Beji Taman Gili Dukuh: Warisan Tirta Suci Sejak Masa Singasari

Tersembunyi di tengah lanskap alam yang tenang, sebuah ruang suci menyimpan jejak panjang hubungan manusia dengan air, alam, dan keyakinan. Kawasan ini tumbuh dan bertahan melalui lintasan waktu, dirawat oleh ingatan kolektif serta praktik spiritual yang terus hidup. Lapisan sejarah, mitologi, dan tata ruang sakral berpadu membentuk identitas yang tidak hanya diwariskan, tetapi juga dimaknai ulang oleh generasi kini. Di sanalah keselarasan antara niskala dan sekala tetap terjaga, mengalir seperti tirta yang tak pernah berhenti memberi kehidupan.

Jun 2, 2026 - 05:13
Feb 9, 2026 - 21:11
Beji Taman Gili Dukuh: Warisan Tirta Suci Sejak Masa Singasari
Taman Gili Dukuh (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, terdapat sebuah kawasan suci yang hingga kini tetap ramai dikunjungi umat, terutama pada hari raya Kuningan dan Umanis Kuningan. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Taman Gili Dukuh, sebuah beji atau tempat pesucian yang tidak hanya memiliki daya tarik spiritual, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa Singasari. Keberadaan Taman Gili Dukuh menjadi bukti bahwa warisan tirta suci terus hidup dan dijaga lintas generasi.

Taman Gili Dukuh memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Pura Luhur Giri Kusuma, salah satu pura Kayangan Jagat yang terletak di sebelah barat Pasar Desa Adat Blahkiuh. Hubungan antara pura dan beji ini tidak dapat dipisahkan, karena sejak awal keberadaannya, Taman Gili Dukuh berfungsi sebagai tempat pesucian Ida Betara yang berstana di Pura Luhur Giri Kusuma.

Padmasana Genah Melasti di Tengah Kolam (Source: Koleksi Pribadi)

Dalam Purana Pura Luhur Giri Kusuma disebutkan bahwa Taman Gili Dukuh merupakan beji suci yang telah dirintis sejak zaman Singasari. Kawasan ini diyakini menjadi bagian dari cikal bakal berdirinya Desa Blahkiuh, yang pada masa awal dipimpin oleh Ki Gusti Pacung, tokoh yang berasal dari trah Dinasti Mengwi. Hingga kini, garis keturunannya masih dapat dijumpai di Puri Mayun Blahkiuh.

Pembangunan Pura Luhur Giri Kusuma beserta beji Taman Gili Dukuh tidak dilakukan dalam satu masa. Berdasarkan catatan sejarah, proses pembangunan dimulai pada tahun 1634 hingga 1638, kemudian berlanjut dan mengalami penyempurnaan hingga tahun 1928. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan suci ini terus dipelihara dan disakralkan dari generasi ke generasi, mengikuti dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai kesuciannya.

Padmasana di Taman Gili Dukuh (Sumber: Koleksi Pribadi)

Nama Taman Gili Dukuh memiliki makna yang erat dengan kondisi dan sejarah kawasan tersebut. Kata dukuh dikaitkan dengan keberadaan Padukuhan, sosok atau unsur spiritual yang konon pernah ada di sekitar tempat ini. Sementara itu, istilah gili merujuk pada keberadaan pelinggih Padmasana yang berdiri di tengah kolam, menjadi pusat spiritual sekaligus simbol keseimbangan kosmis.

Sebagai sebuah taman, kawasan ini tidak hanya berfungsi secara ritual, tetapi juga ditata sebagai ruang yang harmonis antara unsur air, tanah, dan vegetasi. Penamaan ini mencerminkan konsep kesucian dan keindahan yang menyatu dalam satu ruang spiritual.

Sebuah Pelinggih dengan Mata Air (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selain dikenal akan kesuciannya, Taman Gili Dukuh juga memiliki aura keangkeran yang dipercaya masyarakat setempat. Salah satu mitologi yang berkembang adalah keberadaan be jeleg, yaitu ikan gabus dengan bentuk yang dianggap tidak biasa. Keberadaan mitos ini menambah dimensi sakral kawasan, sekaligus menjadi pengingat bahwa tempat suci tidak hanya dipahami secara fisik, tetapi juga secara niskala.

Kepercayaan terhadap mitologi lokal ini tidak dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan alam dan spiritual yang bersemayam di kawasan Taman Gili Dukuh.

Pancoran Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Uma (Sumber: Koleksi Pribadi)

Taman Gili Dukuh memiliki beberapa titik mata air suci yang hingga kini masih digunakan oleh masyarakat. Mata air tersebut kemudian dikembangkan secara fungsional menjadi pemandian umum, kolam renang, serta tempat pengelukatan, tanpa menghilangkan nilai kesuciannya. Ke depan, kawasan ini juga direncanakan akan dilengkapi dengan sarana pendukung lainnya.

Secara topografis, kawasan Taman Gili Dukuh terbentang dari utara ke selatan dan tersusun atas tiga tingkatan utama. Susunan ini merujuk pada konsep Tri Mandala, yakni pembagian ruang suci menjadi nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Konsep ini menegaskan bahwa penataan ruang di Taman Gili Dukuh tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berlandaskan nilai kosmologis Hindu Bali.

Patung Arca Dewa-Dewi di Taman Beji Paluh (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di sekitar kawasan Taman Gili Dukuh terdapat area yang kini dikenal sebagai Bumi Perkemahan Dukuh Blahkiuh. Pada masa lalu, tempat ini merupakan lokasi peristirahatan keluarga Kerajaan Mengwi. Seiring waktu, kawasan tersebut dikembangkan menjadi ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Beji Taman Gili Dukuh adalah warisan tirta suci yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal. Berakar sejak masa Singasari, berkembang pada era Mengwi, dan tetap difungsikan hingga kini, kawasan ini menjadi contoh nyata kesinambungan tradisi di Bali. Di tengah arus modernisasi, Taman Gili Dukuh tidak hanya bertahan sebagai tempat suci, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang edukasi, rekreasi, dan pelestarian budaya.