Sanggar Agung Giri Budaya: Ruang Budaya Bali di Tanah Kupang

Sebuah budaya tidak selalu hilang karena tidak lagi dikenal. Kadang, ia perlahan memudar ketika generasi yang seharusnya menerima warisan tersebut mulai memilih untuk berjalan ke arah lain. Lalu, bagaimana jika warisan tersebut harus tumbuh jauh dari tanah tempat ia dilahirkan? Bagaimana jika generasi yang diharapkan menjadi penerus hidup di tengah masyarakat dengan latar belakang yang berbeda, memiliki kesibukan dan pilihan yang semakin beragam, sementara budaya yang diwariskan harus terus diperkenalkan agar tidak ditinggalkan? Apakah jarak dari Bali akan membuat budaya Bali semakin sulit dipertahankan? Atau justru, di tempat yang jauh dari asalnya, akan muncul cara lain untuk membuatnya tetap hidup? Dan pada akhirnya, siapa yang akan berdiri ketika generasi hari ini tidak lagi mampu menari?

Sep 27, 2026 - 09:18
Sep 26, 2026 - 15:39
Sanggar Agung Giri Budaya: Ruang Budaya Bali di Tanah Kupang
Logo Sanggar Tari Agung Giri Budaya (Sumber: Koleksi Sanggar)

Di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tari Bali dipelajari secara rutin di Sanggar Tari Agung Giri Budaya yang berada di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, Kolhua. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat mengikuti kegiatan sanggar. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan usia dan latar belakang agama, baik laki-laki maupun perempuan. Kegiatan latihan berlangsung setiap Sabtu dan Minggu pukul 15.30–17.30 WITA dengan pengajar Ibu Ary Mayastuti, Ibu Charma, dan Ibu Kusuma. Sanggar ini memperingati hari jadinya setiap 16 Februari dan menjadi tempat peserta mempelajari tari Bali sekaligus mempersiapkan diri untuk berbagai pementasan dan kegiatan di Kota Kupang.

Kegiatan Latihan Rutin Sanggar Tari Agung Giri Budaya (Sumber: Koleksi Sanggar)

Peserta yang ingin bergabung dengan sanggar terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan membayar biaya awal pendaftaran. Dalam latihan, peserta baru tidak langsung diberikan tarian dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Kegiatan dimulai dengan pemanasan sebelum latihan tari, kemudian dilanjutkan dengan latihan berbagai tarian yang disesuaikan dengan kemampuan peserta. Gerakan tubuh, gerak tangan, gerak mata, serta kemampuan mengikuti irama menjadi bagian dari latihan. Setelah latihan, pengajar memberikan evaluasi terhadap gerakan peserta sehingga peserta mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.

Perkembangan peserta tidak ditentukan hanya berdasarkan berapa lama mereka telah mengikuti sanggar. Peserta dapat mempelajari tarian dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi apabila sudah memiliki kesiapan dan kemampuan yang sesuai. Dengan demikian, peserta yang baru bergabung dapat memulai dari materi dasar, sementara peserta yang kemampuan geraknya telah berkembang dapat melanjutkan ke materi yang lebih sulit. Cara tersebut membuat materi latihan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta.

Materi yang diberikan sanggar cukup beragam. Beberapa tari yang dipelajari antara lain Panyembrama, Manukrawa, Puspanjali, Cendrawasih, Gopala, Baris Gede, dan Rejang Dewa. Peserta perempuan maupun laki-laki dapat mengikuti materi tersebut. Selain kelas latihan umum, Sanggar Agung Giri Budaya juga memiliki kelas profesional untuk remaja dan dewasa. Kelas profesional tersebut mencakup Tari Galang Bulan dan Tari Belibis untuk remaja serta Tari Tenun untuk peserta dewasa.

Pada kelas profesional, latihan diawali dengan latihan gerak tubuh selama satu jam sebelum dilanjutkan dengan latihan tari. Latihan tersebut memberikan porsi khusus bagi peserta yang mengikuti kelas profesional. Biaya latihan kelas profesional sebesar Rp100.000 per orang per bulan. Adanya kelas dengan materi yang berbeda memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan kemampuan tari pada tingkat yang lebih lanjut.

 

Pementasan Tari Bali Pada Kegiatan Piodalan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana (Sumber: Koleksi Sanggar)

Kemampuan yang dipelajari dalam latihan kemudian digunakan dalam berbagai kegiatan. Peserta Sanggar Agung Giri Budaya mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan ngayah pada piodalan di Pura Agung Giri Kerta Bhuwana maupun pura-pura lain yang berada di Kota Kupang. Salah satu kegiatan yang diikuti peserta adalah Piodalan Saraswati pada Saniscara Umanis Watugunung. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya membawakan tari Bali, tetapi juga ikut ngayah dalam kegiatan di pura.

