Desa Adat Belega : Desa dengan warisan budaya yang mendunia, serta pura peninggalan bersejarah.
Desa Adat Belega, terletak di kecamatan Blahbatuh, kabupaten Gianyar, Bali, dengan luas sekitar 2 km persegi dan populasi lebih dari 5000 jiwa. Desa ini dikenal sebagai pusat kerajinan bambu yang terlihat di sepanjang jalannya, mencerminkan keahlian dan identitas kreatif masyarakatnya.
Kabupaten Gianyar, yang terletak di Provinsi Bali, Indonesia, memainkan peran penting dalam mempertahankan warisan budaya dan tradisional pulau tersebut. Kabupaten ini dikenal sebagai pusat seni dan budaya, dengan berbagai desa adat yang memelihara tradisi khas Bali. Salah satu kecamatan di Gianyar, Blahbatuh, menonjolkan Desa Adat Belega, yang terkenal dengan kerajinan bambunya. Desa Belega tidak hanya menjadi pusat kerajinan bambu yang memukau, tetapi juga menyumbang keunikan dalam keberagaman seni dan budaya Gianyar. Gianyar juga memiliki situs sejarah dan keagamaan yang penting, seperti Candi Gunung Kawi, yang memperkaya panorama budaya wilayah ini. Selain itu, Gianyar sering menjadi tuan rumah berbagai festival dan acara seni yang menarik wisatawan serta memperkaya pengalaman budaya di Pulau Dewata.
Kerajinan Bambu (Sumber Gambar : Koleksi Pribadi)
Kerajinan bambu merupakan seni tradisional yang menggambarkan keahlian tinggi dan kreativitas masyarakat. Di Desa Adat Belega, Bambu, sebagai bahan alami yang mudah didapat, memberikan ruang bagi pengrajin untuk menciptakan beragam produk yang memukau. Dari anyaman hingga ukiran, kerajinan bambu dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, termasuk perabotan rumah tangga, alat musik tradisional, hingga dekorasi artistik. Selain keindahannya, kekuatan dan kelenturan bambu menjadikannya pilihan utama dalam pembuatan barang-barang tahan lama. Kerajinan bambu di Desa Adat Belega tidak hanya mencerminkan keindahan alam, tetapi juga menggambarkan warisan budaya dan kecintaan terhadap tradisi, memperkaya keberagaman seni dan keterampilan kerajinan di berbagai komunitas di seluruh dunia.
Pura Penataran Tusan (Sumber Gambar : Koleksi Pribadi)
Desa Adat Belega, selain dikenal sebagai pusat kerajinan bambu yang mencerminkan keahlian dan kreativitas masyarakatnya, juga memiliki warisan sejarah yang bernilai, terutama terkait dengan Pura Penataran Tusan. Pura ini menjadi saksi bisu dari perjalanan I Gusti Gede Tusan, seorang tokoh keluarga yang terlibat dalam perang Gel-gel. I Gusti Gede Tusan, putra dari I Gusti Gede Petandakan, seorang panglima perang yang mengalami kekalahan dalam pertempuran tersebut, memilih jalur Nyineb Wangsa sebagai bagian dari upayanya untuk menghindari konflik. Melarikan diri dari Pura Kentel Gumi di Klungkung ke selatan, dan kemudian ke barat hingga ke Pantai Lebih dan Pantai Saba, I Gusti Gede Tusan akhirnya tiba di Desa Belega. Di sana, beliau mendirikan Pura Penataran Tusan sebagai tanda penghormatan dan pengenangan terhadap leluhur dan perjalanan panjangnya.
Pura Penataran Tusan sendiri menjadi pusat spiritual dan budaya dengan berbagai bangunan yang didedikasikan untuk menghormati leluhur I Gusti Gede Tusan. Pelinggih yang bernama Segara Wilis di Pantai Saba menjadi bagian penting dari perjalanan spiritualnya. Pura ini, dengan segala kompleksitas arsitektur dan makna simboliknya, tidak hanya menjadi titik penting dalam sejarah Desa Adat Belega tetapi juga menggambarkan kekuatan spiritual dan keberanian dalam menghadapi perubahan. Desa Belega dapat menjadi destinasi wisata bagi Mancanegara dan juga Domestik untuk menikmati kerajinan bambu yang terdapat di desa ini.