Tersembunyi di Balik Waktu, Pakakalan sebagai Tradisi Penentu Hari Sakral di Bali (Bagian 1)
Dalam tradisi Bali, sistem penanggalan Wariga tidak hanya menentukan hari baik, tetapi juga hari buruk yang dikenal sebagai Pakakalan. Hari-hari ini memiliki energi spesifik yang memengaruhi berbagai aktivitas, mulai dari upacara keagamaan hingga kegiatan sehari-hari. Misalnya, Kala Katututan dianggap tidak baik untuk upacara kematian, sementara Kala Gotongan justru mendukung kegiatan ekonomi. Memahami Pakakalan membantu masyarakat Bali memilih waktu yang tepat agar setiap kegiatan selaras dengan alam dan membawa hasil terbaik. Pengetahuan ini menjadi panduan penting dalam menjaga keseimbangan spiritual dan duniawi.
Dalam pelaksanaan kegiatan sering kali merujuk pada padewasaan yang baik, namun ternyata dalam pakakalan merupakan hari yang buruk. Pakakalan sendiri menjadi acuan perbandingan dengan kala-kala tertentu atas dasar perbandingan dengan Wariga. Perhitungan ini kerap kali dijadikan perbandingan sehingga di cari hari baik lain, terutama dalam pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya. Dalam pelaksanaannya, Pakakalan juga diidentifikasi menjadi beberapa bagian sehingga memudahkan perbandingan hari baik dengan dewasa pada Wariga. Dalam klasifikasinya sendiri terdapat 66 jenis Pakakalan.
Kegiatan Upacara Pitra Yadnya (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kala Katututan atau Semut Sadulur merupakan kala yang umum dicari. Kala ini muncul dari gabungan antara Wewaran Panca Wara dan Sapta Wara yang jumlah uripnya mencapai angka tiga belas secara berurutan. Masyarakat Bali mempercayai bahwa energi yang hadir pada Kala Katututan tidak mendukung tercapainya keberkahan, terutama jika dikaitkan dengan aktivitas ekonomi maupun ritual. Karena angka tiga belas sering dipandang sebagai simbol ketidakseimbangan, maka waktu ini dianggap tidak harmonis untuk aktivitas penting.
Menjadikan semut sebagai wujud personifikasi dari kegiatan sosial, Kala Katututan atau Semut Sadulur diyakini merupakan hari yang dianggap kurang baik apabila digunakan sebagai waktu pelaksanaan upacara Pitra Yadnya atau ritual kematian. Selain itu, kala ini juga tidak disarankan untuk kegiatan yang berhubungan dengan perekonomian, seperti memulai usaha atau berdagang. Dengan demikian, pemilihan hari yang jatuh pada Kala Katututan biasanya dihindari untuk kepentingan besar yang menyangkut kehidupan dan keberlangsungan rezeki.
Aktivitas Berdagang (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kala Gotongan merupakan salah satu perhitungan dalam Wariga yang terbentuk dari kombinasi Panca Wara dan Sapta Wara dengan jumlah urip empat belas. Kehadirannya menandakan hari yang tidak cocok untuk melaksanakan upacara Pitra Yadnya atau upacara kematian. Namun, berbeda dengan Kala Katututan, Kala Gotongan justru dianggap baik apabila digunakan untuk aktivitas yang berkaitan dengan perekonomian, seperti memulai usaha baru atau melakukan perdagangan. Energi pada hari ini diyakini membawa keberuntungan, terutama dalam hal mencari rezeki dan mengembangkan kehidupan material. Angka empat belas yang menjadi dasar perhitungannya diyakini membawa keseimbangan serta kekuatan positif yang mendukung kesuksesan.
Kala Beser merupakan ketentuan dalam Wariga yang ditentukan berdasarkan wuku dan Sapta Wara, bukan dari hitungan urip. Hari ini dianggap sebagai pantangan untuk membuat bendungan, kolam, terusan, maupun kegiatan yang berhubungan dengan persenjataan seperti menempa dan mengasah senjata tajam. Energi Kala Beser dipercaya membawa hambatan jika digunakan untuk aktivitas tersebut sehingga masyarakat menghindarinya. Sebagai gantinya, hari ini digunakan untuk pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan pembangunan besar atau senjata. Dengan begitu, keseimbangan hidup dan keharmonisan dengan alam tetap terjaga.
Kegiatan Membajak Sawah(Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kala Asuajeg memiliki dua jenis ketentuan, yaitu Asuajeg Munggah (naik) dan Asuajeg Turun. Masyarakat Bali memahami bahwa masing-masing jenis membawa pengaruh yang berbeda terhadap kegiatan sehari-hari. Kala Asuajeg Munggah dianggap baik untuk kegiatan seperti menjaring ikan atau mempersiapkan lahan dan menanam padi, namun tidak sesuai untuk menanam tanaman yang berumbi. Sebaliknya, Kala Asuajeg Turun justru dianggap baik untuk bercocok tanam tanaman berumbi, karena diyakini akan menghasilkan panen yang lebih baik. Dengan demikian, pengetahuan tentang Kala Asuajeg membantu masyarakat menyesuaikan jenis kegiatan pertanian sesuai dengan waktu yang tepat agar hasilnya selaras dengan alam.
