Tersembunyi di Balik Waktu, Pakakalan sebagai Tradisi Penentu Hari Sakral di Bali (Bagian 2)
Pakakalan merupakan sistem perhitungan untuk menentukan hari baik atau buruk (padewasan) yang didasarkan pada kemunculan Kala tertentu. Pada Bagian 2 ini, akan dibahas sebelas jenis Kala penting dalam tradisi Wariga: Kala Magelut, Kala Buingrahu, Kala Tukaran, Kala Malanan, Kala Geger, Kala Tiga Pasah, Kala Mina, Kala Susulan, Kala Bancaran, Kala Muncar, dan Kala Pegatan.
Kala-kala berpengaruh ke berbagai segi kehidupan sehari-hari, mulai dari aspek kestabilan energi, komunikasi sosial, perubahan kondisi, perjalanan, kewaspadaan, hingga keberlimpahan dan keberlanjutan aktivitas. Masing-masing memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan spiritual dan praktis masyarakat Bali.
Kala Magelut: Waktu untuk Menyatu (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Kala Magelut bukanlah hari yang tepat untuk aktivitas berburu hewan seperti menangkap burung, berburu dengan senapan angin, memancing, atau bahkan sekadar memasang perangkap tikus. Hal ini dikarenakan energi semesta sedang dalam kondisi magelut (bergelut) sehingga tidak mendukung aktivitas yang memerlukan keselarasan dengan ritme alam dan perilaku hewan.
Namun, dewasa yang umum disebut Lutung Magelut ini cocok dan sangat disarankan untuk melakukan kegiatan yang memerlukan kesadaran penuh dan konsentrasi mendalam seperti bertapa dan meracik obat. Untuk dapat memanfaatkan energi positif ini, penting untuk mengetahui bahwa Kemunculan Kala Magelut adalah pada Redite Wuku Ukir dan Budha Wuku Sungsang.
Pembakaran pada Kala Buingrahu (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Dalam tradisi Bali, Kala Buingrahu dikenal sebagai waktu yang membawa padewasan jelek untuk memasang atap bangunan. Meski demikian, periode ini justru memberikan berkah bagi mereka yang ingin membakar citakan, baik berupa bakalan bata maupun genting. Energi yang terpancar selama Kala Buingrahu mendukung proses pembakaran dan transformasi material tanah liat menjadi bahan bangunan yang kuat dan tahan lama
Bagi para pengrajin dan tukang bangunan yang ingin memanfaatkan momentum ini, penting untuk memperhatikan waktu kemunculannya dengan seksama. Kala Buingrahu hadir pada berbagai hari dengan kombinasi wuku yang beragam, yaitu Redite bertepatan dengan Wuku Warigadean, Medangsya, Uye, dan Watugunung; Soma saat Wuku Kerulut dan Bala; Anggara pada Wuku Wariga, Langkir, Matal, dan Dukut; Budha bertepatan dengan Wuku Wariga, Langkir, dan Matal; Wrhaspati saat Wuku Ukir, Kerulut, dan Bala; Sukra pada Wuku Gumbreg, Warigadean, Kuningan, Medangkungan, Uye, Bala, Kelau, dan Watugunung; serta Saniscara bertepatan dengan Wuku Kulantir, Ugu, dan Landep.
Kala Tukaran dipercaya dapat meningkatkan kualitas penangkapan ayam aduan dan keberhasilan dalam aktivitas perdagangan. (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Berbeda dengan kala-kala lainnya, Kala Tukaran justru membawa dewasa baik yang sangat mendukung berbagai aktivitas kerajinan dan perburuan. Waktu ini dianggap sangat tepat untuk kegiatan seperti menenun jaring, menangkap ayam aduan, dan mapikat (mencari burung), serta merancang wadah untuk menyimpan barang berharga.
Untuk dapat memanfaatkan hari baik yang menguntungkan ini secara maksimal, para pedagang dan pengrajin perlu memperhatikan dengan seksama waktu kemunculan Kala Tukaran, yaitu Anggara Wuku Ukir dan Wuku Warigadean.
Kala Malalanan: Saat Tepat Perakitan Sangkar Burung (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Periode Kala Malalanan merupakan waktu yang sangat istimewa dalam kalender Bali karena membawa berkah dewasa baik untuk berbagai kegiatan konstruksi dan pertanian. Momentum ini sangat direkomendasikan untuk membangun gelodokan (rumah burung) yang akan digunakan sebagai sangkar burung atau ayam, serta menjadi waktu yang tepat untuk mendirikan suatu lumbung padi seperti Jineng.
