Loloh Don Kayu Manis: Ramuan Usadha Bali untuk Sakit Tenggorokan

Daun katuk atau yang dikenal dalam masyarakat Bali sebagai don kayu manis ternyata tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Dalam pengetahuan Usadha Bali, tanaman ini dikenal sebagai bahan loloh yang digunakan secara tradisional untuk keluhan sakit tenggorokan. Pemanfaatannya bahkan tercatat dalam Lontar Taru Pramana, sementara masyarakat hingga kini masih mengenal cara membuat loloh don kayu manis dengan bahan sederhana.

Aug 27, 2026 - 05:54
Aug 26, 2026 - 21:48
Loloh Don Kayu Manis: Ramuan Usadha Bali untuk Sakit Tenggorokan
Loloh Daun Katuk/Don Kayu Manis(Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Pernahkah Anda mendengar tentang loloh don kayu manis? Di tengah banyaknya tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional Bali, daun katuk atau don kayu manis menjadi salah satu tanaman yang menarik untuk dikenali. Tanaman yang sehari-hari lebih banyak dikenal sebagai sayuran ini ternyata memiliki jejak pemanfaatan dalam Usadha Bali.

Don kayu manis dimanfaatkan sebagai bahan loloh, yaitu ramuan tradisional berbentuk cair yang diminum. Dalam pengetahuan masyarakat, loloh don kayu manis dikenal untuk membantu meredakan keluhan seperti sakit tenggorokan. Pemanfaatan tersebut bukan hanya berasal dari cerita yang berkembang di masyarakat. Jejaknya dapat ditemukan dalam Lontar Taru Pramana, yang mencatat berbagai jenis tumbuhan beserta sifat dan pemanfaatannya dalam pengobatan tradisional Bali.

Pengobatan tradisional Bali atau Usadha memiliki hubungan yang erat dengan pemanfaatan tumbuhan di lingkungan sekitar. Salah satu sumber pengetahuan yang memperlihatkan hal tersebut adalah Lontar Taru Pramana. Taru Pramana memuat pengetahuan mengenai berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Di dalamnya, tumbuhan tidak hanya dikenali berdasarkan namanya, tetapi juga dapat disertai keterangan mengenai bagian yang digunakan, sifat tumbuhan, cara pengolahan, serta pemanfaatannya.

Menurut penjelasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, bagian tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan dapat berupa akar, batang atau babakan, daun, bunga, buah, hingga getah. Berbagai bahan tersebut kemudian dapat diolah menjadi sejumlah bentuk ramuan, seperti loloh, sembar atau simbuh, boreh, tutuh, tempel, dan bentuk lainnya. Salah satu bentuk yang masih cukup dikenal hingga sekarang adalah loloh. Ramuan ini berupa cairan yang dikonsumsi dengan cara diminum.

Daun Katuk/Don Kayu Manis(Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Salah satu tanaman yang tercatat dalam kajian mengenai Taru Pramana adalah Taru Manis, yang diidentifikasi sebagai Sauropus androgynus (L.) Merr., atau yang lebih dikenal sebagai daun katuk. Dalam konteks masyarakat Bali, tanaman tersebut dikenal pula dengan nama don kayu manis. Bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan loloh dalam pengetahuan pengobatan tradisional.

Yang membuat don kayu manis menarik adalah adanya keterangan mengenai pemanfaatannya untuk sakit tenggorokan. Keterangan tersebut dapat ditemukan dalam salinan Lontar Usada Taru Pramana yang terdokumentasi dalam Repository Universitas Pendidikan Ganesha.
Dalam naskah tersebut disebutkan:

“Tityang mawasta taru manis, akah rawuh ring dawun tis, yan ana wong rare sakit seret, ambil tityang anggen loloh, ra., santen bawang.”

Dalam terjemahan yang terdapat pada sumber tersebut, keterangan itu berarti:

“Saya bernama pohon daun katuk, akar sampai dengan daun bersifat sejuk, jikalau ada orang sakit tenggorokan, ambillah saya jadikan loloh, campurkan dengan santen dan bawang.”