Kala Mertyu adalah dewasa yang baik untuk memulai peperangan atau membuat senjata perang, namun buruk jika digunakan untuk memberi nasihat atau melaksanakan yadnya. Kehadiran hari ini dipandang kurang mendukung kegiatan spiritual karena dianggap bisa membawa hasil yang tidak baik. Oleh karena itu, masyarakat Bali menghindari Kala Mertyu ketika ingin melakukan upacara atau aktivitas keagamaan. Meski demikian, dalam konteks duniawi, kala ini dipercaya membawa kekuatan untuk hal-hal yang bersifat keras atau penuh perjuangan. Pemahaman ini menunjukkan bahwa setiap kala memiliki fungsi berbeda sesuai dengan tujuan dan jenis kegiatan manusia.
Kala Timpang merupakan dewasa yang dianggap baik untuk membuat alat perangkap dan senjata, termasuk ranjau dan benda-benda guna-guna. Hari ini biasanya dipilih untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kekuatan dan perlindungan diri. Namun, hari ini tidak digunakan untuk aktivitas yang bersifat damai atau sakral karena energinya lebih condong ke hal-hal yang keras. Dengan pengetahuan ini, masyarakat dapat menempatkan waktu secara tepat sesuai tujuan masing-masing. Kala Timpang menunjukkan bagaimana Wariga memberikan arahan untuk memilih waktu yang benar agar kegiatan manusia tidak bertentangan dengan keharmonisan kosmis.
Kegiatan Membangun Bangunan (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kala Empas memiliki dua jenis, yaitu munggah (naik) dan turun, yang masing-masing memberikan pengaruh berbeda. Kala Empas munggah dianggap baik untuk memasang pondasi rumah atau bangunan serta mendirikan lumbung padi, karena dipercaya mendukung keteguhan dan kekuatan. Namun, kala ini tidak cocok digunakan untuk menanam tanaman berumbi karena hasilnya diyakini kurang baik. Sebaliknya, Kala Empas turun dianggap baik untuk menanam umbi-umbian, tetapi buruk apabila digunakan sebagai hari membangun rumah atau bangunan lain. Dengan memahami ketentuan ini, masyarakat dapat memilih hari yang selaras dengan tujuan, baik untuk pembangunan maupun pertanian.
Kala Caplokan merupakan hari baik untuk membuat alat-alat penangkap ikan, seperti bubu, jaring, maupun pancing. Hari ini dipercaya memberikan hasil yang menguntungkan jika digunakan untuk memulai pekerjaan yang berkaitan dengan perikanan. Energi Kala Caplokan diyakini mendukung kelancaran usaha menangkap ikan sehingga hasil tangkapan lebih banyak. Sebagai bagian dari Wariga, ketentuan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Bali menyesuaikan waktu dengan kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, Kala Caplokan menjadi acuan penting bagi mereka yang menggantungkan hidup dari laut dan sungai.
Kala Gumarang juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu Gumarang Munggah (naik) dan Gumarang Turun. Ketika Gumarang Munggah, hari tersebut dianggap sebagai dewasa baik untuk melaksanakan Bhuta Yadnya, tetapi dipandang buruk untuk menanam sirih maupun tembakau. Sebaliknya, ketika Gumarang Turun, hari ini justru dianggap sebagai waktu yang baik untuk menanam kedua tanaman tersebut. Perhitungan Kala Gumarang lahir dari gabungan antara Panca Wara dengan Sad Wara, serta Urip Wuku tertentu yang menghasilkan ketentuan berbeda. Dengan adanya pedoman ini, masyarakat Bali dapat mengatur waktu upacara dan pertanian dengan lebih bijak, sehingga hasilnya sesuai dengan kepercayaan dan tradisi leluhur.
Kegiatan Anak-Anak Menari (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kala Jengking adalah dewasa yang baik untuk melatih diri dalam kesenian, seperti menari, menumbuk padi, atau beternak ayam. Akan tetapi, kala ini dianggap buruk untuk mengadakan pertemuan, pesta, atau pernikahan karena diyakini membawa ketidakharmonisan. Energi yang ada pada hari ini lebih mendukung kegiatan latihan dan kerja fisik daripada peristiwa sosial. Oleh sebab itu, masyarakat menggunakan Kala Jengking untuk mengasah keterampilan diri dan menghindari kegiatan besar yang melibatkan banyak orang. Dengan begitu, hasil kegiatan tetap berjalan lancar sesuai dengan fungsi hari tersebut.
Kala Kutila juga dibedakan menjadi munggah (naik) dan turun, yang masing-masing menentukan baik buruknya sebuah pekerjaan. Kala Kutila munggah adalah hari baik untuk berburu maupun membuat perangkap, sehingga lebih cocok digunakan untuk kegiatan duniawi yang berkaitan dengan keterampilan atau perjuangan. Sementara itu, Kala Kutila turun lebih baik digunakan untuk menanam padi karena dipercaya mendukung hasil yang berlimpah. Sebaliknya, hari ini dianggap buruk apabila dipakai untuk berburu atau membuat alat perangkap. Dengan demikian, ketentuan Kala Kutila menekankan pentingnya menyesuaikan waktu kegiatan dengan energi hari agar hasilnya bermanfaat.
Kala Magelut atau disebut juga Lutung Magelut adalah dewasa yang baik untuk membuat ranjau, menanam pohon, maupun pekerjaan seperti memanah jangkrik. Namun, kala ini dianggap tidak baik untuk melaksanakan upacara besar atau yadnya karena energinya tidak mendukung kesakralan. Pemilihan waktu ini lebih dikhususkan bagi kegiatan duniawi yang praktis, terutama yang berhubungan dengan pertanian atau perlindungan diri. Oleh karena itu, masyarakat Bali menggunakan Kala Magelut untuk pekerjaan teknis dan menghindarinya saat akan melakukan kegiatan keagamaan. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara aktivitas spiritual dan duniawi dalam kehidupan sehari-hari.