Sejarah Bedahulu: Dari Kejayaan Astasura hingga Tipu Daya Majapahit

Kerajaan Bedahulu, yang terletak di wilayah Bali, memiliki sejarah panjang yang penuh dengan kisah kepahlawanan, perlawanan terhadap kekuasaan asing, dan mitos yang melekat erat dalam ingatan masyarakat Bali. Sebagai salah satu kerajaan yang berperan penting dalam sejarah Bali, Bedahulu menyimpan berbagai cerita mengenai kejayaan dan perlawanan terhadap kekuasaan Majapahit yang pada akhirnya menaklukkan kerajaan ini.

Aug 18, 2026 - 18:58
May 15, 2026 - 14:35
Sejarah Bedahulu: Dari Kejayaan Astasura hingga Tipu Daya Majapahit
Tarian Sang Hyang Jaran (Sumber foto : Koleksi Pribadi)

Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, yang dikenal sebagai salah satu penguasa terbesar di Bali, adalah sosok yang sangat dihormati. Beliau adalah seorang penganut agama Buddha yang taat dan banyak mendirikan tempat suci agama Buddha di Bali. Pada masa pemerintahannya, beliau dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan kuat, terkenal karena keberaniannya dalam pertempuran dan kepemimpinannya dalam pasukan Dulang Mangap Kerajaan Gelgel.

Namun, pada tahun 1338 M, kerajaan Bedahulu mulai menghadapi ancaman besar dari Majapahit. Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten menentang kekuasaan Majapahit yang dipimpin oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Meskipun beliau adalah keturunan Majapahit, sikapnya yang tidak tunduk pada kekuasaan Majapahit membuat hubungan antara kedua kerajaan semakin tegang.

Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Sikap menentang Majapahit ini terjadi karena Bali sudah lama berada di bawah perlindungan Kerajaan Daha, yang menjalin hubungan dengan Bali sejak pemerintahan Raja Putri Ganapriya Dharmapatni pada abad ke-10 M. Meskipun Bali pernah dikuasai Singhasari pada tahun 1284 M, Bali kembali berada di bawah pengawasan Kerajaan Daha setelah keruntuhan Singhasari pada tahun 1292 M.

Pada tahun 1293 M, Majapahit menyerang Kerajaan Daha, dan Bali pun langsung berada di bawah kekuasaan Majapahit. Namun, meskipun Bali dikuasai oleh Majapahit, rakyat Bali tetap setia pada pemimpin mereka dan tetap mempertahankan kebebasan serta kehormatan kerajaan mereka.

Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Penolakan Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten terhadap Majapahit semakin menegaskan bahwa Bali tidak ingin berada di bawah kekuasaan asing. Sikap ini membuatnya dijuluki Raja Bedahulu, yang berarti "beda" (berbeda) dan "hulu" (atasan), yang menunjukkan bahwa beliau menolak untuk tunduk pada kekuasaan Majapahit yang sebelumnya mengangkatnya sebagai raja.

Keputusan Raja Bedahulu untuk menentang Majapahit ini kemudian mengarah pada pengiriman pasukan besar oleh Majapahit. Pasukan ini dipimpin oleh Patih Gajah Mada dan Arya Damar, yang dikenal dengan nama Adityawarman. Dengan kekuatan yang besar, Majapahit berusaha menundukkan Bali, tetapi perlawanan dari rakyat Bali tidak berhenti begitu saja.

Perlawanan Raja Bedahulu (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Seiring berjalannya waktu, Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, yang lebih dikenal dengan nama Raja Bedahulu, terus mempertahankan kedaulatan Bali, bahkan meskipun ia sudah menghadapi ancaman dari pasukan Majapahit. Namun, tipu daya Patih Gajah Mada yang cerdik akhirnya membawa Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Meskipun Bali berhasil ditaklukkan, kisah Raja Bedahulu tetap hidup dalam cerita rakyat Bali. Mitos tentang Raja Bedahulu yang berkepala babi mengisahkan bagaimana seorang raja yang memiliki kekuatan luar biasa dan keberanian menentang kekuasaan luar, tetapi akhirnya mengalami nasib tragis akibat tipu daya yang dilakukan oleh para pejabat Majapahit.

Tipu Daya Gajah Mada (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Cerita tentang Raja Bedahulu dan perlawanan Bali terhadap Majapahit ini menjadi simbol bagi orang-orang Bali tentang keberanian dan semangat untuk mempertahankan kebebasan. Kisah ini juga menjadi pelajaran penting tentang bagaimana politik dan kekuasaan dapat memainkan peran besar dalam menentukan nasib sebuah kerajaan.

Peninggalan kerajaan Bedahulu kini masih dapat ditemukan di beberapa situs bersejarah di Bali, seperti Pura Jero Agung, Samuan Tiga, Goa Gajah, dan Pura Bukit Sinunggal. Situs-situs ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Bali yang penuh dengan perjuangan dan kisah-kisah heroik.

Pura Samuan Tiga (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Salah satu peninggalan yang terkenal dari kerajaan Bedahulu adalah Goa Gajah, yang terkenal dengan arca Ganesa yang melambangkan Dewa Ilmu Pengetahuan. Selain itu, di dalam goa ini juga terdapat fragmen-fragmen arca dan sebuah trilangga yang mengelilingi delapan buah lingga kecil-kecil. Peninggalan ini menjadi simbol penting dari kebudayaan dan spiritualitas Bali yang terus diwariskan hingga kini.

Di dalam Goa Gajah juga terdapat prasasti yang berasal dari abad ke-11 M, yang semakin memperkuat keterkaitan antara kerajaan Bedahulu dengan perkembangan kebudayaan Bali pada masa itu. Di sekitar Goa, terdapat juga arca penjaga dan fragmen-fragmen bangunan yang belum dapat diidentifikasi, yang menunjukkan kekayaan budaya dan sejarah Bali yang mendalam.

Pura Goa Gajah (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Dengan demikian, sejarah Bedahulu tidak hanya berhenti pada perlawanan terhadap Majapahit, tetapi juga mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga identitas dan kebudayaan, meskipun dihadapkan pada ancaman dari luar. Kejayaan Astasura yang disertai dengan perlawanan keras terhadap Majapahit menjadi bagian dari warisan berharga yang terus dikenang dalam ingatan masyarakat Bali.

Kerajaan Bedahulu adalah bukti bahwa perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan dan kebebasan tidaklah sia-sia. Meskipun akhirnya Bali berhasil ditaklukkan oleh Majapahit, semangat perlawanan yang ditunjukkan oleh Raja Bedahulu dan rakyat Bali akan terus hidup dalam sejarah dan budaya Bali yang kaya.