Jejak Sakral Dalem Putih dan Sri Karang Buncing di Pura Dalem Sarin Bwana
Pura Dalem Sarin Bwana hadir sebagai ruang sunyi yang menyimpan lapisan makna di balik kesederhanaannya. Jejak masa lalu, laku spiritual, dan hubungan manusia dengan alam teranyam secara halus dalam ingatan kolektif masyarakat Jimbaran. Nama, tinggalan, dan kisah yang melekat padanya menjadi penanda bagaimana kesucian tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang dan penuh perenungan. Dari sana, pembaca diajak menyelami warisan nilai yang terus hidup, meski waktu telah berganti berabad-abad.
Pura Dalem Sarin Bwana merupakan situs suci di Jimbaran yang menyimpan jejak sejarah, spiritualitas, dan budaya Bali masa lampau. Pura ini menjadi penanda penting perjalanan hidup Sri Batu Putih atau Dalem Putih, sekaligus menyimpan tinggalan arkeologis berupa lingga dan puluhan arca perwujudan. Di balik keberadaan fisiknya, Pura Dalem Sarin Bwana juga menyimpan kisah lahirnya sebuah nama yang sarat makna filosofis dan religius.
Tampak Halaman Pura Dalem Sarin Bwana (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pura Dalem Sarin Bwana terletak di Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Secara konseptual, pura ini berada dalam kawasan parahyangan, yakni ruang suci yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan spiritual, sosial, dan lingkungan masyarakat Jimbaran sesuai konsep Tri Hita Karana.
Tinggalan arca dan lingga di Pura Dalem Sarin Bwana diperkirakan berasal dari periode Bali Pertengahan, sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Masa ini berkaitan erat dengan kehidupan Dalem Putih dan saudara kembarnya, Sri Batu Ireng, yang kemudian dikenal sebagai penguasa Kerajaan Badhahulu. Sumber-sumber tertulis seperti Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Dalem Putih Jimbaran disusun pada masa yang lebih kemudian, sekitar abad ke-16 dan setelah kekuasaan Kerajaan Mengwi.
Peninggalan Prasasti di Pura Dalem Sarin Bwana (Sumber: Koleksi Pribadi)
Tokoh utama dalam kisah Pura Dalem Sarin Bwana adalah Sri Batu Putih (Dalem Putih), saudara kembar dari Sri Batu Ireng (Dalem Badhahulu/Sri Astasura Ratna Bumi Banten). Dalem Putih tidak dipilih sebagai raja dan kemudian menempuh jalan kehidupan spiritual di wilayah Jimbaran. Dari pernikahannya lahir Dalem Petak Jingga, tokoh yang kelak membangun tiga tempat suci penting di Jimbaran: Pura Dukuh, Pura Ulun Swi, dan Pura Dalem Kahyangan.
Tokoh spiritual lain yang tercatat dalam lontar adalah Danghyang Nirartha, yang berperan dalam penetapan gelar Dukuh Gamongan dan menjadi rujukan spiritual pada masa Dalem Baturenggong.
Arca Dalem Putih dan Sri Karang Buncing (Sumber: Koleksi Pribadi)
Nama Sarin Bwana tidak muncul secara kebetulan. Dalam kisah babad dan lontar, nama ini lahir dari peristiwa pertemuan tidak sengaja antara Dalem Putih dan Dalem Ireng. Setelah menjalani kehidupan spiritual yang sederhana bersama istrinya, Dalem Putih membangun taman dan kebun yang subur di sebuah mal atau pondok terpencil, jauh dari keramaian pemukiman. Kehidupan suci dan keselarasan dengan alam menjadi ciri utama tempat tersebut.
Ketika Dalem Ireng berkunjung dan menyaksikan langsung kesuburan kebun serta kesucian kawasan itu, ia merasa kagum. Sebagai ungkapan penghormatan terhadap laku spiritual Dalem Putih dan pemujaannya kepada Hyang Pramawisesa, Dalem Ireng kemudian menamai kawasan tersebut Sarining Bwana, yang bermakna “inti” atau “sari dari dunia”. Nama ini mencerminkan pandangan bahwa tempat tersebut merupakan pusat kesucian, keseimbangan, dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Seiring perjalanan waktu, penyebutan Sarining Bwana kemudian disederhanakan dan dikenal sebagai Sarin Bwana, yang hingga kini melekat sebagai nama pura dan kawasan suci tersebut.
Patung Ganesha di Salah Satu Pohon Asem (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pemahaman mengenai Pura Dalem Sarin Bwana dibangun melalui kajian terhadap prasasti, purana, piagem, prakempa, dan babad, yang dipadukan dengan bukti arkeologis di lapangan serta tradisi lisan masyarakat. Tinggalan berupa sebuah lingga dengan tiga bagian—Brahma bhaga, Wisnu bhaga, dan Siwa bhaga—serta 43 arca dan fragmen arca perwujudan menjadi bukti kuat aktivitas spiritual di masa lalu.
Arca-arca tersebut memiliki ciri khas ikonografi berupa sikap tangan terlipat di depan tubuh dengan simbol lotus, yang melambangkan pembebasan dan pelepasan jiwa. Hingga kini, Pura Dalem Sarin Bwana tetap berfungsi sebagai pusat pemujaan, pelestarian warisan budaya, dan pemersatu umat, sekaligus menjadi pengingat akan nilai kesederhanaan, kesucian, dan keharmonisan yang diwariskan oleh Dalem Putih.