Energi semesta yang hadir selama Kala Malalanan memberikan dukungan bagi aktivitas yang berkaitan dengan tempat tinggal makhluk hidup dan penyimpanan hasil pertanian. Dan dapat dimanfaatkan pada hari Soma saat Wuku Kulantir.
Kala Geger: Momentum Positif Penciptaan Alat Musik (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Kehadiran Kala Geger dalam perhitungan padewasan membawa energi yang sangat positif untuk memproduksi segala sesuatu yang berkaitan dengan musik. Waktu ini dianggap sebagai momentum terbaik untuk membuat kentongan, genta, keroncongan sapi, kendang, serta segala macam gamelan dan instrumen musik lainnya yang memiliki keterkaitan dengan dunia bunyi dan harmoni.
Vibrasi positif yang terpancar selama Kala Geger ini resonan dengan frekuensi penciptaan alat musik, sehingga menghasilkan kualitas suara yang optimal dan tahan lama. Kala Geger muncul pada hari Wrhaspati dan Saniscara yang bertepatan dengan Wuku Wariga.
Kala Tiga Pasah merupakan hari yang sangat krusial dalam penentuan dewasa pernikahan, karena kehadirannya dalam kombinasi wuku dan wewaran tertentu dapat menjadi pantangan besar untuk melangsungkan upacara perkawinan. Tradisi meyakini bahwa apabila seseorang nekat menggunakan hari ini sebagai dewasa perkawinan, maka kelak pasangan tersebut akan mengalami perceraian (cerai). Kala Tiga Pasah muncul pada hari Redite bertepatan dengan Wuku Warigadean.
Kala Mina: Dewasa Ayu bagi Nelayan. (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Kala Mina dikenal sebagai periode yang sangat menguntungkan bagi para nelayan dan pengrajin alat penangkap ikan. Waktu ini memberikan dewasa baik untuk membuat berbagai peralatan seperti jaring, pancing, pencar, bubu, dan alat tangkap lainnya. Selain itu, Kala Mina juga menjadi momentum yang tepat untuk memulai aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan peralatan yang baru dibuat. Kala Mina hadir pada hari Sukra yang bertepatan dengan Wuku Warigadean dan Medangsya.
Kala Susulan direkomendasikan untuk aktivitas menenun jaring, membuat pencar, serta merancang tapis (alat pembungkus uang) yang berkualitas tinggi. Energi semesta yang terpancar selama Kala Susulan memberikan jaminan hasil yang optimal dan tahan lama. Kala ini terjadi pada hari Soma yang bertepatan dengan Wuku Dungulan.
Kala Bancaran merupakan rentang waktu yang sangat direkomendasikan untuk pembuatan senjata perang dan taji ayam aduan karena energi "memancar" pada periode ini cocok untuk aktivitas yang menghasilkan output atau produk yang akan dikeluarkan dan digunakan. Di sisi lain, para praktisi perlu berhati-hati karena periode ini justru harus dihindari untuk aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan harta kekayaan, mengingat sifat energi yang cenderung keluar ini dapat menyebabkan pemborosan dan kerugian finansial. Kala Bancaran muncul pada hari Redite Wuku Sinta dan hari Anggara saat Wuku Tolu, Tambir, dan Dungulan.
Kala Muncar memiliki karakteristik serupa dengan Kala Bancaran dalam hal pembuatan senjata dan peralatan perang. Waktu ini dianggap sangat proporsional untuk menghasilkan berbagai jenis senjata perang serta taji untuk ayam aduan yang tajam dan berkualitas. Fokus utama Kala Muncar adalah pada aspek ketajaman dan daya tembus senjata yang dihasilkan. Kala Muncar terjadi pada hari Budha Wuku Dungulan.
Menghentikan anak dari mengkonsumsi ASI merupakan fase penting dalam perkembangan anak yang memerlukan waktu yang tepat agar transisi berlangsung dengan lancar. Kala Pegatan dikenal sebagai periode yang membawa dewasa baik untuk melakukan proses penyapihan ini karena energi semesta yang terkandung mendukung peralihan alami dari ketergantungan terhadap ASI menuju konsumsi makanan padat. Kala Pegatan terjadi pada hari Budha Wuku Kuningan.