Sanggar Seni Satriya Lelana: Menjaga Warisan Drama Tari Gambuh di Tanga Anak Muda Lewat Pesta Kesenian Bali

Berlokasi di jantung seni Desa Batuan, Gianyar, Sanggar Seni Satriya Lelana hadir sebagai rumah bagi generasi muda untuk mengenal akarnya. Kegiatan rutin sanggar meliputi pelatihan seni tari dan karawitan (tabuh) yang menempa kedisiplinan anggotanya. Namun, dedikasi terbesar mereka terletak pada upaya menjaga napas Drama Tari Gambuh, sebuah warisan klasik yang rumit dan langka. Konsistensi mereka dalam regenerasi budaya telah diakui secara luas, terbukti dari penampilan memukau mereka di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) hingga sukses menembus panggung Ibu Kota di Festival Budaya Panji 2024.

Sep 21, 2026 - 12:00
Sep 21, 2026 - 10:14
Sanggar Seni Satriya Lelana: Menjaga Warisan Drama Tari Gambuh di Tanga Anak Muda Lewat Pesta Kesenian Bali
Sanggar Seni Satriya Lelana (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Sanggar Seni Satriya Lelana: Menjaga Warisan Drama Tari Gambuh di Tanga Anak Muda Lewat Pesta Kesenian Bali

Sanggar Seni Satriya Lelana merupakan sanggar seni yang terletak di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di tengah wilayah yang dikenal sebagai detak jantung seni lukis dan tari klasik Bali ini, mereka memilih jalan sunyi untuk tetap setia pada akarnya. Sanggar ini hadir sebagai benteng pertahanan budaya, memastikan napas Drama Tari Gambuh tidak berhenti di generasi tua.

Anak-anak berlatih menari di Sanggar Satriya Lelana (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Secara umum, aktivitas di sanggar ini sangatlah dinamis. Layaknya sanggar seni pada umumnya di Bali, Sanggar Seni Satriya Lelana membuka kelas pelatihan yang beragam. Di sini, anak-anak diajarkan dasar-dasar olah tubuh melalui seni tari, mulai dari tari dasar untuk pemula hingga tari kreasi dan klasik untuk tingkat lanjut. Tidak hanya gerak, sanggar ini juga mengajarkan seni tabuh (karawitan), memastikan anggotanya memiliki kepekaan musikalitas yang tinggi. Mereka aktif membina anggotanya untuk terjun dalam berbagai lomba tari, serta rutin melakukan kegiatan ngayah (pentas sukarela) di pura-pura saat upacara adat berlangsung.

Berlatih Drama Tari Gambuh (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Namun, di balik beragam aktivitas reguler tersebut, Sanggar Seni Satriya Lelana memiliki satu identitas yang membedakannya dari sanggar kebanyakan. Di bawah asuhan tokoh seni I Wayan Budiarsa, sanggar ini memilih jalan pengabdian yang lebih sunyi namun mulia: melestarikan Drama Tari Gambuh gaya Batuan.

Pementasan Drama Tari Gambuh oleh Sanggar Seni Satriya Lelana (Sumber Foto: Koleksi Redaksi)

Gambuh bukanlah kesenian biasa. Ia adalah "ibu" dari segala tari Bali, sebuah warisan teater tari tertua yang memiliki tingkat kerumitan tinggi, baik dari segi gerak, vokal, maupun struktur pertunjukannya. Menyadari bahwa warisan leluhur ini terancam punah jika tidak ada yang merawatnya, sanggar ini menjadikan regenerasi penari Gambuh sebagai misi utamanya.

Foto Bersama oleh Penari Gambuh Sanggar Seni Satriya Lelana (Sumber Foto: Koleksi Redaksi)

Komitmen mereka dalam merawat kesenian ini terlihat nyata melalui partisipasi konsisten di ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB). Salah satu pembuktian terbesar mereka tercatat pada PKB ke-39 tahun 2017. Kala itu, pada hari Senin, 26 Juni 2017, panggung Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, menjadi saksi pementasan lakon monumental bertajuk "Pranaraga". Lakon "Pranaraga" yang menyimbolkan penyatuan jiwa dan raga dalam kisah cinta Panji dibawakan dengan spektakuler. Tidak tanggung-tanggung, sanggar ini melibatkan lebih dari 50 seniman lintas generasi dalam satu panggung, mulai dari anak-anak berusia 9 tahun hingga berusia 70 tahun. Tantangan terberat justru diemban oleh generasi muda, yang dituntut fasih berdialog dalam Bahasa Kawi saat memerankan tokoh bangsawan, dan beralih ke Bahasa Bali saat menjadi Punakawan. Keberhasilan mereka menaklukkan kerumitan ini membuktikan bahwa transfer ilmu di Batuan berjalan sangat sukses.

Pementasan Drama Tari Gambuh oleh Sanggar Seni Satriya Lelana (Sumber Foto: Koleksi Redaksi)

Kualitas tempaan yang keras di Bali ini akhirnya membawa mereka terbang lebih tinggi. Pada Oktober 2024, Sanggar Seni Satriya Lelana terpilih mewakili Bali dalam Festival Budaya Panji 2024 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Mementaskan kembali lakon andalan "Pranaraga", mereka berhasil membuktikan kepada publik ibu kota bahwa kesenian klasik dari desa Batuan mampu tampil memukau dan relevan di panggung nasional.Kini, Sanggar Seni Satriya Lelana terus bergerak maju. Bagi mereka, panggung megah di Denpasar maupun Jakarta hanyalah bonus. Tujuan utamanya tetap sederhana: menanamkan rasa bangga di hati generasi muda Batuan, bahwa menjaga warisan leluhur adalah prestasi tertinggi yang tak ternilai harganya.