-tokoh suci Buddhis. Lokasi kerajaan di pegunungan Kintamani memperkuat simbolisme spiritual yang menghubungkan antara kekuasaan raja dan kedekatannya dengan para dewa. Gunung dianggap sebagai poros dunia, tempat bersemayamnya kekuatan suci, dan pusat keseimbangan alam semesta. Pandangan ini tercermin dalam berbagai tradisi dan ritual keagamaan yang masih hidup di Bali hingga kini.

Wilayah Kintamani dan sekitarnya hingga kini masih menyimpan banyak peninggalan dari masa Singhamandawa. Prasasti-prasasti batu yang ditemukan di Trunyan, Bebetin, Gobleg, dan Angsari menjadi bukti kuat tentang eksistensi kerajaan ini. Di beberapa tempat juga ditemukan arca batu, lingga-yoni, serta struktur pemujaan yang menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan lokal. Artefak-artefak ini membuktikan bahwa Bali pada masa itu sudah memiliki budaya yang mapan dan terbuka terhadap pengaruh luar, terutama dari India, tanpa meninggalkan jati diri lokalnya.

Selain itu, gaya bahasa prasasti yang digunakan menunjukkan tingkat literasi dan tata bahasa yang cukup tinggi. Aksara yang digunakan merupakan bentuk awal dari aksara Bali yang terus berevolusi hingga menjadi sistem tulisan yang dikenal saat ini. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kerajaan Singhamandawa telah memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa, sastra, dan aksara Bali.

Periode Singhamandawa memiliki makna mendalam dalam perjalanan panjang sejarah Bali. Dari sinilah terbentuk fondasi peradaban yang religius, berbudaya tinggi, dan berlandaskan hukum. Masa ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali sudah memiliki kesadaran bernegara, sistem sosial yang teratur, serta penghormatan yang tinggi terhadap nilai spiritual. Segala bentuk tradisi, upacara, dan pandangan hidup masyarakat Bali masa kini masih berakar pada nilai-nilai yang lahir dari zaman itu.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, Singhamandawa adalah simbol awal kebangkitan peradaban Bali. Ia menjadi cermin bahwa Bali sejak awal telah menjadi pusat kebudayaan yang mampu memadukan nilai lokal dengan pengaruh asing tanpa kehilangan jati dirinya. Dari puncak gunung di Kintamani hingga prasasti batu yang tersebar di pelosok desa, kisah Singhamandawa tetap hidup sebagai bagian dari identitas Bali yang tidak lekang oleh waktu.

Ardika, I Wayan & I Ketut Setiawan. Bali antara Abad VIII–XIV: Kajian Aspek Politik. Dalam buku Karya UNUD untuk Anak Bangsa. Universitas Udayana, Denpasar, 2012.

Ardika, I Wayan. Dynamics of Ancient Balinese Polity. Journal of Indonesian Archaeology, Universitas Udayana, 2008.

Sutaba, I Made. Struktur Sosial dan Hukum pada Masa Warmadewa. Jurnal Sejarah dan Budaya, Universitas Udayana, 2015.

Rema, Luh Sari. Rekonstruksi Sistem Pemerintahan Bali Kuna Berdasarkan Prasasti Sukawana dan Bebetin. Jurnal Humanis Universitas Udayana, 2021.