Keterangan tersebut menjadi salah satu dasar penting untuk melihat hubungan antara Taru Manis, loloh, dan sakit tenggorokan dalam pengetahuan Usadha Bali. Artinya, penggunaan don kayu manis sebagai loloh untuk sakit tenggorokan bukan hanya merupakan pengetahuan yang dikenal masyarakat saat ini, tetapi memiliki jejak tertulis dalam Lontar Taru Pramana.

Bahan-Bahan Loloh Don Kayu Manis(Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Selain memiliki jejak dalam lontar, pengetahuan mengenai loloh don kayu manis ternyata masih dapat ditemukan dalam masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat resep sederhana yang cukup dikenal untuk membuat loloh don kayu manis. Bahan-bahannya pun mudah ditemukan di sekitar rumah.

Bahan-bahan

  1. Daun katuk atau don kayu manis secukupnya
  2. Bawang merah
  3. Air matang
  4. Garam secukupnya

Cara Membuat

  1. Pertama, daun katuk dipisahkan dari batangnya. Jika terdapat bunga pada tanaman, bagian tersebut dibuang. Daun kemudian dicuci hingga bersih menggunakan air matang.
  2. Daun yang telah bersih kemudian diremas dan diuleni menggunakan tangan hingga mengeluarkan sari berwarna hijau.
  3. Selanjutnya, bawang merah mentah dan sedikit garam ditambahkan. Daun kembali diremas hingga sari daun dan bahan lainnya tercampur.
  4. Setelah sari daun keluar, campuran tersebut disaring untuk memisahkan cairan dari ampas daun.
  5. Cairan berwarna hijau hasil penyaringan kemudian diminum sebagai loloh don kayu manis.

Proses Pembuatan Loloh Don Kayu Manis(Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Proses pembuatannya terbilang sederhana. Tidak diperlukan peralatan khusus ataupun proses perebusan yang panjang. Cara sederhana tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai tanaman obat dapat diwariskan melalui praktik sehari-hari, bukan hanya melalui tulisan.

Menariknya, cara pembuatan loloh yang dikenal masyarakat saat ini memiliki perbedaan dengan keterangan yang terdapat dalam Lontar Taru Pramana. Dalam lontar disebutkan bahwa Taru Manis digunakan sebagai loloh dengan campuran santan dan bawang, sedangkan resep yang diperoleh melalui wawancara menggunakan air matang, bawang merah, dan garam.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai loloh dapat mengalami penyesuaian ketika terus dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Bahan yang digunakan maupun cara pengolahannya dapat mengikuti kebiasaan yang berkembang, tanpa menghilangkan tanaman utama yang menjadi bahan ramuan.

Dengan demikian, resep yang dikenal masyarakat saat ini tidak harus dipahami sebagai salinan persis dari resep yang tertulis dalam lontar. Keduanya merupakan bagian dari jejak pengetahuan mengenai pemanfaatan don kayu manis sebagai loloh. Hal ini juga memperlihatkan bahwa pengetahuan tradisional tidak hanya bertahan melalui naskah tertulis. Sebagian pengetahuan dapat terus hidup karena dipraktikkan, diingat, dan diwariskan secara lisan dalam keluarga maupun masyarakat.

Sumber:
disbudpar, A. (2021, Maret 2). TARU PRAMANA. Diambil kembali dari https://disbudpar.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/14-taru-pramana
Pardika, M. (2000). HASIL STUDI DOKUMENTASI “ETNOKIMIA BAHAN LOLOH MENURUT LONTAR USADA TARU PRAMANA DAN INTEGRASINYA DALAM PEMBELAJARAN KIMIA DI SMK FARMASI”. Diambil kembali dari https://repo.undiksha.ac.id/21097/9/2013031012-LAMPIRAN.pdf