Tersembunyi di Balik Waktu, Pakakalan sebagai Tradisi Penentu Hari Sakral di Bali (Bagian 5)
Dalam tradisi Hindu Bali, pakakalan adalah penentuan waktu baik dan buruk untuk berbagai kegiatan. Setiap kala memiliki fungsi berbeda, misalnya Kala Pager untuk membuat pagar rumah, Kala Panyeneng untuk menetapkan aturan, Kala Sapuhau untuk alat pertanian, hingga Kala Ngeruda yang buruk bagi upacara tetapi baik untuk membuat senjata. Keberadaan kala-kala ini menjadi pedoman hidup masyarakat Hindu Bali dalam menjaga keseimbangan antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasatmata).
Dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali, masyarakat mengenal berbagai pakakalan atau penentuan waktu yang baik maupun kurang baik untuk melakukan suatu kegiatan. Pengetahuan tentang waktu ini dipercaya membawa pengaruh besar terhadap kelancaran, keselamatan, dan hasil dari sebuah pekerjaan. Salah satu yang sering disebut adalah Kala Pager, diikuti pula dengan jenis kala lainnya seperti Kala Panyeneng, Kala Sapuhau, Kala Ngeruda, Kala Angin, Kala Miled, Kala Magguneb, Kala Wisesa, Kala Suwung, Kala Luang, dan Kala Rumpuh. Setiap kala memiliki fungsi serta tujuan berbeda, dan biasanya dipakai sebagai pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Upacara Yadnya Mecaru (Koleksi Pribadi)
Kala Pager adalah waktu baik untuk membuat pagar rumah atau pelindung pekarangan. Pagar dalam budaya Bali tidak hanya berfungsi sebagai batas fisik, tetapi juga sebagai simbol perlindungan dari gangguan luar. Misalnya, keluarga yang hendak membangun tembok penyengker di rumahnya akan memilih waktu Kala Pager agar mendapat perlindungan secara sekala maupun niskala. Pada saat ini pula disarankan tidak bepergian jauh, sebab dipercaya kurang baik untuk melakukan perjalanan besar.
Pasraman Pemangku Desa Adat Panjer (Sumber : Koleksi Pribadi)
Berbeda dengan itu, Kala Panyeneng justru merupakan waktu yang baik untuk menetapkan aturan, seperti awig-awig di desa adat atau peraturan kelompok banjar. Kala ini juga dianggap baik untuk mulai menyimpan harta atau tabungan. Sebagai contoh, jika sebuah keluarga ingin memutuskan aturan warisan, atau kelompok masyarakat ingin membuat kesepakatan bersama, maka Kala Panyeneng dianggap sebagai momen yang tepat.
Pemandangan Sawah (Sumber : Koleksi Pribadi)
Dalam bidang pertanian, ada Kala Sapuhau yang dianggap paling baik untuk membuat alat-alat pertanian. Misalnya, seorang petani bisa memilih waktu ini untuk menempa cangkul baru atau memperbaiki bajak sawah, karena diyakini hasilnya lebih kuat dan bermanfaat. Kegiatan pertanian memang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Bali, sehingga keberadaan kala ini memiliki arti penting.
Namun, tidak semua kala membawa keberuntungan. Kala Ngeruda misalnya, dianggap sebagai waktu yang kurang baik untuk melaksanakan upacara yadnya atau pekerjaan besar. Meski begitu, kala ini justru baik untuk membuat alat runcing dan senjata tikam. Contohnya, seorang pandai besi dapat memilih Kala Ngeruda untuk menempa keris atau tombak, karena dipercaya akan lebih tajam dan memiliki kekuatan.
Upacara Maligia (Sumber : Koleksi Pribadi)
Ada pula Kala Angin, yang membawa waktu baik untuk melatih hewan ternak maupun hewan peliharaan. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seorang petani bisa melatih kerbaunya untuk membajak sawah, atau seseorang bisa melatih anjingnya untuk menjaga rumah. Dengan memilih Kala Angin, kegiatan melatih hewan diyakini akan lebih mudah dan berhasil.
Sementara itu, Kala Miled dipercaya baik untuk meramu berbagai ramuan. Misalnya, seseorang yang membuat obat tradisional dari daun-daunan atau meracik jamu untuk kesehatan akan memilih waktu ini. Bahkan dalam budaya tertentu, Kala Miled juga digunakan untuk membuat ramuan penambah stamina ayam aduan atau jangkrik, yang menunjukkan betapa dekatnya masyarakat dengan kegiatan sehari-hari.
Mengatur Sembah di Pura Pojok Batu (Sumber : Koleksi Pribadi)
Selanjutnya ada Kala Magguneb, yang cocok untuk membuat perangkap binatang dan ikan. Waktu ini juga baik untuk membuat sarana perlindungan gaib dari ilmu hitam. Sebagai contoh, seorang nelayan bisa memilih kala ini untuk membuat bubu ikan, atau seorang pemangku bisa menyiapkan sarana panyengker untuk melindungi pura dari energi negatif.
Kala Wisesa memiliki arti yang lebih besar karena diyakini sebagai waktu baik untuk penobatan pemimpin atau pelantikan pejabat. Dalam praktiknya, desa adat dapat memilih Kala Wisesa untuk melantik bendesa baru, atau pemerintah desa menggunakan kala ini untuk meresmikan seorang perbekel. Pemilihan waktu ini menekankan pentingnya kekuatan spiritual dalam kepemimpinan.
Upacara Yadnya Potong Gigi (Sumber : Koleksi Pribadi)
Di sisi lain, ada Kala Suwung yang dianggap buruk untuk berbagai kegiatan, terutama pelaksanaan upacara Panca Yadnya. Oleh karena itu, masyarakat biasanya menghindari melakukan pekerjaan besar di kala ini. Misalnya, jika ada keluarga yang hendak mengadakan upacara potong gigi atau ngaben, maka kala ini akan dilewati agar tidak menimbulkan hambatan.
Berbeda dengan itu, Kala Luang justru baik untuk kegiatan tertentu, seperti membuat terowongan atau menanam tanaman berumbi. Misalnya, petani bisa memilih waktu ini untuk menanam ubi atau singkong. Akan tetapi, kala ini dianggap jelek jika dipakai untuk membuat bendungan, sehingga pekerjaan semacam itu sebaiknya ditunda.
Upacara Caru Pengeruak (Sumber : Koleksi Pribadi)
Terakhir, ada Kala Rumpuh, yang dianggap buruk untuk memulai beternak hewan, membuat rumah, atau pindah rumah. Misalnya, jika ada keluarga yang berencana pindah ke rumah baru, maka kala ini sebaiknya dihindari agar tidak mengalami kesulitan di kemudian hari. Begitu pula dengan memulai usaha peternakan, waktu ini tidak dianjurkan.
Upacara Yadnya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Dari berbagai uraian tersebut, jelas bahwa pakakalan tidak sekadar hitungan hari biasa, melainkan pedoman yang menyatukan aspek spiritual, sosial, dan budaya. Kehadiran kala-kala ini menunjukkan bagaimana masyarakat Hindu berusaha menata kehidupan dengan penuh keharmonisan, menjaga keseimbangan antara dunia nyata (sekala) dan dunia tak kasatmata (niskala).
Dengan demikian, memahami dan menerapkan kala dalam kehidupan sehari-hari bukanlah sekadar mengikuti tradisi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Kala Pager dan kala-kala lainnya menjadi penuntun agar setiap langkah manusia senantiasa selaras dengan alam semesta serta mendapat perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.