Kegiatan sanggar tidak hanya berlangsung di lingkungan pura. Peserta juga pernah tampil dalam acara pernikahan dan kegiatan gereja, serta kegiatan lainnya. Salah satu pementasan yang dilakukan adalah Tari Panyembrama sebagai tarian penyambutan pada Parade Festival Budaya Kolhua dalam rangka HUT ke-81 RI. Pementasan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggunakan kemampuan tari yang telah mereka pelajari selama latihan.

Pementasan Tari Puspanjali Pada Piodalan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana (Sumber: Koleksi Sanggar)

Menurut Ibu Ary Mayastuti, salah satu tantangan yang dihadapi sanggar adalah mempertahankan keaktifan peserta. Jumlah peserta yang mengikuti latihan dapat berkurang karena kesibukan sekolah dan kegiatan lain yang dimiliki peserta. Kondisi tersebut membuat jumlah peserta yang hadir dalam setiap latihan tidak selalu sama. Untuk menjaga minat peserta, pengajar berusaha membuat suasana latihan tetap menyenangkan, memberikan motivasi, dan melibatkan peserta dalam berbagai pementasan.

Tantangan tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan proses belajar peserta. Ketika peserta tidak dapat mengikuti latihan secara rutin, mereka dapat tertinggal dari materi yang sedang dipelajari. Karena itu, latihan dilakukan secara bertahap dan peserta mengikuti materi berdasarkan kemampuan masing-masing. Keterlibatan dalam pementasan juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggunakan kemampuan yang telah mereka pelajari.

Proses belajar di sanggar juga memungkinkan peserta yang telah lebih lama mengikuti latihan untuk membantu peserta lainnya. Ketika jumlah peserta cukup banyak atau pengajar membutuhkan bantuan, peserta yang lebih berpengalaman dapat diminta membantu memperbaiki gerakan peserta yang lebih muda. Bantuan tersebut dapat berupa koreksi terhadap teknik gerak, agem, dan ngét, maupun bagian gerakan lain yang belum dikuasai. Peserta yang lebih lama mengikuti latihan tetap menjadi peserta dan membantu hanya ketika diminta atau ketika bantuan memang diperlukan. Tidak ada batas waktu tertentu yang menentukan kapan seseorang harus mulai membantu peserta lain karena kemampuan setiap peserta berkembang dengan waktu yang berbeda.

Hal tersebut juga pernah dialami penulis yang mengikuti sanggar sejak kecil. Setelah lebih dewasa dan memiliki kemampuan yang cukup, penulis pernah membantu peserta yang lebih muda ketika diminta atau ketika bantuan diperlukan. Bantuan tersebut tidak menggantikan peran pengajar dalam memberikan materi dan melakukan evaluasi. Pengajar tetap menjadi pihak yang memberikan pembelajaran utama, sedangkan peserta yang lebih berpengalaman membantu ketika kondisi latihan membutuhkan bantuan tambahan.

Keberadaan Sanggar Agung Giri Budaya menjadi salah satu tempat berlangsungnya pembelajaran tari Bali di Kota Kupang. Peserta dari berbagai usia dapat mengikuti latihan, mempelajari tari sesuai kemampuan, dan menggunakan hasil latihan dalam kegiatan piodalan, ngayah, serta berbagai kegiatan masyarakat lainnya. Peserta juga dapat terus belajar tanpa harus berasal dari kelompok usia atau latar belakang agama tertentu. Di lingkungan masyarakat Kupang yang beragam, sanggar menjadi ruang tempat tari Bali tetap dipelajari oleh orang-orang yang hidup jauh dari Bali dan dapat terus dikenalkan kepada peserta berikutnya.

Suasana latihan di Sanggar Agung Giri Budaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kegiatan Sanggar Tari Agung Giri Budaya berlangsung melalui latihan setiap akhir pekan, pembelajaran berbagai jenis tari, evaluasi, dan persiapan untuk berbagai pementasan. Peserta datang dengan usia dan kemampuan yang berbeda, kemudian mengikuti materi sesuai dengan kesiapan masing-masing. Peserta yang lebih berpengalaman juga dapat membantu peserta lain ketika diperlukan tanpa mengambil peran pengajar. Proses belajar tari Bali terus berlangsung melalui kegiatan latihan, pementasan, ngayah, dan keterlibatan peserta dalam kegiatan sanggar.