Sumber Air Suci Pura Galuh, Mata Air Magis Pembawa Berkat di Bali Timur
Pura Galuh di Desa Sengkidu, Manggis, Karangasem, merupakan pura yang unik karena menyatukan fungsi sebagai tempat persembahyangan dan tempat pengelukatan. Di dalamnya terdapat mata air suci yang dipercaya membawa berkah penyucian diri, kesehatan, serta kesejahteraan hidup. Banyak umat datang dengan tujuan berbeda, mulai dari pegawai pemerintah yang berharap kenaikan jabatan, pasangan suami istri yang memohon momongan, hingga orang yang sakit memohon kesembuhan. Selain itu, pura ini memiliki keunikan arsitektur: mereka yang selesai melukat tidak keluar melalui candi bentar, melainkan melalui pintu lorong kecil khusus sebagai simbol perjalanan baru setelah pengelukatan dan menjaga kesucian pura.
Pura Galuh dibangun sebagai tempat pemujaan kepada kekuatan niskala yang diyakini menjaga Desa Sengkidu. Di sinilah berstana Tapakan Rangda Ratu Ayu Mas Galuh, sosok suci yang menjadi penjaga keseimbangan sekala dan niskala. Selain itu, pura ini juga menyimpan pusaka keris suci Desa Sengkidu yang disucikan pada ritual-ritual tertentu, menandakan betapa pentingnya peran pura ini dalam kehidupan spiritual masyarakat. Bangunan pura berdiri di tengah suasana asri yang dikelilingi pepohonan beringin besar. Namun, bukan hanya arsitektur maupun suasananya yang menarik perhatian, melainkan terdapat pura taman yang berada menyatu dengan pura ini, keberadaan mata air suci pada pura taman ini dipercaya membawa keberuntungan. Inilah yang menjadikan suasana Pura Galuh begitu tenang dan damai.
Tugu Pura Galuh dan Pura Taman (Sumber: Koleksi pribadi)
Pura Galuh memiliki sumber mata air alami yang digunakan untuk pengelukatan. Air ini dipercaya bisa menyucikan tubuh, pikiran, dan roh, serta memberi keberuntungan bagi siapa pun yang melukat dengan niat tulus. Prosesi pengelukatan umumnya diawali dengan bersembahyang terlebih dahulu di Pura Galuh dan Pura Taman sebagai bentuk penghormatan serta permohonan restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah selesai sembahyang di kedua pura tersebut, barulah umat melakukan pengelukatan di sumber air suci. Yang menarik, umat yang sudah melukat tidak keluar melalui candi bentar sebagaimana saat masuk ke kawasan pura, melainkan melalui sebuah lorong pintu khusus. Jalur keluar ini dirancang khusus sebagai simbol perjalanan baru setelah pengelukatan, sekaligus menjaga kesucian Pura Galuh agar tidak tercemar oleh hal-hal yang telah dilepaskan melalui prosesi pengelukatan.
Sumber Air Suci pada Pura Taman (Sumber: Koleksi pribadi)
Pada pura ini berstana Tapakan Rangda Ratu Ayu Mas Galuh, sesuhunan sakral sebagai pelindung dan penjaga spiritual desa. Umat meyakini, sembahyang di Pura Galuh sebagai stanaNya ini membawa kekuatan, perlindungan, serta membuka jalan bagi keberuntungan hidup. Keberadaan tapakan inilah yang memperkuat daya spiritual pura, membuatnya tak sekadar tempat persembahyangan, melainkan pusat energi niskala yang dihormati.
Tapakan Rangda Ratu Ayu Mas Galuh (Sumber: Koleksi pribadi)
Pada hari-hari suci seperti purnama, tilem, dan kajeng kliwon. Prosesi melukat biasanya dimulai dengan sembahyang bersama, kemudian dilanjutkan dengan penyucian diri menggunakan air suci, dan ditutup dengan doa pribadi memohon anugerah sesuai dengan harapan masing-masing. Menariknya, kebanyakan umat memilih datang pada senja hari, setelah para ayah selesai bekerja dan anak-anak pulang sekolah, sehingga seluruh anggota keluarga bisa berkumpul bersama. Tradisi ini memperlihatkan nilai kekeluargaan yang kuat, di mana sembahyang dan melukat tidak hanya menjadi ritual pribadi, tetapi juga momen kebersamaan yang menyatukan keluarga dalam suasana religius. Pada tempat ini tak jarang umat meminta permohonan pada pura galuh lalu air suci dari pengelukatan Pura Taman sebagai media dari Tuhan lalu ke manusia, diantaranya ada pegawai pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga politisi yang memohon kelancaran karier, ataupun kenaikan jabatan. Pasangan suami istri sering bersembahyang dengan harapan diberi momongan, sementara orang yang tengah sakit datang mencari kesembuhan. Fenomena ini menunjukkan betapa luasnya keyakinan umat akan kekuatan air suci di Pura Galuh yang dianggap mampu menjawab beragam kebutuhan hidup.
Suasana Pura pada Malam Hari (Sumber: Koleksi pribadi)
Selain menjadi tempat persembahyangan, Pura Galuh juga berperan sebagai ruang sosial keagamaan bagi masyarakat sekitar. Kawasan pura sering menjadi titik pertemuan warga desa ketika digelar upacara adat maupun kegiatan gotong royong untuk memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan pura. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pura tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga menjadi pusat kebersamaan yang mengikat masyarakat dalam ikatan tradisi, menjaga solidaritas, serta memperkuat rasa memiliki terhadap warisan leluhur yang ada di Desa Sengkidu.