Pura Puseh-Desa: Kahyangan Tiga yang Berada di Kawasan Sad Kahyangan Pura Penataran Sasih
Desa Pejeng yang terletak di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan desa yang kaya akan nilai sejarah. Desa Pejeng dikenal sebagai desa purba atau desa kuno. Sebagai pura kerajaan di Bali Kuno, tentunya Pura Penataran Sasih tidak bisa berdiri sendiri. Terdapat beberapa pura yang juga berada di satu kawasan dengan Pura Penataran Sasih, salah satunya yaitu Pura Puseh-Desa.
Pura Puseh-Desa adalah bagian penting dari struktur keagamaan masyarakat Bali, khususnya di Desa Pejeng. Pura ini melambangkan hubungan masyarakat desa dengan Dewa Wisnu sebagai penjaga kesuburan dan kelestarian alam. Nama "Puseh" sendiri merujuk pada pusat atau inti kehidupan, yang menjadikan pura ini sebagai tempat awal dalam rangkaian pemujaan terhadap Tri Murti.
Struktur Bangunan di Pura Puseh-Desa (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Keberadaan Pura Puseh-Desa di dalam kompleks Pura Penataran Sasih mempertegas pentingnya hubungan antara kehidupan spiritual dan keseimbangan alam dalam tradisi masyarakat Bali. Pura ini bukan hanya pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya hidup harmonis dengan alam dan Ida Sang Hyang Widhi.
Bale Agung di Pura Puseh-Desa Pejeng (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Di dalam pura pastinya terdapat pelinggih dan bangunan yang memiliki fungsinya masing-masing. Pelinggih dan bangunan lain yang ada di Pura Puseh-Desa Pejeng di antaranya:
1. Padmasana Stana Hyang Widhi. Pelinggih ini adalah tempat suci yang digunakan untuk memuja Dewa Iswara, salah satu manifestasi dari Dewa Siwa dalam agama Hindu. Iswara sering diasosiasikan dengan arah timur, sehingga pelinggih ini biasanya ditempatkan di bagian timur pura.
2. Palinggih Ratu Ketut Petungan. Tempat pemujaan untuk Dewa atau leluhur yang dikenal sebagai Ratu Ketut Petungan, yang dipercaya memberikan perlindungan dan kesejahteraan.
3. Gedong Pasimpenan. Gedong adalah bangunan tertutup yang digunakan untuk menyimpan pratima (arca atau simbol suci Dewa-Dewi) dan benda-benda sakral lainnya.
4. Palinggih Sedahan Pengrurah. Pelinggih ini letaknya di bagian Selatan halaman menghadap ke Barat dan biasanya seperti Gedong yang seluruhnya terbuat dari batu padas.
5. Bale Peselang. Bale Paselang, secara fisik adalah sebuah bangunan bale-bale berpilar enam yang berada di pojok dalam pura.
6. Bale Pewedaan. Bangunan yang dipersiapkan untuk para sulinggih pada saat upacara berlangsung.
7. Bale Panggungan. Panggungan berfungsi sebagai tempat persembahan sementara atau lokasi untuk meletakkan perlengkapan upacara.
8. Bale Agung. Bangunan panjang bertiang 11, dipergunakan untuk tempat bermusyawarah/sidang pengurus pura. Selain itu digunakan sebagai tempat banten waktu terselenggaranya upacara.
9. Pelinggih Ratu Mas. Tempat pemujaan kepada manifestasi spiritual yang dikenal sebagai Ratu Mas, yang diyakini membawa berkah dan perlindungan.
10. Pelinggih Ratu Ibu Pertiwi. Tempat pemujaan kepada Dewi Pertiwi sebagai simbol kesuburan dan kelimpahan bumi.
11. Meru Tumpang Tujuh Stana Ida Ratu Pasek. Pelinggih berbentuk meru bertingkat tujuh yang didedikasikan kepada Ida Ratu Pasek, leluhur atau entitas spiritual yang dihormati oleh masyarakat Pasek.
12. Pelinggih Ratu Made Jelewarang. Tempat pemujaan kepada Ratu Made Jelewarang, manifestasi spiritual tertentu yang dipercaya memberikan berkah dan kesejahteraan.
13. Pengaruman. Bale Pengaruman sebagai sthana Bhatara dan Bhatari pada saat piodalan (tempat ngelinggihang arca/simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada saat Piodalan).