Denting Gamelan, Lenggang Jiwa: Sanggar Yasa Putra Sedana Menyalakan Api Seni dari Pengaji ke Dunia

Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan keberagaman budaya dan seni tradisionalnya. Tari, tabuh, gamelan, hingga sendratari menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Bali. Salah satu sanggar seni yang berkembang pesat di Kabupaten Gianyar adalah Sanggar Seni Yasa Putra Sedana, yang berlokasi di Banjar Pengaji, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan. Sanggar ini tidak hanya berfokus pada pelestarian seni tradisional, tetapi juga berhasil menjadikannya sebagai daya tarik wisata budaya yang mendukung perekonomian masyarakat lokal.

Apr 26, 2026 - 05:47
Apr 26, 2026 - 11:23
Denting Gamelan, Lenggang Jiwa: Sanggar Yasa Putra Sedana Menyalakan Api Seni dari Pengaji ke Dunia
Yayasan Yasa Putra Sedana (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Sanggar Seni Yasa Putra Sedana berdiri pada tahun 1996 atas prakarsa dua bersaudara, yaitu Dewa Rai Budiasa dan Dewa Putra Diasa. Pendirian sanggar ini didasari oleh semangat untuk menjaga keberlangsungan seni budaya Bali sekaligus memberdayakan masyarakat, khususnya generasi muda di desa, agar memiliki ruang untuk berkreasi. Bahkan sebelum resmi berdiri, sanggar ini sudah aktif menggelar pertunjukan. Pada tahun 1995, mereka memperkenalkan paket pertunjukan “Barong–Legong & Dinner Show” yang digagas sebagai bagian dari uji kompetensi oleh Lembaga Bahasa dan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali. Pertunjukan ini kemudian berkembang menjadi salah satu produk wisata budaya unggulan yang dikenal luas hingga mancanegara.

Kolase Foto Pertunjukan dan Aktivitas Sanggar (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Seiring berjalannya waktu, Sanggar Yasa Putra Sedana semakin dikenal sebagai salah satu sanggar yang aktif menggelar pertunjukan bagi wisatawan. Paket wisata yang ditawarkan umumnya terdiri atas penyambutan wisatawan, pertunjukan seni tari seperti Tari Pendet, Tari Legong, Tari Barong, hingga sendratari Ramayana, kemudian dilanjutkan dengan santap malam bersama. Konsep pertunjukan ini memberikan pengalaman budaya yang menyeluruh kepada wisatawan, sehingga bukan hanya menyaksikan seni tari, tetapi juga merasakan suasana adat Bali.

Selain di tingkat lokal, sanggar ini juga sering tampil di tingkat internasional. Pada tahun 2011, Sanggar Yasa Putra Sedana mendapat undangan dari UNESCO untuk tampil dalam Festival Folklore di Prancis. Kesempatan ini menjadi bukti pengakuan dunia terhadap kualitas seni yang mereka bawakan. Selanjutnya pada tahun 2023, sanggar ini kembali mengharumkan nama Bali dengan tampil dalam National Ramayan Mahotsav di India, sebuah festival internasional yang menampilkan sendratari Ramayana dari berbagai negara.

Kolase Foto Jadul Aktivitas Sanggar (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Kehadiran Sanggar Yasa Putra Sedana tidak hanya berperan dalam pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Pertunjukan yang rutin digelar berhasil menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya, terutama wisatawan mancanegara. Hal ini membuka peluang usaha baru, seperti penyediaan penginapan, kuliner khas Bali, serta kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Desa Pengaji dan Desa Melinggih Kelod pun semakin dikenal sebagai desa wisata budaya berkat peran sanggar ini.

Di sisi lain, sanggar ini juga berfungsi sebagai wadah pendidikan nonformal bagi anak-anak dan remaja desa. Mereka diberi kesempatan untuk belajar menari, menabuh gamelan, dan berpartisipasi dalam pertunjukan. Dengan demikian, regenerasi seniman Bali tetap terjaga, sekaligus membentengi generasi muda dari pengaruh negatif modernisasi.

Interior Bangunan Sanggar dengan Set Gamelan (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Sejumlah penghargaan berhasil diraih oleh Sanggar Yasa Putra Sedana sebagai bentuk apresiasi atas kiprah mereka dalam pelestarian budaya. Sanggar ini mendapatkan Sertifikat Citra Raksata dari Pemerintah Kabupaten Gianyar untuk paket wisata Barong–Legong yang mereka pentaskan. Selain itu, pada tahun 2022 mereka juga menerima penghargaan Parama Patram Budaya Kategori Unggul dari Pemerintah Provinsi Bali. Pengakuan ini menegaskan bahwa sanggar tidak hanya aktif di tingkat komunitas, tetapi juga diakui secara formal oleh pemerintah daerah.

Sanggar Seni Yasa Putra Sedana merupakan salah satu contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat dijaga sekaligus dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya. Dengan sejarah panjang, kegiatan yang konsisten, kontribusi ekonomi bagi masyarakat, serta prestasi internasional, sanggar ini berperan penting dalam menjaga citra Bali sebagai pusat kebudayaan. Ke depan, upaya untuk memperkuat infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperluas jaringan promosi akan menjadi kunci agar sanggar ini tetap relevan dan berkelanjutan. Kehadiran Yasa Putra Sedana juga menunjukkan bahwa seni budaya Bali bukan hanya warisan masa lalu, melainkan aset masa depan yang mampu menghubungkan tradisi lokal dengan dunia internasional.